Berita

Aksi massa dari GMNI saat berunjuk rasa di Gedung DPR/MPR, Jakarta Pusat (Foto: Dokumentasi GMNI)

Politik

GMNI Tuntut Prabowo Runtuhkan Ketidakadilan Struktural di Sektor Ekonomi

KAMIS, 04 SEPTEMBER 2025 | 11:16 WIB | LAPORAN: BONFILIO MAHENDRA

Kondisi perekonomian nasional saat ini hanya menguntungkan segelintir elite, meski pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2 persen pada 2025.

Pesan itu disampaikan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dalam menyikapi pertumbuhan ekonomi yang tidak dirasakan langsung oleh rakyat kecil.

Ketua Umum DPP GMNI, Sujahri Somar, menilai ketidakadilan struktural di sisi ekonomi sudah tidak dapat ditoleransi lagi.


"Ketidakadilan tidak lahir secara alamiah, melainkan dipelihara oleh sistem yang timpang, kebijakan yang tidak berpihak, serta birokrasi yang korup dan arogan," tegasnya dalam keterangan resmi yang diterima Kamis, 3 September 2025.

Lanjut Sujahri, dirinya merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan realitas yang kontras dengan angka pertumbuhan ekonomi.

Di mana, pekerja informal masih mendominasi dengan persentase 59,40 persen, sementara kesejahteraan buruh terus tergerus praktik outsourcing yang belum dihapus meski telah diputus inkonstitusional oleh Mahkamah Konstitusi.

Di kesempatan berbeda, Sekretaris Jenderal DPP GMNI, Amir Mahfut, mempertanyakan makna pertumbuhan ekonomi yang tidak berdampak pada kesejahteraan rakyat.

"Apa gunanya pertumbuhan ekonomi jika rakyat masih lapar, petani tercekik utang, guru honorer bergaji ratusan ribu, dan buruh dipaksa hidup dengan upah yang tidak manusiawi?" kritiknya.

Hal ini terlihat nyata saat pejabat memamerkan kekayaan, lemahnya empati terhadap penderitaan rakyat, hingga maraknya kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik.

"Bagaimana mungkin kita bicara Indonesia Emas 2045 jika guru masih lapar, sekolah masih roboh, dan rakyat kecil masih diperlakukan sebagai warga kelas dua?" tegas GMNI.

Itu sebabnya, GMNI menuntut pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto segera meruntuhkan ketidakadilan struktural ekonomi dan mengembalikannya kepada prinsip Ekonomi Pancasila.

Di satu sisi, GMNI juga menolak gerakan anarkis yang belakangan ini terjadi di beberapa daerah.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya