Berita

Ketua Bidang Nelayan Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI), Muhammad Hafizul. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Nusantara

Nelayan Desak Pemerintah Perkuat Perlindungan di Musim Cuaca Ekstrem

SELASA, 04 NOVEMBER 2025 | 23:57 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Indonesia bersiap memasuki musim angin barat. Periode ini identik dengan cuaca buruk, gelombang tinggi, dan risiko besar bagi masyarakat pesisir. 

Menurut Ketua Bidang Nelayan Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI), Muhammad Hafizul dalam periode tersebut menjadi dampak cuaca ekstrem paling terasa oleh nelayan kecil yang masih mengandalkan peralatan tradisional.

“Ketika musim angin barat datang, banyak nelayan tidak bisa melaut karena gelombang tinggi. Hasil tangkapan menurun, alat tangkap rusak bahkan hilang. Belum lagi risiko kecelakaan di laut yang mengancam jiwa mereka,” ujar Hafiz akrab disapa dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa malam, 4 November 2025.


Ia menegaskan bahwa kondisi ini bukan hanya soal cuaca, tetapi juga menyangkut kesenjangan ekonomi di wilayah pesisir. Ketika nelayan tidak melaut, roda ekonomi keluarga berhenti berputar.

“Banyak nelayan kecil yang akhirnya tetap memaksakan diri melaut meski cuaca buruk, karena kalau tidak, keluarga mereka tidak bisa makan. Mereka lebih takut anaknya kelaparan daripada takut dengan badai di laut,” tutur Hafiz yang juga menjabat sebagai Ketua KPPMPI Gresik.

Meskipun pergi melaut, belum tentu meraih keuntungan. Hafiz yang juga merupakan nelayan bagan tancap menceritakan bahwa dalam sepekan terakhir, hasil tangkapan ikannya hanya cukup untuk kebutuhan makan keluarga dan menutup biaya bahan bakar. 

Pendapatannya berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per trip melaut, sementara modal untuk BBM saja mencapai Rp72 ribu.

“Untuk perahu saya beli solar tiga liter seharga Rp8.000 per liter, total Rp24.000. Lalu untuk genset penerangan di bagan, saya beli pertalite empat liter, harganya Rp12.000 per liter, jadi Rp48.000. Jadi modal BBM saja sudah Rp72.000,” bebernya. 

Dengan hasil yang pas-pasan, Hafiz mengaku kini melaut bukan lagi untuk mencari untung besar, melainkan sekadar bertahan dan membawa pulang sedikit ikan untuk lauk di rumah.

KPPMPI menilai saat inilah peran pemerintah seharusnya hadir secara nyata. Hafiz menyerukan agar perlindungan terhadap nelayan kecil diperkuat, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam.

Menurut Hafiz, bentuk perhatian pemerintah bisa diwujudkan melalui; bantuan bahan pokok bagi nelayan saat masa paceklik, pemantauan dan informasi cuaca yang diperbarui secara berkala dan mudah diakses, tim tanggap darurat kebencanaan di kawasan pesisir, serta pelatihan keselamatan dan perlindungan sosial bagi nelayan dan keluarganya.

“Nelayan adalah penyumbang protein penting bagi masyarakat Indonesia. Jika mereka tidak bisa melaut karena cuaca ekstrem, bukan hanya ekonomi pesisir yang terpukul, tetapi juga ketahanan pangan kita,” tambahnya.

Hafiz yang sudah mulai menjadi nelayan sejak usia remaja, dan mulai melaut sendiri sejak usia 20 tahun. Memahami betul bagaimana kerasnya hidup sebagai nelayan. 

Ia berharap agar pemerintah lebih aktif turun ke lapangan, mendengar suara para nelayan, dan memastikan mereka tidak dibiarkan berjuang sendirian menghadapi badai.

“Kami tidak meminta yang berlebihan. Kami hanya ingin pemerintah hadir ketika laut sedang tidak bersahabat,” pungkasnya.


Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

RI Dorong Status 742 Cagar Budaya Nasional Baru

Kamis, 03 September 2026 | 18:29

Di Forum Ekonomi Vladivostok, Prabowo Beberkan Alasan RI Tetap Jalankan MBG

Kamis, 03 September 2026 | 18:23

BGN ‘Berdosa’ Jika Biarkan Korban Keracunan MBG

Kamis, 03 September 2026 | 18:19

Profil Lionel Messi, Akhiri Karier Internasional dengan 125 Gol

Kamis, 03 September 2026 | 17:57

Prabowo Dorong Rute Langsung RI-Vladivostok untuk Perkuat Hubungan Ekonomi

Kamis, 03 September 2026 | 17:43

Anggaran MBG 2027 Capai Rp232,876 Triliun

Kamis, 03 September 2026 | 17:40

Kemenkop Tegaskan Anggaran Rp103 Miliar Bukan untuk Podcast

Kamis, 03 September 2026 | 17:35

Mantan Pemain Timnas Iwan Setiawan Meninggal Dunia, Ini Jejak Kariernya di Sepak Bola Indonesia

Kamis, 03 September 2026 | 17:25

IHSG-Rupiah Kompak Cerah Hari Ini

Kamis, 03 September 2026 | 17:23

Demo Kantor Agrinas Diduga Ditunggangi Oknum

Kamis, 03 September 2026 | 17:08

Selengkapnya