Berita

Dr. Teguh Santosa di Pyongyang, Korea Utara (Foto: RMOL)

Publika

Menunggu Parade Militer Korea Utara

SELASA, 07 OKTOBER 2025 | 21:36 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

SAYA kembali menginjakkan kaki di Pyongyang, Republik Rakyat Demokratik Korea yang lebih dikenal sebagai Korea Utara. Ini kunjungan saya yang kesekian belas sejak kunjungan pertama di tahun 2003. 

Sejak pukul 03.00 dinihari kami sudah berada di check-in counter Air Koryo di Terminal 2 BCIA. Pesawat Antonov AN148-100B yang dioperasikan Air Koryo tinggal landas dari Beijing Capital International Airport (BCIA) persis pukul 06.21 pagi, Selasa, 7 Oktober 2025. 

Setelah terbang selama hampir dua jam Antonov mendarat mulus di Bandara Kim Il Sung.


Kedutaan Besar RRD Korea di Jakarta yang saya hubungi malam sebelumnya mengatakan penerbangan pagi tadi adalah penerbangan tambahan untuk membawa tamu yang akan menghadiri peringatan HUT ke-80 Partai Pekerja Korea tanggal 10 Oktober nanti. 

Dalam perjalanan dari Bandara Kim Il Sung menuju Hotel Koryo di pusat kota, kami melewati Kim Il Sung Square. Di sana ribuan anak Korea berbagai usia sedang berlatih untuk tampil dalam puncak perayaan HUT ke-80 Partai Pekerja Korea. Berbaris rapi mengenakan topi putih, mereka membawa bendera merah dan mengibaskannya ke udara. 

Saya kira, RRD Korea juga sedang menyiapkan parade militer yang seperti biasa akan berlangsung megah dan kolosal.

Saya sedang bersiap-siap untuk membandingkan parade militer itu dengan beberapa parade militer yang kita saksikan belakangan ini. Seperti parade militer Bastille Day di Paris pertengahan Juli, lalu parade militer 80 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua di Beijing awal September, dan parade militer HUT ke-80 TNI di Silang Monas tanggal 5 Oktober kemarin.

Tapi menurut Mr. Kim yang mendampingi kami kali ini, aktivitas di puncak acara peringatan HUT ke-80 Partai Pekerja belum bisa dipastikan. Seperti biasa, pemberitahuannya baru akan disampaikan di saat-saat terakhir. Bila malam menjelang hari H ada telepon yang meminta kami tidak membawa apa pun di kantong, berarti akan ada parade militer, dan Presiden Kim Jong Un akan hadir.

Jadi kita tunggu saja.

***

Setelah makan siang, kegiatan pertama kami adalah mengunjungi rumah kelahiran Kim Il Sung di Mayongdae. Di era Joseon, Mayongdae yang indah adalah kawasan elit tempat keluarga kaya raya membangun vila juga kuburan keluarga.

Pada 1862, kakek dan nenek Kim Il Sung mulai menetap di Mayongdae, bukan sebagai keluarga kaya yang memiliki vila mewah, tetapi sebagai penjaga pemakaman keluarga kaya di sana. 

Kim Il Sung lahir tahun 1912. Di tempat itu dia belajar arti hidup di bawah penjajahan bangsa asing, yakni Jepang yang sejak akhir abad ke-20 telah menguasai seluruh Semenanjung Korea dan membubarkan Dinasti Joseon.

Untuk memulai perlawanan terhadap Jepang, Kim Il Sung dibekali kakeknya dua pucuk pistol. 

Pemerintah Korea Utara merawat dengan baik rumah kakek dan nenek Kim Il Sung di Mayongdae. Perabotan rumah, meja dan berbagai alat pertukangan dan pertanian, juga alat memasak masih terpelihara. Begitu juga "gentong cacat" yang dibeli nenek Kim Il Sung karena harganya murah.

Sebuah prasasti ditempatkan di dekat sebatang pohon. Saya tanya guide yang mendampingi kami kali ini. Katanya, prasasti itu bercerita tentang bocah Kim Il Sung yang memanjat pohon untuk menangkap pelangi.

Tak jauh dari "rumah revolusi" ada sumur yang konon airnya berkhasiat membuat muda siapapun yang meminumnya. Kami jajal khasiat air sumur itu.

***

Di lobi Hotel Koryo saya bertemu dengan KUAI KBRI Pyongyang, Riza H. Wardhana yang sedang menerima rombongan Kementerian Luar Negeri RI yang tiba dengan penerbangan kedua dari Beijing. 

Rombongan Kemlu ini adalah tim pendahulu untuk menyambut Menteri Luar Negeri Sugiono yang akan menghadiri puncak peringatan HUT ke-80 Partai Pekerja Korea. 

Seorang teman mengatakan, Menlu Sugiono hadir dalam kapasitas sebagai Sekjen Partai Gerindra. Juga disebutkan pemimpin partai penguasa sejumlah negara juga akan hadir dalam peringatan HUT Partai Pekerja Korea.

Partai Pekerja Korea terbilang unik. Sebagai partai marxis, Partai Pekerja Korea tidak hanya mengakui unsur palu dan clurit, tapi juga memberi tempat terhormat pada unsur kuas atau pena yang melambangkan kelas intelektual di tengah masyarakat. 

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa revolusi Korea Utara berjalan di atas tiga pondasi ini: kelompok buruh, kelompok tani, dan kelompok intelektual.

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

UPDATE

Banjir, Macet, dan Kemiskinan di Jakarta Mendesak Dituntaskan

Senin, 23 Februari 2026 | 06:07

Jokowi Memang sudah Selesai, Tapi Masih Ada Gibran dan Kaesang

Senin, 23 Februari 2026 | 05:39

Tiga Waria Positif HIV Usai Terjaring Razia di Banda Aceh

Senin, 23 Februari 2026 | 05:28

Penakluk Raksasa

Senin, 23 Februari 2026 | 05:13

Kisah Tragis Utsman bin Affan: 40 Hari Pengepungan, Satu Mushaf Berdarah

Senin, 23 Februari 2026 | 04:26

Kebangkitan PPP Dimulai dari Jabar

Senin, 23 Februari 2026 | 04:10

Prabowo Tak Beruntung terkait Tarif Trump

Senin, 23 Februari 2026 | 04:05

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Tembok Ratapan Solo Jadi Potret Wajah Kekuasaan Jokowi yang Memudar

Senin, 23 Februari 2026 | 03:27

Persib Kokoh di Puncak Klasemen Usai Tekuk Persita 1-0

Senin, 23 Februari 2026 | 03:00

Selengkapnya