Berita

Aparat Kepolisian mengamankan jalannya aksi unjuk rasa. (RMOL/Bonfilio Mahendra)

Politik

Demonstrasi Dipicu Krisis Kepercayaan Terhadap Kebijakan Fiskal

SELASA, 02 SEPTEMBER 2025 | 19:33 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Gelombang demonstrasi yang merebak beberapa hari terakhir tak lepas dari krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah, khususnya terkait kebijakan fiskal.

Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan menilai, kondisi ini dipicu oleh runtuhnya legitimasi fiskal akibat kontradiksi kebijakan yang dinilai tak berpihak kepada rakyat.

"Rakyat diminta membayar pajak, membayar iuran dan menerima efesiensi yang dilakukan oleh pemerintah tapi sementara di sisi lain pemerintah tampak boros," kata Deni dalam media briefing secara virtual pada Selasa 2 September 2025.


Menurutnya, sejumlah kebijakan pemerintah justru memperlihatkan sikap boros dalam belanja negara, terutama dengan menambah jumlah kementerian dan lembaga, membiarkan rangkap jabatan di BUMN, serta menaikkan gaji dan tunjangan pejabat maupun anggota DPR.

Deni mengatakan, dalam teori ekonomi politik, pajak sejatinya merupakan kontrak sosial antara negara dan rakyat, yang hanya berjalan ketika publik percaya negara memberikan pelayanan, stabilitas, dan keadilan.

"Sayangnya rasa keadilan itu hari ini kiam memudar karena adanya kontradiksi dari kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah,” tegasnya.

Ia menambahkan, krisis legitimasi fiskal tersebut juga menjadi cerminan dari ketimpangan dan beratnya beban ekonomi yang kian menekan masyarakat.

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di kisaran 5 persen, distribusinya dinilai timpang dan bias ke sektor padat modal. Gini ratio atau ketimpangan masih bertahan di level 0,39, menunjukkan ketidakmerataan yang signifikan.

Selain itu, meski angka kemiskinan resmi menurun, kondisi kelas menengah justru tertekan.

“Sebagian besar rakyat Indonesia walaupun tidak tergolong miskin, posisinya hanya sedikit di atas garis kemiskinan. Sedikit saja ada inflasi, mereka bisa jatuh miskin,” jelas Deni.

Ia menyoroti bahwa perhitungan garis kemiskinan Indonesia pun jauh lebih rendah dibanding standar Bank Dunia. Jika menggunakan standar internasional, tingkat kemiskinan Indonesia akan jauh lebih tinggi.

Tak hanya itu, masalah pengangguran juga menjadi tekanan tambahan. Walau tingkat pengangguran terbuka terbilang rendah, jumlah absolutnya meningkat. Bahkan, mayoritas pekerja Indonesia masih berada di sektor informal yang mencapai hampir 60 persen menurut BPS, atau bahkan 80 persen berdasarkan standar ILO.

“Kualitas pekerjaan rendah, pendapatan stagnan, dan tidak mampu mengimbangi biaya hidup. Sehingga kenaikan pajak sekecil apa pun terasa menyesakkan di tengah kondisi ini,” paparnya.

Ia mengkritik arah belanja negara yang ironisnya justru memperdalam luka masyarakat. Belanja perlindungan sosial makin mengecil, sementara wacana kenaikan iuran BPJS terus mengemuka.

Di sisi lain, program-program mahal pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dijalankan meski efektivitas dan urgensinya dipertanyakan.

“Program mahal prioritas pemerintah dan dampaknya hingga saat ini masih tidak efektif atau tidak mendesak itu tetap dijalankan, misalnya MBG," tuturnya.

Ia pun mengatakan bahwa anggaran program MBG yang melonjak dari Rp171 triliun tahun ini, menjadi Rp335 triliun pada tahun 2026 mendatang.

Anggaran tersebut, kata Deni menguasai 44 persen dari pos anggaran pendidikan yang sebesar Rp757,8 triliun pada tahun depan.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya