Berita

Politisi Senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Panda Nababan, dalam diskusi bertajuk "Pro-Kontra Gelar Pahlawan Soeharto", di Kantor Pengurus Besar Ikatan Alumni Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII), di Tebet, Jakarta Selatan, Minggu, 9 November 2025. (Foto: RMOL/Ahmad Satryo)

Politik

Korupsi Pertamina: Legislator PDIP Soroti Kelemahan Hukum Era Soeharto Jadi Akar Masalah

SENIN, 10 NOVEMBER 2025 | 14:33 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kasus-kasus korupsi yang terus terjadi di perusahaan minyak plat merah seperti Pertamina, dinilai sebagai konsekuensi langsung dari lemahnya penegakan hukum di masa pemerintahan Presiden ke-2 RI Soeharto.

Hal tersebut disampaikan Politisi Senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Panda Nababan, dalam diskusi bertajuk "Pro-Kontra Gelar Pahlawan Soeharto", di Kantor Pengurus Besar Ikatan Alumni Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII), di Tebet, Jakarta Selatan, Minggu, 9 November 2025.

Panda Nababan secara spesifik merujuk pada kasus korupsi yang melibatkan mantan Direktur Utama Pertamina, Ibnu Sutowo. Menurut Panda, kegagalan Soeharto mengambil tindakan tegas pada kasus tersebut menciptakan preseden buruk yang terus menginspirasi praktik korupsi hingga kini.


"Pertamina (terus berkasus) karena waktu Ibnu Sutowo diperiksa, sudah selesai diperiksa, sudah siap, tinggal diadukan ke pengadilan oleh Pak Harto tapi hilang, tidak ada," ujar Panda.

Panda menilai, keputusan untuk tidak mengadili kasus besar saat itu menjadi "inspiratif" bagi koruptor generasi berikutnya.

"Apa itu akibatnya? Menjadi inspiratif. Sampai detik ini, bulan yang lalu masih terangkat beberapa orang Pertamina (tersangka kasus korupsi)," sambungnya.

Menurutnya, jika saja Presiden Soeharto kala itu mengambil langkah tegas dan mengadili Ibnu Sutowo, rantai korupsi di perusahaan minyak tersebut kemungkinan besar tidak akan terulang hingga saat ini.

Oleh karena itu, Panda menegaskan bahwa rekam jejak terkait penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di era Soeharto harus menjadi pertimbangan serius bagi pemerintah saat ini dalam memutuskan pemberian gelar Pahlawan Nasional.

"Saya pikir masyarakat Indonesia juga sudah kritis, mengalami langsung," pungkas mantan jurnalis tersebut.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya