Berita

Dari kiri ke kanan: Presiden RI Prabowo Subianto, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Tiongkok Xi Jinping, dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok di Beijing, Rabu, 3 September 2025. (Foto: Xinhua)

Publika

Indonesia Simbol Kebangkitan Poros Asia

OLEH: BOBBY CIPUTRA*
KAMIS, 04 SEPTEMBER 2025 | 04:30 WIB

APA arti kehadiran Prabowo Subianto di panggung Beijing bagi Dunia? Pertanyaan sederhana ini tiba-tiba viral mengguncang jagat maya setelah foto parade militer China. Gambar yang memperlihatkan Xi Jinping, Vladimir Putin, Kim Jong Un, dan Prabowo Subianto berdiri sejajar seolah menggambarkan “The Greatest Four” menjadi sorotan global. 

Apakah Indonesia kini beralih haluan, atau sedang memainkan diplomasi yang jauh lebih kompleks? Banyak orang menganggap itu sekadar seremoni. Tapi politik jarang sesederhana itu.
  
Parade Militer China yang Mengguncang


Parade militer di Beijing pada 3 September 2025 bukan hanya pamer kekuatan. Ribuan pasukan berbaris rapi, jet tempur membelah langit, rudal balistik digerakkan di depan mata dunia. Peringatan 80 tahun kemenangan China atas Jepang itu seperti pesan lantang: China bukan lagi bangsa yang diinjak sejarah, melainkan kekuatan yang siap menentukan masa depan.
 
Yang lebih mengguncang bukanlah deru tank, melainkan siapa yang hadir. Xi Jinping berdiri di panggung bersama Vladimir Putin, Kim Jong Un, dan Prabowo Subianto. Konfigurasi ini langsung memicu perbincangan global. Dunia sadar, parade itu adalah panggung politik. China menggunakan momentum sejarah untuk menegaskan posisinya kini. Dan Indonesia ikut menjadi sorotan, bagian dari simbol poros Asia yang bangkit.
 
Bergerak dan Berubah

Sejarah selalu bergerak. Abad ke-20 ditandai Perang Dunia dan Perang Dingin. Kini, abad ke-21 diwarnai pergeseran besar. Barat tidak lagi memegang kendali mutlak. China tumbuh sebagai kekuatan ekonomi dan militer. Rusia, meski disanksi, tetap berpengaruh. Korea Utara masih jadi simbol perlawanan.
 
Indonesia tidak bisa lagi hanya jadi penonton. Dengan populasi terbesar keempat, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dan demokrasi terbesar ketiga di dunia, kita punya posisi unik. Kehadiran Prabowo di Beijing adalah sinyal bahwa Indonesia mulai diberlakukan sebagai kekuatan strategis. Dunia sedang berubah, dan Asia menjadi panggung utama perubahan itu.
 
Peran Prabowo dan Warisan Sukarno
 
Kehadiran Prabowo di Beijing mengingatkan pada Sukarno. Enam dekade lalu, Sukarno berdiri tegak melawan dominasi Barat. Ia membangun poros Jakarta-Beijing-Pyongyang-Moskow.

Hari ini bayangan itu muncul kembali. Bedanya, Prabowo hadir bukan dengan retorika revolusioner, melainkan dengan gaya nasionalis-pragmatis. Tapi simbolnya sama: Indonesia menunjukkan bahwa ia tidak hanya menghadap ke Barat.
 
Bagi China, Indonesia adalah pintu Asia Tenggara, dengan jalur maritim strategis dan pasar besar. Bagi Rusia, Indonesia adalah sahabat lama sejak era Sukarno. Bagi Korea Utara, Indonesia adalah sedikit negara yang berani menjaga hubungan diplomatik tanpa tunduk pada tekanan Amerika. Indonesia bukan sekadar besar, tapi juga penyeimbang.

Sindiran Trump dan Ketegangan Barat

Tidak semua pihak nyaman melihat kebersamaan itu. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, langsung menyindir keras Xi Jinping, Putin, Kim, bahkan Prabowo. Ia menuduh pertemuan tersebut sebagai upaya “berkonspirasi melawan Amerika”.
 
Sindiran itu justru mengkonfirmasi satu hal: bahwa momen Beijing dianggap penting. Amerika khawatir melihat kebangkitan poros Asia, apalagi ketika Indonesia mulai masuk ke dalam orbit itu. Dalam kacamata Washington, kehadiran Prabowo di Beijing tidak lagi bisa dianggap biasa. Ia adalah tanda bahwa keseimbangan dunia sedang bergeser.
 
Namun, jika kita melihat daftar lengkap 26 negara yang diundang, angkanya relatif kecil jika dibandingkan dengan banyaknya negara anggota PBB, tapi ada pola yang menarik terlihat. Sebagian besar adalah negara-negara yang tidak terikat kuat dengan blok Barat: negara-negara non-blok, negara-negara dari Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), dan negara-negara yang memiliki hubungan historis dengan China atau Rusia.
 
Ini menunjukkan bahwa China tidak hanya mengundang sekutu ideologis, melainkan juga mitra-mitra strategis yang penting dan relevan dalam skema tatanan dunia baru. Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20, adalah salah satu mitra kunci tersebut.
 
Sosialisme Modern dan Kehadiran Indonesia

Parade militer di Beijing tidak hanya menampilkan kekuatan senjata, tetapi juga ideologi yang masih hidup: sosialisme dengan wajah modern. China, Rusia, hingga Korea Utara menunjukkan bahwa sosialisme bisa mengambil bentuk baru bukan lagi sekadar doktrin klasik, tetapi strategi politik, ekonomi dan kemandirian dalam menghadapi tekanan global.
 
Kehadiran Prabowo di barisan para pemimpin ini memberi pesan tersendiri. Seperti mimpi Prabowo yang pernah menyatakan keinginannya untuk menjadi pemimpin sosialis di Asia. Dengan semangat mewujudkan keadilan sosial, menolak dominasi asing dan meningkatkan ekonomi kerakyatan, sejatinya sejalan dengan nilai-nilai yang digaungkan dalam parade tersebut.

Di era dunia yang sedang berubah, sosialisme modern tidak harus dimaknai sebagai ideologi tertutup. Ia justru bisa menjadi lensa untuk melihat bagaimana bangsa-bangsa Asia membangun kedaulatan tanpa tunduk pada hegemoni. Di titik ini, Indonesia berperan penting sebagai jembatan: bukan sekadar pengamat, melainkan bagian dari percakapan besar tentang model pembangunan yang lebih adil dan manusiawi.
 
Sekali lagi, foto Prabowo berdiri sejajar dengan Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Kim Jong Un akan dikenang sebagai momen penting dalam geopolitik dunia. Ia bukan sekadar gambar, tetapi simbol kebangkitan poros Asia. Posisi Indonesia yang menganut politik bebas aktif menjadi modal besar untuk menjembatani berbagai kepentingan.
 
Dunia sedang berubah, dan di tengah perubahan itu. Indonesia harus menjadi penentu arah.
 

*Penulis adalah Ketua Angkatan Muda Sosialis Indonesia (AMSI)

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Wall Street Kompak Hijau Berkat Lonjakan Saham AI

Selasa, 17 Maret 2026 | 08:03

Krisis Energi Kuba: Blokade Minyak AS Picu Pemadaman Listrik Nasional

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:45

Festival 1000 Berkah: Dari Sampah Plastik Menjadi Paket Pangan untuk Sesama

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:35

Ancaman Inflasi Global Tekan Harga Emas Dunia ke Bawah Level 5.000 Dolar AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:22

Pasar Eropa Bangkit dari Tekanan, STOXX 600 Ditutup Hijau

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:07

Melawan atau Hanyut dalam Tekanan

Selasa, 17 Maret 2026 | 06:43

Negara Harus Petakan Pola Serangan KKB di Papua Demi Lindungi Warga

Selasa, 17 Maret 2026 | 06:23

Pedro Sanchez Warisi Politik Bebas Aktif Bung Karno

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:59

TNI AL Gelar Bakti Sosial dan Kesehatan di Pesisir Tangerang

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:45

SPPG IFSR Gelar Program Makan Berbuka Gratis Tanpa APBN

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:22

Selengkapnya