Berita

Ilustrasi (Foto: Artificial Intelegence)

Bisnis

Harga Minyak Melonjak Lebih 2 Persen

SABTU, 06 SEPTEMBER 2025 | 10:26 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia anjlok lebih dari 2 persen pada perdagangan Jumat, 5 September 2025, setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan pelemahan dan kekhawatiran meningkatnya pasokan minyak global.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup di 65,50 Dolar AS per barel, turun 1,49 Dolar AS atau 2,22 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga jatuh ke 61,87 Dolar AS, turun 1,61 Dolar AS atau 2,54 persen.

Pasar minyak terguncang setelah laporan terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS melambat tajam. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, jumlah pekerjaan baru di luar sektor pertanian (nonfarm payrolls) hanya bertambah 22.000 pada Agustus, jauh di bawah perkiraan analis sebesar 75.000.


Data itu juga jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan 79.000 pekerjaan pada Juli. Para ekonom sebelumnya memperkirakan pasar kerja masih cukup kuat, namun kenyataannya menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

“Harga minyak mulai turun sejak muncul kabar soal OPEC. Laporan ketenagakerjaan ini tidak membantu, malah menunjukkan pasar sedang melemah," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.

Selain data tenaga kerja yang buruk, pasar juga khawatir akan adanya kelebihan pasokan minyak.

Persediaan minyak mentah AS pekan lalu naik 2,4 juta barel, padahal para analis sebelumnya memprediksi akan ada penurunan stok.

Kekhawatiran ini semakin besar setelah muncul laporan bahwa delapan negara anggota OPEC+ sedang mempertimbangkan meningkatkan produksi minyak pada pertemuan Minggu, 7 September 2025.

Jika keputusan itu diambil, maka OPEC+ akan mengakhiri lebih awal kebijakan pemangkasan produksi sebesar 1,65 juta barel per hari, atau sekitar 1,6 persen dari total permintaan minyak dunia.

“Jika delapan negara OPEC+ benar-benar sepakat menaikkan produksi, harga minyak bisa tertekan lebih jauh karena risiko surplus pasokan akan semakin besar," menurut analis dari Commerzbank.

Laporan pekerjaan yang lemah ini juga menambah tekanan pada Federal Reserve untuk memangkas suku bunga demi menjaga pertumbuhan ekonomi. Namun, ketidakpastian soal pasokan energi membuat pasar tetap bergejolak.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya