Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Dua Unsur Tua, Dua Harapan Baru

JUMAT, 31 OKTOBER 2025 | 23:02 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

ADA dua hal yang sejak awal penciptaan tidak pernah berhenti bekerja tanpa pamrih yakni air dan tanah. Dua unsur tua yang mungkin sudah bosan melihat manusia yang lebih pandai berdebat tentang cuaca ketimbang menanam pohon.

Dua elemen yang sejak firman pertama ditiupkan sudah jadi saksi kehidupan, “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup” (QS Al-Anbiya’: 30). Air adalah asal mula hidup, tanah adalah pangkuannya. Tanpa keduanya, bahkan janji Allah pun sulit menumbuhkan benih.

Namun lihatlah dunia hari ini dimana air asin yang menggunung di laut, tanah retak yang mengeluh di ladang. Laut melimpah, tapi manusia kehausan. Ladang luas, tapi bumi lapar.


Lalu datanglah teknologi baru yang mencoba mengingatkan bahwa menyembuhkan bumi bukanlah pekerjaan Ilahi semata. Tapi, itu juga tugas manusia yang diberi akal untuk meneliti.

Laporan Top 10 Emerging Technologies 2025 dari kolaborasi World Economic Forum dan Frontiers menggarisbawahi dua di antaranya yaitu regenerative desalination atau penyulingan air laut yang tidak merusak ekosistem dan soil health tech atau teknologi pemulihan tanah.

Keduanya tampak seperti proyek ilmiah di laboratorium, tapi sesungguhnya adalah doa yang sedang berubah wujud menjadi mesin.

Mari kita mulai dari air. Kalau dulu penyulingan air laut dikenal boros energi dan menghasilkan limbah garam yang mencemari, kini para ilmuwan menciptakan teknologi desalinasi regeneratif. Air laut diubah jadi air tawar menggunakan energi surya, dengan sisa garam yang bisa dimanfaatkan kembali untuk industri atau pertanian.

Hasilnya, bukan hanya air yang lahir kembali, tapi juga ekosistem pesisir yang ikut sembuh. Negara seperti Arab Saudi, Israel, dan Singapura telah menguji teknologi ini, mengubah gurun menjadi taman, dan laut menjadi sumur yang tak habis-habis.

Bayangkan jika Indonesia, negeri dengan 81.000 kilometer garis pantai, mengadopsi teknologi ini dengan pendekatan lokal dan memadukannya dengan energi angin di Nusa Tenggara, atau arus laut di Selat Sunda. Maka air tak lagi menjadi alasan gagal panen atau krisis. Ia bisa kembali menjadi rahmat, bukan musibah.

Lalu tanah yang merupakan unsur paling sabar sekaligus paling disalahgunakan. Tanah dulu adalah ibu, kini jadi korban. Setiap tahun jutaan hektare lahan subur kehilangan mikroorganisme hidupnya karena pupuk kimia dan pestisida.

Padahal di dalam segenggam tanah sehat, ada miliaran makhluk kecil yang bekerja tanpa gaji yaitu bakteri, cacing, jamur, semua mengubah sisa hidup menjadi kehidupan baru. Maka muncul gerakan soil health technology yang merupakan perpaduan bioteknologi, sensor, dan kecerdasan buatan untuk menghidupkan kembali kesuburan alami.

Teknologi ini tidak sekadar memberi pupuk, tapi “mendengarkan” tanah yakni mendeteksi kadar karbon, kelembapan, dan mikroba di bawah permukaan, lalu memberi rekomendasi presisi tentang apa yang dibutuhkan agar tanah kembali “bernapas”.

Di Kenya dan India, petani kecil mulai memakai alat ini dengan biaya murah, hasil panen naik, dan kualitas tanah membaik. Ini bukan keajaiban, hanya sains yang belajar dari alam.

Kalau kita mau jujur, manusia dan tanah itu sebetulnya punya hubungan spiritual yang dalam. Dari tanah kita diciptakan, ke tanah kita kembali. Dan Tuhan menyebut proses itu bukan sekadar siklus biologis, tapi tanda kebangkitan.

Firman Allah, “Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mati dari yang hidup, dan menghidupkan bumi setelah matinya” (QS Ar-Rum: 19). Artinya, teknologi yang menghidupkan tanah bukan cuma urusan pertanian, itu bentuk tafsir baru atas ayat kehidupan.

Bayangkan jika pesan ini dipahami secara ekosistem maka air yang diregenerasi memberi kehidupan bagi tanah, tanah yang sehat menumbuhkan pohon, pohon menahan air, dan bumi kembali berputar dalam harmoni.

Itulah bentuk circular ecology, bukan hanya circular economy. Kita tidak sekadar menutup siklus bahan, tapi menyambung lagi hubungan antara makhluk dan Pencipta.

Mungkin karena itu pula, al-Qur’an Surah As-Sajdah (7–9) menyebut penciptaan manusia dari tanah bukan sekadar asal-usul biologis, tapi panggilan spiritual bahwa dalam diri manusia ada unsur bumi yang harus dijaga. Maka menyelamatkan tanah dan air sesungguhnya adalah cara manusia menyelamatkan dirinya sendiri.

Kini pertanyaannya, apakah kita siap belajar dari dua guru tertua di bumi ini yakni air dan tanah? Air yang selalu turun ke bawah tapi tak pernah rendah, tanah yang diinjak tapi tetap menumbuhkan. Dalam era kecerdasan buatan, justru keduanya memberi pelajaran tentang kecerdasan alami.

Sains boleh datang dari laboratorium, tapi kebijaksanaan lahir dari bumi. Teknologi bisa mengolah air dan tanah, tapi hanya manusia yang bisa memaknainya. Karena pada akhirnya, regenerasi bukan sekadar proses fisik melainkan ia adalah kesadaran bahwa bumi bukan warisan, melainkan amanah.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Mafia Infrastruktur Diduga Kepung Menteri Dody Lewat Isu Miring

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:05

Menhan hingga Ketua Komisi I DPR Terima Brevet Korps Marinir

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:46

Ketimpangan Penduduk Meningkat, Gini Ratio Naik ke 0,368

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:22

Mahkamah Agung Diminta Evaluasi Ketua PN Jakarta Timur

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38

Gempa M 6,4 Guncang Kepulauan Talaud, Tidak Ada Korban Jiwa

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:31

Kader Golkar Wonosobo Ngadu ke DPP soal Dua Kali Musda

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:14

Di Balik Tribun Sunyi Piala Presiden, Puluhan Pecalang Jaga Harmoni El Clasico

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:09

Kisruh Diadukan ke Bahlil, Mafa Uswanas Diusulkan jadi Plt Ketum AMPI

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:50

Pergeseran Public Goods Sektor Kesehatan

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:40

BRAINS Demokrat Kolaborasi Bareng IRI Perkuat Demokrasi Lintas Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:17

Selengkapnya