Berita

Ilustrasi. (Foto: GRID ID)

Publika

Perayaan Perlawanan Ekonomi

SABTU, 18 OKTOBER 2025 | 04:10 WIB

MERASAKAN jeda. Tetapi jeda ini terlalu panjang. Terlebih, rintik hujan tak henti-henti. Kami terjebak limbo di Bandara Kualanamu, Medan. Aku hendak menghadiri temu ekonom muda dalam perayaan perlawanan.

Apa yang dilawan? Dua proyek besar: denasionalisasi dan deindonesianisasi. Tentu saja ini kerja raksasa. Lebih tepatnya, kerja peradaban. Dan, dalam perayaan itu harus ditegaskan "tidak tergantung pada kemenangan dan kursi."

Tentu, karena hidup keren bisa dinikmati dan dirayakan tanpa harus jual diri. Tanpa harus menjilat dan menghamba; tidak wajib merubah merdeka jadi budak dan gedibal.


Ini semua berkebalikan dengan penyembah kursi, hamba kuasa. Merekalah yang selama 50 tahun dilakukan oleh para ekonom neoliberalis di seputar istana: Bappenas, Kemenkeu dan Bank Indonesia.

Mereka yang membuat indonesia jadi negara predator. Negara (elite) yang menggunakan kekuasaannya untuk mengeksploitasi dan memangsa sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) untuk kepentingan kelompok tertentu.

Di negara predatoris, korupsi, kolusi, nepotisme, dan penyalahgunaan wewenang menjadi tradisi. Defisit akuntabilitas dan bertindak sewenang-wenang tanpa konsekuensi menjadi menu sehari-hari.

Pelanggaran hak asasi manusia (HAM), penindasan terhadap oposisi, pembatasan kebebasan, dan kekerasan terhadap masyarakat sipil jadi kurikulum harian.

Peningkatan kemiskinan, pengangguran dan kesakitan sangat signifikan. Bahkan, penghancuran ketiganya "bukan tujuan." Kurikulumnya justru pelanggengan. Menjijikkan sekali.

Tentu saja, ekonom gelap (neoliberal) tidak bisa menerangi ekonomi Indonesia yang gelap. Kegelapan yang memastikan terciptanya negara predatoris. Sebab, yang bisa menerangi ekonomi gelap hanya ekonom terang (Pancasila).

Setelah bertemu pasukan, perjamuan dan perayaan perlawanan ekonomi, kertas kerja disepakati: sejarah di kita, seidealis apapun orangnya bila ketemu kepentingan diri, keluarga dan gengnya, maka banyak yang runtuh jiwanya.

Menghadapi realitas itu, setidaknya kami pilih "mati dengan terhormat." Agar DNA patriotisme dan jiwa revolusioner tidak punah dan redup di negeri kita ini.

Bila patriotisme punah, yang tersisa hanya hitung-hitungan untung-rugi. Lalu, negeri ini bakal jadi pasar tanpa jiwa, tempat orang saling jual harga diri demi posisi.

Tanpa patriotisme, bangsa cuma nama di peta, bukan rumah tempat tertawa bersama dan kaya bersama: bukan negeri pancasila. Bukan baldah toyyibah. Bukan negeri yang diimpikan para pendirinya.

Menjadi subjek kerja peradaban ini, mari kita kutip nasihat sastrawan besar republik Indonesia, Suryaesa (2025), "idealis yang tak pernah belajar mengalah, akhirnya kalah oleh dirinya sendiri. Tapi, idealis yang bisa menunduk tanpa tunduk, dialah yang benar-benar tegak."

Yudhie Haryono 
CEO Nusantara Centre


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya