Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)

Politik

Berikut Dua Keuntungan Komisi Reformasi Polisi Dipimpin Presiden

MINGGU, 14 SEPTEMBER 2025 | 23:09 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Permintaan agar Presiden Prabowo Subianto yang memimpin langsung Komisi Reformasi Polri tentu beralasan dan masuk akal.

Analis komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga berpendapat ada dua pertimbangan Presiden Prabowo pimpin langsung komisi reformasi Polri.

“Pertama, Presiden sebagai kepala negara menjalankan kekuasaan eksekutif untuk mengelola administrasi negara, termasuk membuat pengaturan dan keputusan presiden. Sebagai kepala pemerintahan, maka semua unsur di Polri mulai dari yang berpangkat paling rendah hingga bintang empat akan tunduk dan patuh atas semua arahan presiden,” ujar Jamiluddin kepada RMOL di Jakarta, Minggu, 14 September 2025.


Dengan begitu, lanjut dia, Komisi Reformasi Polri dapat bekerja efisien dan efektif. Kemudian tekanan dari internal dan eksternal Polri dapat diatasi.

“Jadi, Komisi Reformasi Polri dapat bekerja tanpa tekanan dari mana pun dan dapat memformulasikan fungsi serta tugas Polri yang sesuai dengan negara demokrasi,” jelasnya.

Kedua, sambung Jamiluddin, kalau presiden yang memimpin Komisi Reformasi Polri, maka keputusan yang diambil tidak lagi berupa rekomendasi.  

Sebab menurutnya, banyak komisi selama ini hanya menghasilkan rekomendasi, sehingga suatu institusi berhak untuk tidak melaksanakannya. Akibatnya, banyak hasil kerja komisi yang diabaikan begitu saja.

“Kalau presiden yang memimpin Komisi Reformasi Polri, maka hasilnya dimungkinkan berupa keputusan. Konsekuensinya, Polri wajib melaksanakan semua keputusan Komisi Reformasi Polri,” katanya.

“Bahkan presiden sebagai kepala pemerintahan memiliki hak memaksa agar keputusan Komisi Reformasi Polri dilaksanakan,” demikian Jamiluddin Ritonga.

Presiden Prabowo sebelumnya diminta segera membentuk komisi untuk mengevaluasi dan mereformasi Polri mengingat reformasi kepolisian merupakan salah satu tuntutan masyarakat. Salah satunya berasal dari Gerakan Nurani Bangsa (GNB) yang terdiri sejumlah tokoh bangsa dan tokoh-tokoh lintas agama.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

BKSAP DPR Dukung Menlu Arrmanatha Perkuat Diplomasi Bebas Aktif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:26

Korea Utara Uji Coba Rudal Berteknologi AI, Terbang Sejauh 1.000 Km

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:10

Kuota Internet Kok Masih Hangus? Ini Penjelasan Komdigi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:01

Banggar DPR Tekankan Disiplin Fiskal di Tengah Belanja Negara Rp4.106 Triliun

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:53

RUU Migas Ditargetkan Rampung 22 Oktober, DPR Ingatkan Pembahasan Harus Cermat

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:13

Kemenko PM Dorong Kolaborasi Dunia Usaha untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:09

Rangkap Jabatan Bahlil Harus Dimaksimalkan untuk Selaraskan Kebijakan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:05

KPK Ungkap Ada Setoran dari Kantah ke Tingkat Pusat ATR/BPN

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:36

Sequis Life Digugat Rp1,27 Miliar ke PN Jakarta Selatan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:28

AS Usir Dua Delegasi Iran Setelah Sidang Umum PBB

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:17

Selengkapnya