Berita

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Foto: Mashable)

Dunia

Trump Larang Anggota NATO Beli Minyak Rusia

MINGGU, 14 SEPTEMBER 2025 | 11:35 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan agar seluruh negara anggota NATO segera menghentikan pembelian minyak dari Rusia. 

Trump meyakini langkah itu, ditambah dengan pengenaan tarif tinggi terhadap Tiongkok, dapat mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

Dalam unggahan di media sosialnya, Trump menilai komitmen NATO untuk memenangkan perang masih jauh dari maksimal. 


“Komitmen NATO untuk memenangkan perang jauh kurang dari 100 persen," tulisnya, seperti dikutip dari Associated Press, Minggu, 14 September 2025. 

Ia juga menyebut pembelian minyak Rusia oleh beberapa anggota NATO sebagai sesuatu yang mengejutkan.

Seolah berbicara langsung kepada negara anggota, Trump menegaskan: “Ini sangat melemahkan posisi negosiasi Anda, dan daya tawar, atas Rusia.” 

Ia kemudian menyerukan agar NATO menjatuhkan tarif antara 50 hingga 100 persen terhadap Tiongkok atas pembelian minyak Rusia. 

“Tiongkok memiliki kendali dan cengkeraman yang kuat terhadap Rusia, dan tarif yang tinggi akan mematahkan cengkeraman tersebut,” ujarnya.

Trump menambahkan, larangan pembelian minyak Rusia dan pemberlakuan tarif akan membantu mengakhiri perang Ukraina yang menurutnya konyol. 

Seraya menyebut tarif bisa dicabut jika perang yang dipicu invasi Rusia pada 2022 berakhir.

Seruan Trump ini muncul setelah beberapa drone Rusia memasuki wilayah udara Polandia, anggota NATO, pekan lalu. 

Polandia berhasil menembak jatuh drone tersebut, namun Trump mengecilkan insiden itu dengan mengatakan, hal itu sebagai sebuah ketidaksengajaan. 

Meski Trump berulang kali berjanji akan mengakhiri perang dengan cepat, hingga kini ia belum menunjukkan strategi efektif. Bahkan, ia kerap terlihat enggan berhadapan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. 

Sebaliknya, Trump menyalahkan pendahulunya Joe Biden dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky atas berlanjutnya perang, tanpa menyebut Putin.

Langkah Trump yang mendorong tarif tinggi juga berpotensi memicu perang dagang baru. 

Awal tahun ini, AS dan Tiongkok sempat saling balas tarif hingga 145 persen dan 125 persen, sebelum akhirnya menurunkannya masing-masing ke level 30 persen dan 10 persen.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Prabowo Instruksikan Harga Minyak Nonsubsidi Turun Ikuti Harga ICP

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:57

Gerakan Koperasi Kerakyatan Soemitro Didorong Jadi Syarat Seleksi Manajerial KDMP

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:46

Merawat Konstitusi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:42

DKI-Bali Perkuat Kerja Sama, Obligasi Daerah Jadi Bahasan Utama

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:34

Tak Benar soal Surpres Pergantian Kapolri

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:31

Gagah saat Malak, Mendadak Ingat Anak-Istri Waktu Mau Dipecat

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:25

Harus Ada Langkah Konkret Atasi Kerugian Peternak Ayam Akibat Pemadaman Listrik

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:23

Prabowo Lepas Kepulangan PM Tailan dari Lanud Halim

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:20

Jalur Wisata Bromo Ditutup Total Gegara Kebakaran Hutan di TNBTS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:11

IHSG Terbang 1,37 Persen ke 6.319

Selasa, 04 Agustus 2026 | 16:44

Selengkapnya