Berita

Perdana Menteri Prancis Francois Bayrou (Foto: France24)

Dunia

Krisis Politik Prancis: Macron Dukung PM Bayrou Jelang Mosi Tidak Percaya

KAMIS, 28 AGUSTUS 2025 | 07:56 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan dukungan penuh kepada Perdana Menteri Francois Bayrou yang tengah menghadapi tekanan besar menjelang pemungutan suara mosi tidak percaya pada 8 September 2025 mendatang.

Langkah Bayrou mendorong parlemen untuk menyetujui rencana penghematan anggaran senilai sekitar 44 miliar Euro atau sekitar Rp770 triliun memicu penolakan luas dari berbagai pihak.

Partai-partai oposisi, baik dari sayap kiri maupun kanan, kompak menentang kebijakan tersebut. 


Partai sayap kanan bahkan menuntut Macron membubarkan parlemen dan mengadakan pemilu baru, sementara partai sayap kiri bahkan mendesak presiden untuk mundur. Menurut jajak pendapat Ifop yang dirilis Rabu lalu, 63 persen warga Prancis menginginkan parlemen dibubarkan dan pemilihan umum baru segera digelar.

Bayrou sendiri bertekad mempertahankan posisinya. Dalam pernyataannya, ia menegaskan akan beerjuang agar tetap berkuasa. Kepada partai-partai politik lawan, Bayrou menantang mereka untuk memilih “apakah berada di pihak kekacauan atau tanggung jawab”.

Sementara itu, Presiden Macron menyerukan para politisi untuk bersikap dewasa menghadapi krisis ini. 

“Saya meminta semua partai bertindak secara bertanggung jawab,” kata juru bicara Sophie Primas setelah rapat kabinet pada Rabu, dikutip dari AFP, Kamis 28 Agustus 2025.

Jika pemerintah kalah dalam pemungutan suara bulan depan, Macron harus memilih langkah besar, menunjuk perdana menteri baru, membubarkan parlemen dan mengadakan pemilu, atau bahkan mengundurkan diri. Namun, Macron sendiri mengisyaratkan bahwa pembubaran parlemen adalah opsi terakhir.

Di sisi lain, gerakan anti-penghematan yang dikenal dengan kampanye “Bloquons tout” atau “Blokir semuanya” semakin menguat. Mereka menyerukan aksi mogok nasional pada 10 September, hanya dua hari setelah pemungutan suara.

Krisis ini menjadi ujian politik terberat bagi Macron menjelang pemilihan presiden 2027, di mana kelompok sayap kanan melihat peluang besar untuk merebut kekuasaan.

"Hanya ada satu jalan keluar dari kebuntuan politik yang kita hadapi ini, yaitu kembali ke tempat pemungutan suara," ujar Jordan Bardella , ketua partai sayap kanan National Rally pada Selasa malam.

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

Lima BPD Berebut Jadi Tuan Rumah Munas BPP HIPMI XVIII

Minggu, 15 Februari 2026 | 12:17

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

UPDATE

Kemenkop Akselerasi Penerima PKH Jadi Anggota Kopdes Merah Putih

Selasa, 24 Februari 2026 | 21:44

DPR Wajib Awasi Partisipasi Indonesia di BoP dan ISF

Selasa, 24 Februari 2026 | 21:42

Polisi Gadungan Penganiaya Pegawai SPBU Dibekuk

Selasa, 24 Februari 2026 | 21:18

BPC HIPMI Rembang Dukung Program MBG Lewat Pembangunan SPPG

Selasa, 24 Februari 2026 | 20:56

Posisi Strategis RI di Tengah Percaturan Geopolitik

Selasa, 24 Februari 2026 | 20:55

Pertamina Harus Apresiasi Petugas SPBU Disiplin SOP Hingga Dapat Ancaman

Selasa, 24 Februari 2026 | 20:21

Menkop Ajak Seluruh Pihak Kolaborasikan KDKMP dan PKH

Selasa, 24 Februari 2026 | 20:19

Setop Alfamart dan Indomaret Demi Bangkitnya Kopdes

Selasa, 24 Februari 2026 | 19:52

PDIP soal Ambang Batas Parlemen: Idealnya Cukup 5-6 Fraksi di DPR

Selasa, 24 Februari 2026 | 19:29

BNI Ingatkan Bahaya Modus Phishing Jelang Lebaran

Selasa, 24 Februari 2026 | 19:25

Selengkapnya