Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Beton, Baja, dan Balok yang Tobat

KAMIS, 30 OKTOBER 2025 | 06:21 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KALAU ada yang paling setia pada manusia sejak zaman purba, mungkin bukan pasangan hidup, tapi batu bata. Ia hadir di setiap peradaban – dari piramida Mesir, tembok Tiongkok, sampai rumah BTN yang cicilannya bikin napas sesak selama 15-20 tahun. 

Tapi siapa sangka, justru benda bisu bernama beton ini diam-diam menjadi penyumbang 8 persen emisi karbon dunia. Ya, setiap gedung yang kita bangun, sebenarnya adalah “cerobong vertikal” yang menembakkan CO2 ke langit – tapi dengan gaya arsitektur minimalis dan AC sentral.

Padahal di balik semua itu, laporan kolaborasi World Economic Forum (WEF) dan Frontiers mengingatkan bahwa ada cara lain membangun tanpa merasa jadi perusak. Menata ruang tanpa menambah kerusakan. Mereka menamainya: green concrete – beton yang bertobat, dan mulai sadar bahwa ketahanan tak harus dibayar dengan kerusakan.


Mari kita jujur dulu: kita semua hidup di kota yang makin abu-abu, secara warna maupun batin. Hutan diubah jadi komplek, sawah dijadikan sirkuit, dan gedung menjulang seperti ego yang ingin memecahkan langit. Beton jadi lambang kemajuan, meskipun fondasinya adalah tanah yang kehilangan kehidupan.

Tapi kini, para ilmuwan sedang mengajarkan beton untuk menyesal. Ya, menyesal karena selama ini ia memuntahkan karbon. Cara tobatnya? Dengan mengganti semen – bahan pengikat utama – dari hasil pembakaran batu kapur, menjadi bahan sisa industri, seperti abu pembakaran, limbah baja, atau bahkan serbuk kaca daur ulang. 

Ada pula teknologi yang menyuntikkan CO2 langsung ke dalam campuran beton, menjebaknya di sana untuk selama-lamanya. Hasilnya: beton yang lebih kuat, tapi jejak karbonnya lebih ringan.

Bayangkan, suatu hari nanti, kota-kota tidak hanya menelan udara bersih, tapi menghirup dan menyimpan karbon. Bangunan bukan lagi monster rakus, tapi paru-paru baru bagi planet.

Tapi perubahan tak hanya soal bahan. Ia juga soal cara kita berpikir tentang ruang.

Dulu, arsitek berlomba membangun yang tinggi – seolah ketinggian gedung bisa menggantikan kedalaman nurani. Kini, arah baru arsitektur bukan lagi “ke atas”, tapi "ke dalam" – ke dalam tanah, ke dalam hati, ke dalam ekologi. Gedung masa depan bukan hanya hemat energi, tapi menghasilkan energi.

Atap bukan lagi tempat antena, tapi kebun surya. Dinding bukan lagi pemisah, tapi penyerap panas. Ventilasi bukan lagi akses udara, tapi jembatan kehidupan. Inilah arsitektur yang bukan hanya nyaman untuk manusia, tapi juga ramah bagi cacing, burung, dan mikroba.

Di Singapura, pemerintah mewajibkan setiap gedung tinggi menanam pohon di fasadnya. Di Belanda, ada proyek beton daur ulang yang menyimpan karbon lebih banyak daripada yang dikeluarkannya. 

Di Indonesia, kita punya rumah panggung yang sudah ramah lingkungan sejak nenek moyang – ventilasi alami, kayu lestari, tanpa semen. Tapi sayangnya, kita sering lebih bangga pada gedung kaca yang memantulkan panas dan menolak cahaya.

Padahal, kalau mau jujur, “modernitas” tak selalu sejalan dengan “kebijaksanaan.” Kadang justru arsitektur tradisional lebih hijau dari desain futuristik yang katanya pintar.

Rumah adat di Toraja, Minangkabau, atau Papua tidak sekadar indah, tapi adaptif terhadap alam. Ia tahu kapan menampung air, kapan membiarkannya meresap. 

Ia bukan menantang alam, tapi berdialog dengannya. Sebaliknya, arsitektur modern sering seperti anak muda yang keras kepala – ingin semua bisa dikontrol, termasuk suhu udara dan arah matahari.

Teknologi green concrete ini hanyalah simbol dari pertobatan besar yang sedang terjadi: bahwa pembangunan tidak harus berarti penghancuran. Bahwa kota masa depan tidak hanya diukur dari tinggi gedung, tapi dari rendahnya emisi. Bahwa keberadaban bukan diukur dari kemewahan ruang, tapi dari kejujuran bahan.

Kita butuh arsitektur yang berjiwa – yang tahu bahwa ruang bukan hanya untuk manusia, tapi juga untuk udara, tanah, dan air. Kota yang baik bukan yang megah, tapi yang bisa bernapas. Gedung yang baik bukan yang paling kuat menahan gempa, tapi yang paling lembut menjaga bumi.

Barangkali nanti, anak-anak kita akan berjalan di trotoar dari beton yang menyerap karbon, bukan menyemburkannya. Mereka akan berlindung di bawah gedung yang memanen hujan, bukan membuangnya ke got.

Dan mereka akan tinggal di rumah yang dingin bukan karena AC, tapi karena desain yang cerdas – rumah yang "berhati", bukan hanya ber-IMB.

Mungkin di situlah makna sejati dari kata "modern": bukan sekadar baru, tapi "membaik."

Kalau dulu beton adalah simbol kerasnya peradaban, kini ia sedang belajar menjadi lembut. Dan kalau manusia mampu mengajari batu untuk bertobat, maka tak ada alasan bagi manusia sendiri untuk terus keras kepala.

Karena di ujung semua pembangunan, bumi tidak menuntut kita jadi megah – ia hanya ingin kita jadi bijak.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya