Berita

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.(Foto: RMOL/Alifia Dwi Ramandhita)

Bisnis

Insentif Besar, Tapi Minat Kredit Rumah Masih Lesu

RABU, 05 NOVEMBER 2025 | 10:28 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan keprihatinannya karena masyarakat masih belum banyak yang mau membeli rumah. 

Ia mengungkapkan, pemerintah telah mengucurkan dana besar untuk mendukung pembiayaan perumahan, tetapi nyatanya masyarakat tetap belum banyak yang tertarik membeli rumah. 

“Ini menggambarkan demand di sektor perumahan lemah sebetulnya, jadi saya pikir waduh gawat kita nih,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen, Jakarta, dikutip Rabu 5 November 2025. 


Pemerintah misalnya telah menyediakan pagu Rp25 triliun untuk penyaluran kepada masyarakat melalui sistem kredit/pembiayaan. Namun hingga September 2025, hanya realisasi Rp4,8 triliun atau sekitar 19 persen yang tersalurkan. Hal ini menunjukkan hambatan nyata dalam mendorong pembiayaan rumah masyarakat.

Selain itu, meskipun dana Rp200 triliun telah disuntikkan ke bank-Himbara (bank milik negara) untuk memacu pembiayaan, namun untuk segmen rumah masyarakat nampaknya berjalan lambat. 

Dari berbagai data terkini, ada beberapa kendala utama yang membuat pembelian rumah melalui kredit menjadi sulit:

1. Daya beli masyarakat melemah
Meski segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi pilihan utama, namun pertumbuhannya melambat. Misalnya pada Maret 2025 tumbuh hanya 8,89  persen yoy, turun dari sekitar 14,26  persen dari  tahun sebelumnya. Bahkan per Juni 2025 data menunjukkan pertumbuhan KPR mencapai 7,8 persen dari 14 persen di Juni 2024. 

2. Harga rumah relatif sangat tinggi terhadap penghasilan
Rata-rata harga rumah di Indonesia mencapai sekitar Rp18,3 juta per meter persegi, sedangkan rata-rata pendapatan tahunan masyarakat hanya sekitar Rp37,8 juta. Artinya, hampir setengah penghasilan setahun hanya cukup untuk membeli satu meter persegi rumah, kondisi yang membuat masyarakat sulit memiliki hunian layak.

Indonesia kini menempati posisi ke-4 sebagai negara dengan harga rumah paling tidak terjangkau di dunia pada 2024, menurut data Bestbrokers.

3. Suku bunga dan uang muka yang masih tinggi serta hambatan struktural
Survei Bank Indonesia (SHPR) dalam Kuartal I 2025 mencatat beberapa hambatan utama, yaitu kenaikan harga bahan bangunan,  suku bunga KPR, perizinan, uang muka KPR, dan beban perpajakan. Dengan kondisi tersebut, meski kredit tersedia, banyak calon pembeli yang terhalang oleh biaya awal atau persyaratan yang cukup berat.

4. Permintaan yang terbatas dan backlog yang besar
Porsi KPR terhadap total kredit nasional tercatat 10,16  persen pada Maret 2025. Sementara backlog rumah di Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 15 juta unit. Artinya, walaupun kebutuhan rumah besar, realisasi pembelian lewat kredit masih jauh dari optimal karena kombinasi hambatan di atas.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

APKLI Perjuangan Ajak Publik Siap Hadapi Bonus Demografi 2030

Rabu, 26 Agustus 2026 | 00:26

Fahira Idris Apresiasi RUU Perampasan Aset Bakal Disahkan Desember

Rabu, 26 Agustus 2026 | 00:10

Pernyataan Budi Arie Tak Harus Menjadi Polemik

Selasa, 25 Agustus 2026 | 23:54

BPOM Gratiskan Izin Edar UMK Pangan Olahan

Selasa, 25 Agustus 2026 | 23:30

PP KMHDI Tuntut Presiden Evaluasi Kemenhut, Kemendikdasmen, dan Bakom

Selasa, 25 Agustus 2026 | 23:15

Menavigasi Turbulent Ocean, Menjinakkan Rivalitas Great Powers, dan Mematahkan Clash of Civilizations di Era Presiden SBY

Selasa, 25 Agustus 2026 | 23:00

Ketum Gibranku: Relawan Solid Kawal Prabowo-Gibran hingga 2029

Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:59

Dua Tahun Warga Tegal Alur Pakai Jembatan Bambu, Dinas SDA Kena Semprot

Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:42

Menguji Relevansi Teladan Rasulullah di Tengah Krisis Etika Global

Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:40

Berbincang dengan Habib Rizieq

Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:20

Selengkapnya