Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Katalog Impor MBG (3)

RABU, 01 OKTOBER 2025 | 05:59 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

SAYA harus jujur: banyak ilmu gizi yang saya serap bukan dari brosur Puskesmas atau iklan susu beruang di televisi, melainkan dari seorang dokter yang sering tampil lugas dan tajam: dr Tan Shot Yen. Kata-katanya di televisi, dalam tulisan maupun bukunya, melekat di kepala saya seperti jingle iklan yang tak bisa hilang. Pesannya konsisten: gizi terbaik itu berasal dari alam, dari bumi tempat kita berpijak. Bukan dari pabrik tepung, bukan dari pabrik gula.

Itulah yang membuat saya mengangguk sambil tersenyum getir ketika ia hadir di DPR dalam rapat dengar pendapat soal Makan Bergizi Gratis (MBG). Seperti guru besar turun gunung, akhirnya ada yang bicara tentang politik gizi. Tapi apa yang ia ungkapkan bikin dahi mengernyit: program yang katanya dirancang untuk mencerdaskan anak bangsa, ternyata justru menjadi festival impor.

Bayangkan, mulai dari piring atau nampan tempat makannya saja harus diimpor dari China. Bahkan pernah heboh karena diduga ada kandungan babi di bahan plastiknya. Lalu, apa yang disajikan di atas piring impor itu? Hampir semuanya pun impor: beras kita masih kekurangan, garam pun ironisnya pernah impor, kedelai untuk tahu-tempe datang dari Amerika, gandum jelas bukan produk tanah air, kacang sampai susu bubuk pun bergantung pada pasar global. Negeri ini katanya subur makmur, tapi isi kotak makan anak sekolah malah seperti katalog impor.


Anak-anak diberi burger, padahal gandum tak tumbuh di negeri khatulistiwa ini. Ada spageti dan bakmi kekinian, minuman bergula dari tepung dan sirup asing, bahkan chicken katsu dengan daging impor beku. Susu pun ikut dijejalkan, padahal sejak Permenkes 2014, Indonesia sudah resmi meninggalkan dogma “empat sehat lima sempurna.” 

Apalagi secara biologis, 80 persen etnis Melayu intoleran laktosa. Hasilnya? Anak-anak malah mencret berjamaah. Itulah komedi pahit pembangunan: negara sibuk memberi gizi, tapi yang diterima justru antrean ke toilet.

Dan jangan lupa, di beberapa daerah ada laporan menu MBG berisi ayam mentah hingga belatung. Kalau sudah begini, apakah bukan lebih pantas disebut “Makan Belatung Gratis”? Slogan MBG jadi semacam satire: mau sehat malah sakit, mau cerdas malah dicekoki pangan impor yang bikin perut berontak.

Dokter Tan dengan tegas menawarkan solusi: Ganti 80 persen menu MBG dengan pangan lokal sesuai kearifan setempat. Anak Papua bisa makan ikan kuah asam, anak Jawa bisa makan sayur lodeh, anak Sulawesi bisa makan kapurung, anak Minang bisa gulai ikan. Bukankah itu jauh lebih bergizi, sekaligus jadi etalase kuliner nusantara?

Tan berteriak meminta dan memohon dengan sangat: hentikan pangan olahan kering, hentikan ultra-processed food, hentikan mitos susu sebagai penyelamat. 

Di sini persoalan MBG bukan sekadar “Isi Piringku”, melainkan soal kedaulatan pangan. Apa artinya merdeka jika isi kotak makan anak sekolah masih impor? Apa artinya bonus demografi kalau generasi emas justru dibesarkan dengan burger, mi instan, dan susu bubuk asing?

Kritik dr Tan ini harus kita baca sebagai alarm politik, bukan sekadar catatan teknis seorang ahli gizi. Gizi yang salah arah itu hutang jangka panjang: nanti dibayar dengan generasi yang lemah, gampang sakit, dan malas berpikir.

Tapi, seperti sering terjadi, tragedi di negeri ini nyaris selalu berbalut komedi. DPR bisa saja mengangguk-angguk mendengarkan, lalu pulang santai makan burger di kantin Senayan. Publik bisa ramai di media sosial, tapi tetap memesan bakmi instan lewat aplikasi ojol. Semua seperti drama absurd: negeri agraris yang menaruh masa depannya di atas nampan plastik impor.

Namun jangan lupa, sejarah kadang tak butuh senjata. Bung Karno bisa proklamasi kemerdekaan hanya dengan selembar kertas di teras rumah. Maka mengapa kita tak bisa memproklamasikan kemerdekaan gizi dengan selembar panduan menu sehat di sekolah? Kadang, revolusi cukup dimulai dari isi piring.

Dan di sinilah ironi itu tertawa di wajah kita: program bernama Makan Bergizi Gratis justru menghadirkan pangan tak bergizi, bahkan berisiko gratis masuk rumah sakit. Kalau bukan tragedi, lalu apa? Tapi kalau tidak ditertawakan, bagaimana kita bisa tetap waras?

Penulis adalah wartawan senior


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Ketua KNPI Merauke Ajak Generasi Muda Berkontribusi bagi Kemajuan Daerah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 04:19

Kedaulatan Teknologi Faktor Penting Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:55

PKS Desak Pemerintah Bersikap Proporsional Terkait MSCI

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:25

Solusi Kasus Business Judgement Rule Sektor Perumahan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:57

Waka BRIN Pimpin Delegasi RI Perjuangkan Space Economic di Konferensi PBB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:32

Pertamina Didorong Ambil Alih Proyek Migas Mangkrak Demi Genjot Produktivitas

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:12

KPK Endus Ada Kickback Vendor kepada Pejabat BNPB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:59

Presiden PKS Wanti-wanti Bahaya AI sebagai Senjata Fitnah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:34

Masih Atur Waktu, KPK Bantah Ada Kendala dalam Pemanggilan Nusron

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:04

Polri Utamakan Pendekatan Humanis dan Edukatif Selama Operasi Patuh 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:42

Selengkapnya