Berita

Ilustrasi (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Dolar AS Menguat, Pound Sterling Tertekan

SABTU, 20 SEPTEMBER 2025 | 07:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kurs Dolar Amerika Serikat (AS) menguat, melanjutkan rebound terhadap sebagian besar mata uang utama. 

Penguatan ini terjadi setelah keputusan bank sentral memangkas suku bunga sesuai perkiraan, tetapi menegaskan tidak terburu-buru untuk segera menurunkan biaya pinjaman dalam beberapa bulan mendatang. 

Indeks Dolar AS (Indeks DXY) yang melacak pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,3 persen ke 97,662 pada penutupan perdagangan Jumat 19 September 2025.


Indeks DXY sempat turun 1 persen di awal pekan ini, karena dorongan ekspektasi bahwa The Fed akan melakukan pemangkasan segera. Namun, indeks tersebut mendatar untuk sepanjang pekan.

Mata uang Poundsterling melemah setelah angka pinjaman Inggris melonjak melewati perkiraan resmi. 

Pound menjadi salah satu mata uang G10 dengan kinerja terburuk, mencerminkan kekhawatiran investor bahwa Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves mungkin kesulitan menjaga anggaran tetap terkendali. 

Terakhir, Pound Sterling turun 0,6 persen ke 1,3468 Dolar AS, menuju penurunan dua hari terbesar sejak awal April.

Penjualan ritel Inggris naik 0,5 persen selama Agustus, lebih tinggi dari perkiraan. Namun, angka pinjaman - yang tertinggi untuk lima bulan pertama tahun fiskal sejak 2020 - bisa membuka jalan bagi kenaikan pajak lebih lanjut.

Dolar Selandia turun 0,4 persen, sehari setelah data ekonomi yang sangat lemah mendorong imbal hasil obligasi anjlok dan meningkatkan spekulasi pemangkasan suku bunga yang lebih agresif. 

Yen stabil di 147,975 per Dolar setelah bank sentral Jepang menahan suku bunga. 

Perbedaan suara dari dua anggota dewan terhadap keputusan mempertahankan suku bunga mengejutkan pasar dan kembali memicu fokus pada seberapa cepat BOJ akan menaikkan suku bunga berikutnya.

Pasar memperkirakan, pertemuan bank sentral Jepang berikutnya pada 30 Oktober akan menjadi peluang terbaik untuk kenaikan suku bunga di sisa 2025.

Namun, ada kegelisahan, pasar menantikan dengan cemas apakah jalur kebijakan BOJ akan terpengaruh oleh pemilihan kepemimpinan Partai Demokrat Liberal Jepang pada 4 Oktober untuk menggantikan Perdana Menteri Shigeru Ishiba yang akan lengser.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Tiga Tantangan Utama Ekonomi Global Menurut IMF: Energi, Utang, dan Teknologi AI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 08:10

Tiga Indeks Wall Street Melemah, Dow Jones Turun 0,66 Persen

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:46

Harga Logam Mulia Redup Disengat Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:34

Mantan Ibu Negara Sri Lanka Ditangkap, Terseret Dugaan Penyalahgunaan Dana Donasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:16

Bursa Eropa Berguguran Disengat Lonjakan Minyak dan Obligasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:02

Baznas Perkuat Ekosistem Digital Fundraising

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:51

PDIP Didorong Galang Kekuatan Politik di DPR terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:25

Pilpres 2029 Lampu Kuning untuk Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:01

Pakpok Putusan MK

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:33

Pramono Larang PMI Pungut Iuran ke ASN DKI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:21

Selengkapnya