Berita

Massa ojek online ojol menggeruduk Markas Satbrimob Polda Metro Jaya, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat pada Kamis malam, 28 Agustus 2025. (Foto: Dokumentasi Warga)

Publika

Revolusi Prancis, Reformasi 1998, dan Agustus 2025

Sejarah Perlawanan Rakyat dalam Kacamata Marxis

OLEH: AGUNG NUGROHO*
SELASA, 09 SEPTEMBER 2025 | 04:23 WIB

SEJARAH punya cara unik untuk berulang. Dari Revolusi Prancis 1789, Reformasi Indonesia 1998, hingga perlawanan rakyat Agustus 2025 yang berujung rusuh, ada benang merah yang bisa ditarik: rakyat yang lama ditekan dan diabaikan akhirnya memilih turun ke jalan.

Di Prancis abad ke-18, rakyat menderita karena harga gandum naik dan pajak makin mencekik. Raja Louis XVI dan bangsawan justru asyik berpesta di Istana Versailles. Amarah pun meledak, Bastille diserbu, dan monarki absolut runtuh.

Karl Marx menyebut peristiwa itu sebagai revolusi borjuis. Menurut teorinya, sejarah digerakkan oleh perjuangan kelas. Dalam Revolusi Prancis, kelas feodal (bangsawan dan gereja) memang tumbang, tapi yang naik adalah borjuasi—pedagang, pengusaha, dan kaum profesional. Rakyat miskin tetap tertindas, hanya saja kini oleh pemilik modal. 


Slogan “Liberté, Égalité, Fraternité” indah di telinga, tetapi hanyalah ilusi ideologis. Kebebasan yang dijanjikan tidak lebih dari kebebasan untuk menjual tenaga kerja di bawah sistem kapitalisme yang lahir setelahnya.

Dua abad kemudian, Indonesia 1998 mengalami pola serupa. Krisis moneter membuat rakyat tercekik. Sementara itu, elite Orde Baru masih mempertahankan kemewahan. Mahasiswa dan rakyat menyerbu Gedung DPR/MPR, simbol kekuasaan Orde Baru. Soeharto akhirnya mundur setelah 32 tahun berkuasa.

Dalam kacamata Marxis, Reformasi 1998 juga merupakan transisi kekuasaan antar kelas. Rezim lama runtuh, tetapi struktur ekonomi-politik yang dikuasai oligarki tidak benar-benar berubah. 

Reformasi memang membuka ruang demokrasi, tetapi hasil akhirnya tetap lebih menguntungkan kelas menengah-atas ketimbang rakyat pekerja.

Lalu tibalah Agustus 2025. Krisis kembali menghantam, rakyat meluapkan aspirasi lewat aksi massa. Namun, alih-alih ditanggapi dengan empati, suara rakyat sering dianggap ancaman. Aksi yang bermula damai pun berubah rusuh. Polanya serupa: krisis ? kesenjangan ? pengabaian ? ledakan.

Teori Marx membantu membaca benang merah ini. Ia menegaskan bahwa selama alat produksi dikuasai segelintir elit, rakyat pekerja hanya akan berpindah dari satu bentuk penindasan ke bentuk lainnya. 

Revolusi borjuis bisa meruntuhkan feodalisme, reformasi bisa menjatuhkan diktator, tetapi tanpa revolusi proletar—yang menempatkan rakyat pekerja sebagai subjek Utama -- hasilnya hanya “pergantian elite” semata.

Pelajarannya jelas:

Kekuasaan tanpa empati akan kehilangan legitimasinya.

Kritik yang diabaikan bisa berubah menjadi bara revolusi.

Perubahan politik tanpa perubahan struktur ekonomi hanyalah setengah jalan.

Sejarah, dari Bastille, Reformasi 1998, hingga Agustus 2025, memberi pesan yang sama: rakyat bisa menggulingkan penguasa, tetapi tugas berikutnya jauh lebih berat-- membangun tatanan baru yang benar-benar berpihak pada rakyat pekerja.


*Penulis adalah Direktur Jakarta Institut


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya