Berita

Kolase cover buku Hindia Belanda, Studi tentang Ekonomi Majemuk dan Yudhie Haryono. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Resensi

Refleksi Sistem Ekonomi Masa Lalu

OLEH: YUDHIE HARYONO*
MINGGU, 07 SEPTEMBER 2025 | 02:59 WIB

JUDUL Buku: Hindia Belanda, Studi tentang Ekonomi Majemuk.
Penulis: J.S. Furnivall.
Penerbit: Freedom Institute Jakarta.
Tahun: 2009.
Tebal: 578 halaman + iv.
ISBN: 978-979-19466-1-2.

ISBN: 978-979-19466-1-2.
Harga: 235.000.

Program Kelas Jenius akan membahas buku babon ekonomi. Pada bulan Agustus, program ini membahas tokoh-tokoh ekonomi (Hatta, Mubyarto, Sritua Arief, Dawam Rahadjo, Stiglitz, Andre Gunder Frank, Karl Polanyi, Celso Furtado, dll). Salah satu buku yang akan didiskusikan selanjutnya berjudul Netherlands India, A Study of Plural Economy (1937) terbitan Cambridge Press karya sejarawan J.S. Furnivall.

Buku ini pasti keren dan berbobot plus klasik karena menyajikan riset perihal archipelagic economy (ekonomi kepulauan) dan ekonomi majemuk yang sudah lama hadir tetapi tak disadari. Ayo bergabung, ayo kita kembali menekuni pengetahuan yang tidak tak terpikirkan oleh banyak kalangan.

Dejavu, buku yang mengingatkanku padamu. Buku keren yang diterbitkan pertama kali tahun 1937 dengan judul "Nederlands India-A Study of Plural Economy" oleh Cambridge University Press ini ditulis oleh penulis favoritku: Furnivall.

Nama lengkapnya John Sydenham Furnivall (1878-1960). Ia adalah penulis kelahiran Britania Raya yang bekerja di Burma dan dikenal sebagai pencetus konsep masyarakat plural. Karya dan semangat risetnya mumpuni.

Ia sejarawan Asia Tenggara terkemuka, terutama Hindia Belanda dan Burma Britania yang mengarang beberapa buku dalam hidupnya. Salah satu buku terkenalnya adalah Colonial Policy and Practice (Praktik dan Kebijakan Kolonial). Ia menulis lebih dari 20 jurnal ilmiah, meskipun karyanya saat ini dikritik karena terlalu Eurosentris dan adanya bias keberpihakan kepada kolonialisme.

Buku yang kita bahas merupakan salah satu buku penting karena membahas secara komprehensif dan terperinci tentang sejarah politik, ekonomi dan sosial Indonesia selama masa kolonial Belanda. Dari buku ini, kita jadi tahu warisan ekopol apa yang diterima oleh warga negara. 

Tentu saja, buku ini memuat informasi penting perubahan dalam kebijaksanaan, administrasi dan politik di tanah jajahan Belanda juga menyangkut pemilikan tanah, pertanian, ekspor, impor, tingkat pendidikan dan golongan masyarakat, kesempatan kerja, perburuhan, keuangan, hubungan antara jawa dan luar jawa serta aspek-aspek penting lain yang menarik tentang ekonomi dan masyarakat di Hindia Belanda.

Sumbangan terbesar dari buku Furnivall ini adalah diagnosa tajam tentang ekonomi majemuk (plural economy). Dalam suatu ekonomi majemuk, seperti Hindia Belanda, terdapat berbagai golongan masyarakat yang memainkan peran ekonomi yang saling berbeda, tetapi tidak saling berbaur, meskipun masing-masing golongan hidup saling berdampingan dalam suatu kesatuan politik, yaitu Hindia Belanda.

Ciri khas dari ekonomi majemuk, yaitu ekonomi yang terdiri atas beberapa unsur atau tatanan sosial yang hidup berdampingan satu sama lain tetapi berinteraksi dalam bidang ekonomi, ternyata hingga kini masih tetap ada dari zaman kolonial Belanda. Misalnya, sebagian golongan etnik Cina hanya berinteraksi dengan golongan ''pribumi'' dalam bidang ekonomi saja. Mereka tidak bertemu dalam bidang lainnya.

Tipologi masyarakat majemuk yang digambarkan Furnivall meninggalkan jejak mendalam di masyarakat yang kemudian mengambil rupa sebagai sebuah negara bernama Indonesia.

Apa yang diramalkannya tentang kecenderungan akan tersulutnya aksi anarkis pada masyarakat majemuk yang mengalami perubahan struktur, dapat terlihat dari betapa panjang dan berliku usaha pencapaian kesepakatan yang langgeng dalam sebuah negara bernama Indonesia. Sebagian bahkan harus melewati berbagai pemberontakan.

Hanya ketergantungan antar-etnis sejak awal sejarah Nusantaralah yang dapat mencegah perpecahan permanen. Kelemahan bawaan zaman ''pra-kapitalis'' sebagai kekhasan yang ada, juga membentuk bangun Indonesia sebagaimana adanya.

Buku ini terdiri atas 13 bab. Berisi riset sejarah yang komprehensif sejak zaman sejarah sampai tahun 1600; Supremasi VOC 1600-1800; Tahun-tahun Kekacauan 1795-1815; Tahun-tahun Keraguan 1815-1830; Sistem Tanam Paksa 1830-1850; Transisi ke liberalisme 1850-1870; Zaman Liberalisme 1870-1900; Great Depresion 1929-1937; Penutup dan kesimpulan.

Bagi kita yang ingin punya refleksi dari ekonomi masa lalu, buku ini sangat penting. Terlebih jika ingin membuat proyeksinya.

*Penulis adalah Ekonom Pancasila

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Menkeu Baru Angkat Bicara Soal Perombakan Pejabat Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Senin, 14 September 2026 | 17:28

UPDATE

Dina Sulaeman: Sikap Prabowo Beri Pesan Diplomatik Kuat untuk Palestina

Minggu, 20 September 2026 | 09:51

Ekonom Ungkap Skema Pendidikan Gratis PTN Tanpa Menguras APBN

Minggu, 20 September 2026 | 09:43

Prabowo Berencana Produksi Bensin dari Batu Bara

Minggu, 20 September 2026 | 08:56

Humanika: Jangan Jatuhkan Prabowo Sebelum Lima Tahun

Minggu, 20 September 2026 | 08:49

Sesuai Ambisi Prabowo, Kampus Negeri Jangan Cari Duit dari Mahasiswa Lagi

Minggu, 20 September 2026 | 08:22

Dubes Palestina Ungkap Momen Emosional Saat Peluk Prabowo di Gontor

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Ekonom: Prabowo Tinggal Lanjutkan Pendidikan Gratis dari SBY

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Keretakan Peradaban

Minggu, 20 September 2026 | 07:38

Wadanyon OPM Kodap 35 Bintang Timur Yahukimo Diringkus TNI

Minggu, 20 September 2026 | 06:46

DPD Tawarkan Solusi Netral Fiskal Demi Ekonomi Berlari Kencang

Minggu, 20 September 2026 | 06:19

Selengkapnya