Berita

Kolase cover buku 'The Great Divide, Unequal Societies and What We Can Do About Them' karya Joseph E. Stiglitz dan penulis. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Resensi

Ekonomi Tobat Melarat

OLEH: YUDHIE HARYONO*
SENIN, 01 SEPTEMBER 2025 | 04:51 WIB

JUDUL buku: The Great Divide, Unequal Societies and What We Can Do About Them.
Penulis: Joseph E. Stiglitz.
Penerbit: W. W. Norton & Company, 2016.
Bahasa: Inggris.
Tahun: April 2016.
ISBN-13: 978-1511321112.

ISBN-13: 978-1511321112.
Ukuran: 16.51X1.59X13.97cm.
Ketebalan: 466 hlm, Paperback.
Harga: Rp200.000,-

Salah satu buku karya Joseph Stiglitz, ekonom peraih Nobel, yang memiliki pemikiran sangat luas tentang ekonomi dan kebijakan publik serta rekomendasi bagi negara yang dijerat pemikiran plus agensi neoliberalisme.

Pemikiran dan buku-bukunya penting kita telaah untuk berkontribusi menghapus kemelaratan dan ketimpangan. Sebab, 80 tahun kita merdeka dan sudah 50 tahun dikangkangi pemikiran serta agensi neoliberal, yang kita panen hanya kemelaratan dan ketimpangan. Tak ada lainnya.

Dengan ukuran pendapatan dan pengeluaran Rp.583 ribu rupiah, tingkat kemelaratan di Indonesia per Maret 2024 mencapai 9,03 persen, yang berarti sekitar 25,22 juta orang hidup di bawah garis kemelaratan. Garis kemelaratan sendiri ditetapkan sebesar Rp582.932 per kapita per bulan, dengan komponen makanan sebesar Rp433.906 dan bukan makanan sebesar Rp149.026.

Dengan menggunakan gini ratio, yang merupakan indikator untuk mengukur distribusi pendapatan atau kekayaan dalam suatu populasi, ternyata angka gini ratio pada September 2024 tercatat sebesar 0,381. Tentu ini angka yang menunjukkan tingkat ketimpangan kita tinggi. Bahkan mengkhawatirkan.

Ketimpangan di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan. Pada September 2024, gini ratio di perkotaan tercatat sebesar 0,402, sedangkan di perdesaan sebesar 0,308. Selebihnya, distribusi pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah tercatat sebesar 18,41 persen pada September 2024, dengan angka 17,44 persen di perkotaan dan 21,39 persen di perdesaan.

Angka-angka itu menjengkelkan dan memalukan di tengah begitu kaya negara ini akan SDA yang beragam dan berlimpah. Apa kritik Stiglitz pada kita yang bodoh karena iman pada neoliberalisme?

Berikut beberapa pemikirannya yang keren: (1) Stiglitz mengkritik asumsi ekonomi neoklasik yang menyatakan bahwa pasar selalu efisien dan individu selalu rasional. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa individu memiliki rasionalitas terbatas dan pasar tidak selalu efisien;

(2) Stiglitz percaya bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam mengatasi kegagalan pasar dan mempromosikan pembangunan ekonomi. Tentu saja sambil berkata bahwa pemerintah tidak selalu efektif dalam melakukan intervensi jika diisi para penjahat;

(3) Stiglitz mengkritik hiper globalisasi yang tidak diatur, sehingga memperburuk kesenjangan, ketimpangan dan ketidakadilan. Ia menyerukan perlunya intervensi pemerintah global untuk mengatasi kegagalan pasar dan memastikan bahwa manfaat globalisasi dinikmati secara adil;

(4) Stiglitz mengkritik IMF sebagai lembaga arogan dan tidak mendengarkan opini negara berkembang. Ia berpendapat bahwa IMF memberikan resep yang makin menghancurkan pasiennya. Negara pasien IMF secara perlahan mengalami resesi yang menuju pada depresi.

Dalam bukunya yang berjudul The Great Divide, Stiglitz mendiagnosa dan mengkritik hiper kapitalisme dalam tiga hal: (1) Ketimpangan bukan inevitable. Untuk itu, ia menolak pandangan bahwa ketimpangan adalah hukum alam. Ia menegaskan bahwa jurang ketimpangan sosial lahir dari kebijakan politik: deregulasi sektor keuangan, pemotongan pajak bagi orang kaya, serta perlindungan oligarki melalui kekuasaan dan legislasi;

(2) Trickle down effect hanyalah ilusi belaka. Teori neoliberal yang berasumsi bahwa jika kelompok kaya semakin kaya, maka “tetesan” kemakmuran akan sampai ke bawah hanyalah omong kosong. Stiglitz membuktikan bahwa hal itu tidak terjadi. Kekayaan berhenti di lingkaran elit, tidak mengalir ke kelas menengah dan bawah. Akibatnya, konsumsi agregat melemah, lapangan kerja hilang, PHK merajalela, dan krisis berulang. Krisis global yang berulang adalah bukti nyata kegagalan trickle down effect;

(3) Rent seekinglah penyebab utama krisis ekonomi modern. Di sini, Stiglitz menyebut rent seeking sebagai kejahatan terbesar kapitalisme kontemporer. Industri farmasi, misalnya, memperpanjang paten obat agar harga tetap tinggi; industri hiburan memperpanjang hak cipta tanpa inovasi; sektor keuangan mencetak laba dari instrumen spekulatif tanpa produktivitas riil. Semua ini menjauhkan ekonomi dari inovasi dan keadilan, sekaligus memperbesar konsentrasi kekayaan pada elite global.

Dalam keseluruhan, pemikiran Stiglitz tentang ekonomi dan kebijakan publik sangat berpengaruh dan telah membentuk kebijakan ekonomi di seluruh dunia. Namun, seperti halnya pemikiran lainnya, gagasan Stiglitz juga memiliki kritik dan perdebatan yang berkelanjutan.

Di kita, pemikiran dan gagasan-gagasannya perlu dipelajari dan dipertimbangkan: bahwa aliran pemikiran neoliberalisme dan agensinya telah gagal total dalam mengelola ekonomi kesejahteraan bersama. Mereka makin kaya untuk dirinya, sambil memiskinkan selainnya. Kini saatnya tobat melarat dan mengganti mereka semua agar selamat dunia akhirat.

*Penulis adalah Ekonom Pancasila

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Mensos: Tiga Korban Penganiayaan di Sekolah Rakyat Jember Kembali Belajar

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:30

Agrinas Palma Bareng CPP Peringati Sumpah Pemuda Lewat Giat Sosial

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KNMP Disiapkan untuk Dongkrak Pendapatan Nelayan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KoMPAS Minta Polri Bersihkan Oknum Bermasalah dari Jabatan Strategis

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:03

Kapolri Mutasi Lagi, Kapusdokkes dan Kapuskeu Diganti

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:55

Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos, Wanita Asal Sumut Dipolisikan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:44

Investasi Era Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun Serap 5,4 Juta Tenaga Kerja

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:43

BRI Fellowship Journalism 2026 Ajak Jurnalis Terlibat dalam Urban Farming di Bandung

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:33

Kasus ISPA di 7 Provinsi Turun Drastis Usai Diguyur Hujan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:17

Prabowo Gratiskan Biaya Sekolah dan Perluas Kampus SMA Taruna Nusantara

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:58

Selengkapnya