Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: BPMI Sekretariat Presiden)

Politik

Prabowo Perlu Petakan Kawan dan Lawan Hadapi Ancaman Black Swan

SENIN, 15 SEPTEMBER 2025 | 03:14 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Presiden Prabowo Subianto diminta untuk segera memetakan kawan dan lawan dalam percaturan politik nasional serta global. 

“Dengan konsolidasi yang solid, Indonesia dapat menghadapi ancaman Black Swan dan tantangan geopolitik dengan lebih tangguh,” ucap pemerhati intelijen dan keamanan, Surya Fermana dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu malam, 14 September 2025.
 
Lanjut dia, konsep Black Swan yang dipopulerkan filsuf Karl Popper menggambarkan ancaman tak terduga yang sulit diprediksi waktu dan bentuknya.  


Hal itu terlihat dalam kerusuhan yang mewarnai akhir Agustus lalu, sehingga memicu perdebatan sengit mengenai kinerja intelijen nasional. 

Surya menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukanlah kegagalan intelijen dalam mendeteksi ancaman, melainkan akibat keterlambatan konsolidasi di tingkat pimpinan intelijen dan aparat keamanan.

“Seperti letusan gunung berapi atau pandemi Covid-19, gejala ancaman mungkin terdeteksi, tetapi ketepatan waktunya sulit dipastikan. Yang dibutuhkan adalah kewaspadaan maksimal,” ungkapnya. 

Menurut dia, intelijen telah mengidentifikasi gejala-gejala potensi kerusuhan dan memetakan aktor-aktor di baliknya. Namun, masa transisi pemerintahan dengan visi Persatuan Nasional justru menghambat konsolidasi aparat keamanan. 

“Fokus pada persatuan nasional membuat ancaman laten terabaikan. Posisi strategis belum diisi oleh figur-figur yang sepenuhnya loyal kepada presiden,” jelas Surya.

Situasi ini diperparah oleh dinamika geopolitik global yang memanas, terutama ketegangan antara NATO dan BRICS. 

Keputusan Indonesia bergabung dengan BRICS, lanjut Surya, menempatkan Indonesia sebagai arena pertarungan kepentingan global. 

“Narasi kudeta militer atau persaingan TNI versus Polri adalah propaganda pihak eksternal untuk memecah belah kita,” tegasnya.

Surya juga memuji manuver Presiden dalam politik luar negeri yang mencerminkan karakter prajurit komando. 

“Keputusan berani ini adalah keunggulan pasukan khusus sebagai pelopor. Namun, harus didukung konsolidasi kuat di garis belakang untuk menghadapi tantangan yang kian kompleks,” pungkasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Safari Politik Jokowi Tak Pengaruhi Elektabilitas PDIP

Sabtu, 27 Juni 2026 | 00:14

Seruan Reformasi Jilid II Bukan Aspirasi Mahasiswa

Sabtu, 27 Juni 2026 | 00:00

Safari Politik Jokowi cuma Demi Gibran dan Kaesang

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:41

Empat Nyawa Sudah Cukup, Setop Latsarmil SPPI

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:23

Sarasehan KPPG: Keterwakilan Perempuan 30 Persen Bukan Sekadar Kuota

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:06

Edi Hasibuan: Masyarakat Mulai Merasakan Perubahan Polri

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:03

Universitas Bakrie Tiga Besar dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:42

Pakai Dump Truk, Polisi Kawal Massa Pendukung MBG di Tuban

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:24

Jubir FAM UBK: Ada Aktor Intelektual Sengaja Rusak Citra Kampus dan Wapres

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:22

DPR Usul Kemenukbangga Jadi Penyalur BLT

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:03

Selengkapnya