Berita

Ilustrasi. (Foto: ANTARA/Fakhri Hermansyah)

Publika

Sektor Riil dan Fondasi Ekonomi Nasional

MINGGU, 02 NOVEMBER 2025 | 04:18 WIB

BUKAN pasar saham, bukan pasar digital tetapi sektor riil yang menjadi motor utama dalam menentukan arah pembangunan ekonomi suatu negara. Begitu tesis ekonomi nasional kita. Jelas dan tegas. Artinya yang lain hanya komplementer.

Sektor riil artinya bukan sekadar kumpulan aktivitas produksi, tetapi cerminan dari sejauh mana negara mampu mengelola sumber daya nyata untuk kemakmuran bersama. Dalam Rancangan Undang-Undang Perekonomian Nasional, sektor riil dikembalikan ke posisi strategis sebagai fondasi ekonomi yang berpihak pada produksi dan kerja manusia, bukan pada spekulasi finansial.

Fokus utama kebijakan ini adalah memastikan bahwa produktivitas nyata menjadi sumber kesejahteraan warga negara, bukan permainan nilai atau kapital semu. Rancangan ini menegaskan bahwa dominasi sektor keuangan atas sektor riil harus dihentikan.


Ketergantungan pada pasar uang, saham, dan derivatif tanpa basis produksi telah menimbulkan apa yang disebut Joseph Stiglitz sebagai financialization trap, jebakan ekonomi di mana pertumbuhan tidak menciptakan lapangan kerja. Akibatnya, ekonomi tumbuh tanpa pemerataan, dan kekayaan terkonsentrasi di tangan segelintir pelaku finansial.

Dengan menempatkan sektor riil sebagai prioritas, negara mengembalikan logika pembangunan ekonomi ke prinsip “real productivity over speculative gain,” yaitu ekonomi yang tumbuh karena produksi barang dan jasa, bukan karena manipulasi instrumen keuangan.

Dalam kerangka Teori Keynesian, sektor riil menjadi instrumen utama stabilitas ekonomi. Keynes menegaskan bahwa pengeluaran agregat dan investasi sektor riil menentukan output nasional serta lapangan kerja. Karena itu, intervensi negara menjadi wajar dan perlu, terutama saat pasar gagal menyalurkan likuiditas ke kegiatan produktif.

Rancangan Undang-Undang Perekonomian Nasional memandatkan pemerintah untuk memperluas akses modal, mengarahkan pembiayaan ke sektor produktif, serta menjamin bahwa perbankan dan lembaga keuangan bekerja bagi pembangunan nyata, bukan bagi spekulasi jangka pendek.

Rancangan ini juga memuat prinsip Teori Kemandirian Ekonomi (Self-Reliance Theory) yang dikemukakan oleh Mahbub ul Haq (1934-1998) dan diperkuat oleh pemikiran Bung Hatta. Intinya, pembangunan ekonomi harus bertumpu pada kemampuan domestik dan tidak bergantung pada impor kapital maupun kebijakan korporasi asing.

Dengan logika ini, sektor riil menjadi arena kedaulatan nasional, di mana negara memastikan rantai nilai industri tidak dikendalikan oleh modal luar negeri. Nasionalisasi aset strategis, penguatan koperasi, dan hilirisasi industri adalah bentuk konkret dari teori ini dalam konteks Indonesia.

Reindustrialisasi yang ditekankan dalam rancangan tersebut merupakan implementasi dari Teori Tahap Pertumbuhan Ekonomi yang dikemukakan oleh Walt W. Rostow. Indonesia harus naik kelas dari tahap pre-condition for take-off menuju maturity, dengan menempatkan sektor riil sebagai penggerak pertumbuhan jangka panjang.

Hilirisasi industri, diversifikasi produk, dan penguatan daya saing domestik menjadi prasyarat agar ekonomi tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah. Dengan demikian, kebijakan industri bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan untuk mencapai self-sustained growth.

Rancangan ini juga menempatkan Koperasi dan UMKM sebagai pilar ekonomi nasional. Pendekatan ini konsisten dengan Teori Ekonomi Solidaritas (Solidarity Economy Theory) yang menekankan kolaborasi antar pelaku ekonomi, bukan kompetisi destruktif. Gotong royong, bukan gotong nyolong.

Dalam kerangka ini, koperasi menjadi alat pemerataan kepemilikan dan partisipasi warga negara dalam produksi nasional. Negara diwajibkan memperkuat kapasitas kelembagaan koperasi, memberikan akses modal murah, serta memastikan kemitraan yang adil dengan sektor swasta besar agar tercipta keseimbangan struktural.

Kebijakan sektor riil juga mengadopsi semangat Teori Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Theory) yang dikemukakan oleh Brundtland Commission (1987), yakni pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan generasi mendatang. Artinya, hilirisasi dan industrialisasi harus dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, efisiensi energi, dan penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab.

Dengan prinsip ini, pertumbuhan sektor riil tidak boleh mengorbankan daya dukung ekologis bangsa. Secara normatif, rancangan ini merupakan perwujudan keadilan sosial ekonomi sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi. Ekonomi yang berdaulat tidak lahir dari kebebasan pasar yang tanpa batas, tetapi dari keteraturan yang adil, terukur, dan berpihak pada produktivitas nasional.

Pemerintah dan kita semua memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk menjamin setiap warga negara mendapatkan kesempatan yang sama dalam berproduksi. Sektor riil menjadi instrumen untuk mengubah ekonomi konsumtif menjadi ekonomi produktif, sekaligus memperkuat kemerdekaan, kedaulatan dan kemandirian bangsa.

Yudhie Haryono dan Agus Rizal

Presidium Forum Negarawan dan Ekonom Universitas MH Thamrin

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Mensos: Tiga Korban Penganiayaan di Sekolah Rakyat Jember Kembali Belajar

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:30

Agrinas Palma Bareng CPP Peringati Sumpah Pemuda Lewat Giat Sosial

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KNMP Disiapkan untuk Dongkrak Pendapatan Nelayan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KoMPAS Minta Polri Bersihkan Oknum Bermasalah dari Jabatan Strategis

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:03

Kapolri Mutasi Lagi, Kapusdokkes dan Kapuskeu Diganti

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:55

Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos, Wanita Asal Sumut Dipolisikan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:44

Investasi Era Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun Serap 5,4 Juta Tenaga Kerja

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:43

BRI Fellowship Journalism 2026 Ajak Jurnalis Terlibat dalam Urban Farming di Bandung

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:33

Kasus ISPA di 7 Provinsi Turun Drastis Usai Diguyur Hujan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:17

Prabowo Gratiskan Biaya Sekolah dan Perluas Kampus SMA Taruna Nusantara

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:58

Selengkapnya