Berita

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 16 September 2025 (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)

Bisnis

Purbaya Ancam Pecat Direksi Kalau Kredit Macet

SELASA, 16 SEPTEMBER 2025 | 22:49 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penempatan dana Rp200 triliun di perbankan harus benar-benar disalurkan dengan prinsip kehati-hatian. 

Ia menegaskan, jika kebijakan itu justru berujung kredit macet atau non performing loan (NPL), maka direksi perbankan harus siap diberhentikan.

“Karena perbankan cukup pinter harusnya. Kalau mereka kasih pinjaman nggak hati-hati jadi NPL ya harusnya mereka dipecat,” tegas Purbaya saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa, 16 September 2025.


Purbaya menepis anggapan bahwa saat ini permintaan kredit sedang lesu. Menurutnya, pandangan itu keliru dan pihak yang menyebarkan narasi tersebut perlu memperdalam pemahaman ekonomi.

“Siapa bilang? Ada ekonom yang bilang begitu kan? Dia mesti belajar lagi ekonomi,” ujarnya.

Sebagai pembanding, Purbaya mengingatkan situasi pada 2021 ketika pandemi Covid-19 membuat permintaan kredit diyakini rendah. 

Namun setelah pemerintah menggelontorkan likuiditas dalam jumlah besar, pertumbuhan uang beredar dan kredit bisa terdorong secara signifikan.

“Waktu itu kredit tumbuhnya rendah sekali. Semua orang bilang, kita kredit gak bisa tumbuh sebelum ekonomi membaik. Saya balik. Saya inject uang ke sistem dengan cara tertentu ya. Kita inject uang ke sistem pada waktu bulan Mei 2021. Cukup signifikan M0 tumbuh double digit dalam waktu yang hampir bersamaan, kredit juga tumbuh,” bebernya.

Purbaya menekankan bahwa teori ekonomi konsisten dengan fenomena tersebut. Ketika bunga pinjaman lebih rendah dan likuiditas melimpah, masyarakat terdorong untuk membelanjakan uangnya, sementara pelaku usaha lebih berani melakukan ekspansi.

“Orang yang punya uang jadi nggak sayang belanja lagi. Kenapa? Bunganya lebih kecil dari sebelumnya, gue abisin aja duit saya. Sementara orang yang punya perusahaan yang mau ekspansi nggak takut lagi pinjam uang. Kenapa? Bunganya lebih rendah dari sebelumnya, jadi ini kesempatan untuk berekspansi. Teorinya seperti itu di belakang layar,” jelasnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya