Berita

Ilustrasi.(Foto: artificial intelligence)

Publika

Umrah Naik Kapal Pesiar

JUMAT, 24 OKTOBER 2025 | 15:06 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

BAYANGKAN sebuah kapal mewah raksasa mengarungi Samudra Hindia, layar digital di dek menampilkan peta menuju Tanah Suci, dan para jamaah mengenakan ihram sambil mendengar tausiyah dari Ustaz Abdul Somad di tengah semilir angin laut.

Bukan film, bukan mimpi. Ini nyata: Malaysia memulai babak baru dalam sejarah ibadah modern dengan meluncurkan “Aroya Islamic Cruise”, pelayaran umrah mewah pertama di Asia Tenggara. Biaya normalnya Rp 58 juta.

Selama 16 hari 15 malam, kapal itu berlayar menelusuri rute bersejarah para jemaah haji dahulu kala. Ia memulai dari Port Klang, Malaysia, kemudian melintasi beberapa kota penting seperti Banda Aceh, Maladewa, Oman, dan berakhir di Jeddah. Di setiap pemberhentian, penumpang diajak menjelajahi warisan budaya dan sejarah Islam.


Pendiri CRU Islam International, Suhaimi Abdul Ghaffar, dengan bangga menyebut inisiatif ini bukan sekadar bisnis, tapi “ibadah yang berlayar”. Ia menghidupkan kembali tradisi para hujjaj yang dulu berangkat dari Nusantara dengan kapal dagang dan layar kayu, menempuh perjalanan berbulan-bulan demi satu kata: Labbaik.

Kapal pesiar mewah ini berada di bawah naungan Public Investment Fund, Saudi Arabia, yang proyeknya dipimpin langsung oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Ia dilengkapi 27 restoran halal, balkon luas yang menghadap laut, serta area spiritual yang membuat perjalanan terasa seperti “rumah” bagi para jemaah.

Apa yang dilakukan Malaysia ini sebenarnya bukan hal baru. Justru, kalau boleh jujur, kita yang tertinggal dari jejak sejarah sendiri. Indonesia pernah memiliki armada laut pengangkut haji yang legendaris, dari Kapal Haji Kuala, Tampomas, hingga KM Gunung Jati, yang menyeberangi Samudra dengan gagah membawa ribuan jemaah dari Tanjung Priok ke Jeddah.

Kala itu, berangkat haji lewat laut bukan hal mewah, tapi justru simbol perjuangan iman. Perjalanan bisa memakan waktu berminggu-minggu, bahkan bulanan, penuh kisah haru, doa, dan persaudaraan lintas suku.

Tapi ironisnya, saat dunia kini punya kapal pesiar berfasilitas masjid terapung dan studio dakwah, Indonesia malah berhenti berlayar.

Padahal, kalau bicara potensi, kita punya segalanya: garis pantai terpanjang kedua di dunia, ratusan pelabuhan aktif, dan sejarah pelayaran yang lebih tua dari banyak bangsa. Namun seperti banyak hal lainnya, yang hilang bukan kemampuan, melainkan kemauan dan visi.

Mari kita lihat dari sisi ekonomi. Malaysia memproyeksikan 6.000 wisatawan per tahun dari konsep ini, 70 persen di antaranya turis internasional. Itu artinya, bukan hanya tiket kapal yang laku, tapi juga efek berganda: pariwisata halal, ekonomi lokal, dan citra negara muslim progresif.

Lihat bagaimana Aroya Islamic Cruise menggandeng lembaga-lembaga umrah resmi seperti Andalusia Travel, J Ibrahim Travel, hingga Dana Perjalanan Haji. Setiap pihak mendapat peran, dari logistik, dakwah, hingga promosi spiritual. Ini bukan hanya perjalanan fisik, tapi ekosistem baru yang menyatukan ibadah dan industri maritim.

Sementara Indonesia masih sibuk membahas kuota haji, Bipih, dan daftar tunggu yang bisa sampai 40 tahun ke depan. Mungkin sudah saatnya kita berhenti menunggu pesawat, dan mulai membangun kapal.

Kisah pelayaran haji Nusantara bukan sekadar nostalgia. Itu bukti bahwa bangsa ini pernah mandiri dalam urusan logistik ibadah. Dari pelabuhan Aceh, Banten, dan Surabaya, ribuan jamaah pernah berangkat dengan kapal yang dikelola sendiri, bukan disewa dari asing.

Kini, dengan teknologi perkapalan modern, keamanan laut yang lebih baik, dan minat masyarakat terhadap wisata religi yang semakin tinggi, Indonesia seharusnya bisa melampaui Malaysia.

Bayangkan kapal “Umrah Nusantara” berangkat dari Belawan, Surabaya, dan Makassar. Di dalamnya, jemaah tak hanya beribadah, tapi juga belajar sejarah Islam di Samudra Hindia, menelusuri rute perdagangan dan dakwah Wali Songo, serta meneguhkan kembali identitas maritim Islam Nusantara.

Bukankah ini sejalan dengan cita-cita “Poros Maritim Dunia” yang pernah digembar-gemborkan? Tapi poros itu kini lebih sering terdengar di seminar daripada di laut.

Pelayaran umrah bukan hanya alternatif transportasi. Ia simbol peradaban. Bahwa ibadah bisa dilakukan dengan semangat eksplorasi, inovasi, dan keberanian.

Malaysia telah menyalakan lentera pertama. Pertanyaannya: apakah Indonesia mau menyalakan yang kedua?

Untuk memulai, kita tak perlu langsung membeli kapal pesiar megah. Cukup menghidupkan kembali sinergi antara BUMN pelayaran, Kementerian Haji, dan turisme halal swasta. Bayangkan kalau Pelni, Garuda, dan BPKH duduk satu meja. Bukan tidak mungkin sepuluh tahun ke depan, jemaah dari Surabaya bisa berangkat umrah lewat laut, dengan tiket terjangkau dan pengalaman berharga.

Walhal, laut bukan penghalang bagi orang beriman. Ia hanya jalan panjang menuju rumah Tuhan. Dulu, para ulama dan jamaah dari Nusantara menempuhnya dengan layar kayu dan doa di bibir ombak. Kini, dengan kapal baja dan navigasi satelit, apakah kita justru kehilangan nyali untuk berlayar?

Barangkali inilah waktunya Indonesia kembali menatap laut bukan sebagai pemisah, tapi sebagai penghubung ziarah. Sebab yang membedakan bangsa besar dari bangsa biasa bukan seberapa jauh ia terbang, tapi seberapa berani ia berlayar.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya