Berita

Ilustrasi gedung KPK. (Foto: RMOL)

Hukum

KPK Dikritik Tumpul Hadapi Geng Medan

SABTU, 06 SEPTEMBER 2025 | 11:15 WIB | LAPORAN: BONFILIO MAHENDRA

Kongres Rakyat Nasional memantau penanganan kasus korupsi proyek jalan di Sumatera Utara. Mereka mempertanyakan Komisi Pemberantasan Korupsi tidak garang mendalami dugaan keterlibatan Gubernur Bobby Nasution, bahkan sekedar memeriksa orang-orang yang menjadi bagian dari circle-nya.

"KPK yang selalu percaya diri setiap membahas Harun Masiku namun taring tumpul ketika berhadapan dengan Geng Medan. Mampu memaksa Nazaruddin, mantan Bendum Partai Demokrat, pulang dari luar negeri namun tidak mampu menghadirkan Muryanto Amin dan Dedy Rangkuti ke gedung merah putih KPK," tutur Presidium Kongres Rakyat Nasional (Kornas) Sutrisno Pangaribuan melalui pesan elektronik yang diterima redaksi di Jakarta, Sabtu 6 September 2025.

Muryanto Amin adalah Rektor USU yang disebut KPK bagian dari circle Bobby Nasution dan tersangka Topan Ginting. Adapun Dedy Rangkuti merupakan sepupu kandung Bobby. 


Kornas mengkritik ketidakberanian KPK mengeluarkan jadwal pemanggilan dan pemeriksaan ulang setelah keduanya mangkir dari pemanggilan pemeriksaan pertama. Terlebih, Kornas melihat perhatian terhadap penindakan geng Medan oleh KPK makin meredup karena teralihkan kasus pemerasan Noel Ebenezer, korupsi kuota haji, korupsi Bupati Kolaka Timur dan kasus korupsi Dirut PT Inhutani V.

Aksi massa yang terjadi belakangan ini, diingatkan Sutrisno, salah satunya akibat kinerja KPK yang buruk. Berbagai kasus besar dibuat kecil sementara kasus usang mau dibuka. Ocehan Setya Novanto, terpidana korupsi kasus e-KTP hendak digoreng lagi sama KPK. Kasus dana hibah di Pemprov Jatim tidak berujung, pun kasus tambang Maluku Utara yang menyeret 'Blok Medan' akhirnya hilang.

Selain itu, KPK disebutnya hanya mampu mengeluh kemampuan koruptor yang jauh melampaui kemampuan mereka. KPK saat ini menjadi lembaga pemberantasan korupsi yang reaktif, ikut dalam arus informasi dengan algoritma yang tinggi. 

Dia mencontohkan saat muncul aksi massa di Pati, KPK reaktif dengan tiba-tiba memanggil Bupati Sudewo dalam dugaan keterlibatan di kasus DJKA. Ketika mantan Gubernur Ridwan Kamil berseteru dengan selebgram Lisa Mariana terkait status anak, KPK memanggil Lisa yang diduga menerima aliran dana kasus korupsi bjb.

"KPK memilah dan memilih orang yang dipanggil dan diperiksa sesuai selera infotainment," tukas Sutrisno Pangaribuan.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

UPDATE

Kapolri Resmi Larang Seluruh Polisi Pakai Vape

Minggu, 01 November 2026 | 21:51

Ketidakpuasan terhadap Kinerja Pemerintah

Minggu, 01 November 2026 | 21:33

Gaduh Penggeledahan Pesantren, Polri Libatkan Propam

Minggu, 01 November 2026 | 20:41

Dua Nasabah Gugat AIA Financial ke PN Jaksel

Minggu, 01 November 2026 | 20:18

Mantra Mahasiswa dan Mengapa Rakyat Sering Kali Dikalahkan?

Minggu, 01 November 2026 | 19:36

KB Bank Syariah Digugat ke Pengadilan

Minggu, 01 November 2026 | 18:39

Pakar Tata Negara Bongkar Efek Putusan MA Terhadap Nasib Gibran

Minggu, 01 November 2026 | 18:15

Cancel Culture RANS-Willie Salim Contoh Kemarahan Publik

Minggu, 01 November 2026 | 17:41

Lulusan Trisakti Didorong Jadi Generasi Inovatif dan Berjiwa Wirausaha

Minggu, 01 November 2026 | 17:23

Elemen Umat Islam Harus Bersatu Perkuat Ekonomi melalui Koperasi

Minggu, 01 November 2026 | 17:00

Selengkapnya