Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Prabowo, Revolusi, dan Kembali ke UUD 1945 Asli

SENIN, 27 OKTOBER 2025 | 20:35 WIB

INDONESIA bukan negeri miskin. Indonesia bukan negeri lemah. Indonesia adalah negeri yang salah urus, negeri yang selama delapan dekade terakhir dikuasai oleh para penyamun, perampok, dan garong yang berseragam pejabat negara, berjas birokrat, dan berjas BUMN.

Mereka inilah para aktor pengkhianat bangsa yang telah menguras habis kekayaan negeri ini, menjadikan rakyat hidup sengsara di tengah karunia yang begitu melimpah.

Padahal, sejak proklamasi 17 Agustus 1945, Konstitusi asli UUD 1945 telah menegaskan dengan sangat jelas bahwa tujuan dibentuknya negara ini adalah “untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, serta untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.”


Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Rakyat tidak dilindungi, kesejahteraan tidak dimajukan, dan pendidikan menjadi barang mahal.

Indonesia diberkahi Allah dengan sumber daya alam yang tak tertandingi: minyak, gas, batubara, emas, nikel, hutan tropis, perkebunan, hasil laut, dan kekayaan alam lainnya. Semua ini seharusnya menjadikan rakyat Indonesia sejahtera tanpa harus dipungut pajak yang menindas. 

Negara seharusnya hadir sebagai penanggung kehidupan rakyat menyediakan pendidikan gratis, layanan kesehatan berkualitas, rumah layak huni, air bersih, dan listrik yang cukup bagi seluruh rakyat tanpa kecuali.

Tetapi kenyataannya? Semua BUMN yang menguasai hajat hidup orang banyak justru dijadikan sapi perahan oleh para pejabat busuk. Listrik dibayar rakyat setiap bulan tapi PLN tetap merugi. BBM dibayar tunai setiap kali rakyat mengisi tapi Pertamina terus tekor. Setiap tiket pesawat dibayar lunas tapi Garuda Indonesia menuju bangkrut.

Bahkan maskapai kebanggaan rakyat, Merpati Nusantara, telah lenyap dari langit Nusantara. Pelni pun tak luput dari jerat kerugian, sementara perusahaan pelayaran legendaris Djakarta Lloyd, yang dulu mengibarkan bendera merah putih di samudera dunia, kini tinggal nama dan kenangan.

Inilah bukti nyata bahwa negeri ini tidak miskin, tetapi dirampok secara sistematis dan dilegalkan oleh kebijakan yang menyeleweng. Uang rakyat habis bukan untuk pembangunan, tapi untuk menopang kebohongan, menutup kebobrokan, dan melindungi para koruptor kelas kakap yang bersarang di dalam sistem.

Puncak kehancuran tata kelola negara ini terjadi pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Oligarki merajalela, hukum dibungkam dan parat menjadi pelindung kejahatan. BUMN dijadikan lumbung kekayaan pribadi dan politik. Negara kehilangan arah karena dikelola dengan paradigma korporasi, bukan dengan nilai-nilai Konstitusi UUD 1945.

Kini, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, bangsa ini memiliki satu kesempatan terakhir untuk menyelamatkan diri dari jurang kehancuran. Prabowo bukan hanya dihadapkan pada tanggung jawab pemerintahan, tetapi pada misi sejarah untuk mengembalikan Indonesia kepada cita-cita pendirinya–negara yang berdaulat, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang asli.

Bangsa ini tidak butuh pemimpin pencitraan. Bangsa ini tidak butuh pejabat pandai berbohong. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang berani menumpas semua bentuk pengkhianatan terhadap rakyat dan negara, dengan tindakan nyata, bukan janji kosong.

Sudah cukup rakyat disuruh bersabar. Sudah cukup bangsa ini dikorbankan atas nama “pertumbuhan ekonomi” yang hanya menguntungkan segelintir elite. Sudah cukup hukum dijadikan alat kekuasaan untuk membungkam kebenaran. Kini saatnya revolusi tata kelola negara dimulai.

Saatnya membersihkan seluruh aparatur pemerintahan dari para penyamun yang bersarang di BUMN, kementerian, dan lembaga negara. Saatnya seluruh kekayaan alam Indonesia dikembalikan untuk kemakmuran rakyat Indonesia, sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi:

“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

Jika konstitusi asli ditegakkan, rakyat akan makmur. Jika kedaulatan sumber daya alam dikembalikan kepada negara, bangsa ini akan berdiri tegak. Dan jika keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu, Indonesia akan benar-benar menjadi negara besar yang disegani di dunia.

Inilah momentum kebangkitan Indonesia. Kepemimpinan Prabowo Subianto harus menjadi gerbang pembalikan sejarah, dari negeri salah urus menuju negeri yang berdaulat, adil, dan sejahtera. Seluruh rakyat harus bersatu, bergandengan tangan, dan mendukung perubahan besar ini.

Karena bangsa ini tidak boleh terus menjadi korban keserakahan para penguasa.
Sudah saatnya Indonesia berdiri tegak di atas kaki sendiri dengan semangat asli para pendiri bangsa dan berlandaskan Konstitusi UUD 1945 yang sejati.


Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla
Purnawirawan TNI AL, pemerhati masalah kebangsaan


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

BKSAP DPR Dukung Menlu Arrmanatha Perkuat Diplomasi Bebas Aktif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:26

Korea Utara Uji Coba Rudal Berteknologi AI, Terbang Sejauh 1.000 Km

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:10

Kuota Internet Kok Masih Hangus? Ini Penjelasan Komdigi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:01

Banggar DPR Tekankan Disiplin Fiskal di Tengah Belanja Negara Rp4.106 Triliun

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:53

RUU Migas Ditargetkan Rampung 22 Oktober, DPR Ingatkan Pembahasan Harus Cermat

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:13

Kemenko PM Dorong Kolaborasi Dunia Usaha untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:09

Rangkap Jabatan Bahlil Harus Dimaksimalkan untuk Selaraskan Kebijakan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:05

KPK Ungkap Ada Setoran dari Kantah ke Tingkat Pusat ATR/BPN

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:36

Sequis Life Digugat Rp1,27 Miliar ke PN Jakarta Selatan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:28

AS Usir Dua Delegasi Iran Setelah Sidang Umum PBB

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:17

Selengkapnya