Berita

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: RMOL/Alifia Dwi Ramandhita)

Bisnis

Ekonom Asing Soroti Kepergian Sri Mulyani Bisa Kikis Kepercayaan Investor

SELASA, 09 SEPTEMBER 2025 | 10:22 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Keputusan Presiden Prabowo Subianto memberhentikan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan menarik perhatian para ekonom dan investor internasional.

Jason Tuvey, ekonom dari Capital Economics, menilai kepergian Sri Mulyani bisa menimbulkan keraguan di kalangan investor global. 

Menurutnya, orang pertama dari Indonesia yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia itu, adalah sosok yang mampu menjadi penyeimbang keinginan Presiden Prabowo


“Sri Mulyani dipandang sebagai penyeimbang keinginan Presiden Prabowo untuk melonggarkan anggaran fiskal demi menjalankan janji-janji kampanyenya,” kata Tuvey, dikutip dari Financial Times, Selasa, 9 September 2025.

Sementara penggantinya, Purbaya Yudhi Sadewa, menurut Tuvey belum memiliki pandangan ekonomi yang jelas. 

“Risiko utamanya adalah ia bisa lebih patuh pada keinginan presiden,” ujar Tuvey.

Sementara dari dalam negeri, Teuku Riefky dari Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia, menilai pergantian menteri keuangan memicu kekhawatiran pasar. 

“Penurunan harga saham pada hari Senin menunjukkan pasar tidak memiliki tingkat kepercayaan yang sama terhadap Purbaya,” katanya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah pada perdagangan intraday sesi kedua, Senin 8 September 2025, jelang reshuffle dan pelantikan menteri baru kabinet Prabowo Subianto.

Hingga pukul 15.43 WIB IHSG tercatat melemah 0,63 persen ke 7.818,12. Pelemahan IHSG tercatat semakin dalam bahkan mencapai lebih dari 1 persen pada pukul 15.47 WIB.

Selanjutnya, IHSG  ditutup melemah 100,4 poin atau 1,28 persen menjadi 7.766. 

Pemberhentian Sri Mulyani terjadi hanya beberapa hari setelah rumahnya di Bintaro dijarah massa. Peristiwa itu berlangsung di tengah gelombang protes besar-besaran atas tunjangan perumahan anggota DPR yang dinilai terlalu besar.

Populer

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya