Berita

Ilustrasi. (Foto: RMOLJabar/Stockphoto)

Publika

Bandit Ekonom Istana

OLEH: YUDHIE HARYONO*
SABTU, 13 SEPTEMBER 2025 | 01:36 WIB

KERJA mereka merampok dan memiskinkan manusia. Mereka menikmati KKN sebagai agama di sekitar istana.

Miskin di republik ini memang unik. Ia dicitrakan, dikomodifikasikan dan dinarasikan tanpa dihapuskan. Ia memenuhi khotbah para elite agamawan. Bahkan dibuat alat tipuan. Angkanya, programnya, agensinya dan masa depannya.

Kita ditipu oleh WB, IMF dan BPS yang membingkai ulang kemiskinan ekstrem sedemikian rupa sehingga dunia tampak lebih makmur daripada yang sebenarnya. Dunia begitu indah dan tanpa cela nestapa.


Di Indonesia, fenomenanya sama walau tak serupa: garis kemiskinan resmi pemerintah, meski dihasilkan melalui metode yang terdengar ilmiah, kerap kali terlalu rendah sehingga menghapus jutaan orang yang sesungguhnya hidup dalam kemiskinan dari laporan resmi pemerintah.

Anehnya, rakyat miskin dan tertekan yang marah lalu menjarah harta haram milik elite ditangkap. Itu kenyataan. Sungguh diakronik ketaklaziman zaman.

Sedang yang menjarah harta rakyat, ditambah menjarah sawit, migas dan APBN justru dijamu ngopi di istana. Ini kenyataan memilukan. Kebusukan takdir yang afkir.

Lalu, kaum kaya ditampilkan di media. Seakan-akan merekalah potret warga-negara kebanyakan. Kita disihir seakan-akan itu kewajaran. Takdir yang tak terelakan.

Sok kaya. Pamer harta haram kini biasa. Mereka hidup dalam mazhab neoliberalisme. Dalam mazhab itu dunia dibuat gemerlap tanpa kebenaran, nirkeadilan, alpa kesentosaan dan defisit keadaban.

Mereka minus kemanusiaan, kebahagiaan, ketuhanan, kemoralan dan kesemestaan. Isinya hanya keserakahan, kesetanan dan kebejatan. Polah dan tingkah jahil, jahat, jumawa dan jungkir balik.

Padahal, itu yang dulu dilawan, direvolusi dan dihapus oleh para pendiri republik. Itulah pola kehidupan kebangsatan yang dirubah jadi kebangsaan. Dirubah dari feodalisme ke demokrasi. Dari akal jahiliyah ke nalar pancasila.

Tapi kok kini kembali? Padahal, Tan Malaka pernah berfatwa, "kemerdekaan tidak datang seperti kartu pos. Ia lebih mirip piring kosong yang harus diisi dengan keringat, atau jalan berlubang yang harus dilewati dengan kaki telanjang.

Ingat! Bangsa amoral yang hanya menunggu belas kasih, akan berakhir seperti kursi reyot di ruang tamu sejarah: dipakai sebentar, lalu dibuang.

Sebaliknya, mereka yang berani menggenggam nasib sendiri, meski tangan berdarah oleh batu, akan berdiri lebih tegak dari tiang listrik di tengah badai.

Perjuangan hidup memang tidak ramah: ia memaksa orang lapar belajar sabar, orang jatuh belajar bangkit, orang patah kaki belajar berjalan pincang tanpa kehilangan arah.

Di luka itulah kekuatan ditempa: bahwa berdiri kokoh bukan karena tidak pernah runtuh, melainkan karena mau berdiri kembali, berulang kali."

Mengingat keadaan hari ini, yang jahiliyah dan amoral, mari kita ingat: kejeniusan tanpa kerja keras tidak cukup; kerja cerdas tanpa komunitas juga terasa berat.

Tetapi, ketika ada kebersamaan nasib dan tujuan, kolaborasi sepenuh hati, gotong-royong dan saling percaya maka semuanya jadi mungkin. Mukjizat modern itu bekerja dalam suka, duka dan optimis. Demi Indonesia, demi lenyapnya kemiskinan, demi dihapusnya kesenjangan.

*Penulis adalah CEO Nusantara Centre

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Mensos: Tiga Korban Penganiayaan di Sekolah Rakyat Jember Kembali Belajar

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:30

Agrinas Palma Bareng CPP Peringati Sumpah Pemuda Lewat Giat Sosial

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KNMP Disiapkan untuk Dongkrak Pendapatan Nelayan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KoMPAS Minta Polri Bersihkan Oknum Bermasalah dari Jabatan Strategis

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:03

Kapolri Mutasi Lagi, Kapusdokkes dan Kapuskeu Diganti

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:55

Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos, Wanita Asal Sumut Dipolisikan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:44

Investasi Era Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun Serap 5,4 Juta Tenaga Kerja

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:43

BRI Fellowship Journalism 2026 Ajak Jurnalis Terlibat dalam Urban Farming di Bandung

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:33

Kasus ISPA di 7 Provinsi Turun Drastis Usai Diguyur Hujan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:17

Prabowo Gratiskan Biaya Sekolah dan Perluas Kampus SMA Taruna Nusantara

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:58

Selengkapnya