Berita

Pakar lingkungan sekaligus dosen Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Nusantara

Jangan Jadikan Ilmu Lingkungan Alat Kebijakan Pembangunan

KAMIS, 23 OKTOBER 2025 | 09:43 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pakar lingkungan sekaligus dosen Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menegaskan bahwa Ilmu Lingkungan tidak boleh diposisikan di bawah atau dinaungi oleh program Pembangunan Berkelanjutan. 

“Menempatkan Ilmu Lingkungan di bawah pascasarjana atau fakultas Pembangunan Berkelanjutan bukan bentuk sinergi, melainkan subordinasi konseptual yang justru melemahkan kedalaman ilmiahnya,” ujar Mahawan lewat keterangan resminya yang diterima redaksi di Jakarta, Kamis, 23 Oktober 2025.

Ia menjelaskan, persoalan tersebut bukan sekadar urusan struktur akademik, melainkan menyangkut paradigma ilmu itu sendiri. 


Mahawan memaparkan, Ilmu Lingkungan berakar pada sustainability science dan general system theory, yang memandang bumi sebagai satu sistem kehidupan utuh di mana manusia hanyalah bagian dari jejaring ekosistem.

“Ilmu Lingkungan bersifat integratif dan ekosentris. Fokusnya bukan hanya pembangunan, tapi menjaga keseimbangan antara sistem alam dan budaya manusia agar bumi tetap lestari,” jelasnya.

Sebaliknya, Pembangunan Berkelanjutan, merupakan turunan dari teori pembangunan yang bersifat normatif dan aplikatif, dengan orientasi pada kebijakan, tata kelola, dan inovasi ekonomi.

“Paradigmanya masih antroposentris, manusia mengelola alam untuk keberlanjutan hidupnya. Sementara Ilmu Lingkungan bersifat earth-centered, menempatkan manusia sebagai bagian dari sistem bumi, bukan penguasa atasnya,” paparnya.

Mahawan mengingatkan, bila Ilmu Lingkungan ditempatkan di bawah payung Pembangunan Berkelanjutan, maka pendekatan ilmiah yang sistemik bisa tereduksi menjadi sekadar instrumen kebijakan pembangunan.

“Kita akan kehilangan otonomi ilmiah yang sangat penting. Alam akan dilihat semata-mata dari sisi ekonomi dan utilitas manusia,” ujarnya.

Ia menegaskan, hal tersebut bertentangan dengan semangat sustainability science yang justru berupaya menjaga harmoni antara kehidupan manusia dan sistem pendukung kehidupan bumi.

“Ilmu Lingkungan seharusnya menjadi penjaga keberlanjutan bumi, bukan pelayan kebijakan pembangunan,” tutup Mahawan.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya