Berita

Ilustrasi. (Foto: revolusioner.org)

Publika

Kaum Pancasilais Borjuis

OLEH: YUDHIE HARYONO*
SENIN, 15 SEPTEMBER 2025 | 06:51 WIB

APA yang terlihat oleh publik setelah 80 tahun Indonesia merdeka? Sinetron yang mempertunjukkan betapa mewah hidup elite kita. Gajinya tinggi, fasilitasnya mewah. Perabotan dan rumahnya di luar nalar. Pakaian dan aksesorisnya terlalu wah di tengah banjir PHK dan hancurnya daya beli rakyat.

Padahal mereka hidup di negara Pancasila. Negeri gotong royong yang saling melindungi, saling menyejahterakan, saling mencerdaskan dan saling menertibkan. Sayang, tradisi itu hilang dan "dilenyapkan" elite.

Ya, kini orang bangga jadi Pancasilais borjuis. Kelas borjuasi di Indonesia merujuk pada elite serakah yang memiliki kekayaan dan kekuasaan ekonomi sangat signifikan. Hidup mereka untuk, dari dan oleh kekayaan semata.


Singkatnya, kaum borjuasi adalah elite ekonomi yang memiliki pengaruh besar dalam kenegaraan dan kewarganegaraan. Mereka membeli semua: kebijakan, kekuasaan, posisi, pangkat, legislasi dan bahkan kursi posisi publik.

Padahal, karakter asli borjuasi di Indonesia adalah sangat bergantung pada negara dalam akumulasi kapital dan akses ke peluang ekonomi. Dus, pada mulanya mereka itu "rent seeker" dan peliharaan pejabat.

Hal ini karena negara memiliki peran penting dalam memfasilitasi pertumbuhan ekonomi dan mengatur kebijakan yang menguntungkan mereka. Dus, tanpa negara, mereka miskin; mereka kere dan tak berkuasa.

Tentu saja, kaum borjuis di Indonesia hidup dengan nilai-nilai liberal, modern, sekuler dan global. Hal itu membentuk pandangan politik dan ekonomi yang mendukung kepentingan mereka dengan pihak asing. Selanjutnya, mereka pilih jadi "hitman" dan kurir kepentingan asing di republik ini.

Pasca-reformasi, kaum borjuis di Indonesia berkembang sangat pesat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan liberalisasi pasar. Mereka adaptif pada zaman tanpa moral dan tanpa etika kemanusiaan. Mentalitas itulah yang membentuk dan membuat mereka meraksasa.

Tentu saja, semua pilihan itu menimbulkan kesenjangan ekonomi dan sosial yang signifikan antara kelas borjuasi dan kelas bawah. Kesenjangan yang melahirkan amuk massa. Nasib yang melahirkan perlawanan kaum kota.

Ingat, kekayaan dan kekuasaan itu bergulir dan dipergilirkan, tunggu saatnya akan tiba. Rakyat pasti siapkan api pembakaran bagi mereka yang sudah lama serakah dan menyembah setan. Sebab, borjuisme itu mengkhianati Pancasila; melawan Tuhan; mengingkari kemanusiaan.

Kata demonstran kemarin, "jika pemerintah tidak mampu menegakkan hukum dan membiarkan praktik KKN jadi agama, biar generasi kami yang bakar kaum borjuasi hidup-hidup".

Para demonstran tentu saja adalah patriot Pancasila. Mereka sering tidak mendapat tempat terhormat di negara yang diperjuangkan. Tetapi, dari tesis itu kita paham bahwa sejarah tidak selalu adil, dan kebenaran sering tertutup oleh kepentingan kejahatan kaum borjuis.

Karenanya, mereka harus bergerak dengan cinta pada republik dan tak berharap rasa iba apalagi jabatan. Merekalah yang akan menggilas dan menghapus tradisi borjuasi anti nalar sehat.

*Penulis adalah CEO Nusantara Centre

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Asta Cita Tanpa Konsistensi akan Timbul Moral Hazard

Senin, 08 Juni 2026 | 05:48

Pameran ‘Aku Arek Suroboyo’ Ramaikan Peringatan Bulan Bung Karno

Senin, 08 Juni 2026 | 05:24

GP Ansor Jakbar Gelar Diklatsar Tanggapi Sebutan ‘Gotham City’

Senin, 08 Juni 2026 | 04:59

Pernyataan Purbaya dan Djaka Saling Menguatkan dalam Kasus Tiffany & Co

Senin, 08 Juni 2026 | 04:46

Perkuat KDKMP

Senin, 08 Juni 2026 | 04:26

Purbaya Tidak Punya Backup Politik untuk Jalankan Misi Presiden

Senin, 08 Juni 2026 | 03:57

Jangan Kasih Tempat untuk Boti di Negeri Ini!

Senin, 08 Juni 2026 | 03:37

BEI Jabar Gencarkan Literasi Pasar Modal ke Kampus hingga SD

Senin, 08 Juni 2026 | 03:17

Menanti Hasil Uji Fundamental Perekonomian Indonesia

Senin, 08 Juni 2026 | 02:59

IPB University Raih Juara Umum Program Mahasiswa Berdampak Kemendiktisaintek

Senin, 08 Juni 2026 | 02:50

Selengkapnya