Berita

Ilustrasi

Publika

Dari Swiss ke Patriot Bonds, Logika Terbalik Ala Danantara

OLEH: ISKANDAR SITORUS*
RABU, 27 AGUSTUS 2025 | 18:16 WIB

ENAM bulan usia bayi bernama Danantara sudah bikin gaduh. Bukannya menyekolahkan uang untuk diputar jadi laba malah menyekolahkan 36 direksi BUMN ke Swiss. Katanya supaya jadi pemimpin kelas dunia. Pertanyaan sederhana: siapa yang bayar tiket, hotel, dan biaya kursus mewah itu? Apakah fungsi SWF memang melatih orang, atau mengelola modal rakyat?

Belum sempat publik menelan pil pahit muncul lagi wacana Patriot Bonds Rp50 triliun. Konsepnya terbitkan surat utang, iming-iming kupon rendah, lalu ajak konglomerat domestik beli dengan bumbu kata 'patriotisme'. Tapi secara substansi tetap saja utang, bukan investasi. 

Di dunia SWF logika begini malah dibaca terbalik. SWF seharusnya jadi pemberi modal, bukan pencari utang.


Mari bandingkan dengan saudara-saudara tuanya di dunia. Di Norwegia usia 6 bulan pertama sudah membeli obligasi global miliaran dolar di sektor migas.

Singapura, GIC/Temasek, sejak lahir langsung masuk ke saham raksasa global, real estate, dan infrastruktur.

Di Qatar uang surplus migas diparkir di hotel, bank, dan klub bola top Eropa.

Lalu Danantara pada 6 bulan pertama, menyekolahkan direksi dan rencanakan utang Rp50 triliun.

Kalau SWF di negara lain sovereign wealth fund, kok Danantara malah cocoknya disebut sovereign weak fund. Kuat di narasi lemah di isi.

Soal Patriot Bonds, memang dikemas indah tapi ada risiko konstitusional. Pasal 23 UUD 1945 jelas menyatakan semua penerimaan-pengeluaran negara harus lewat APBN. Kalau ada obligasi diterbitkan di luar mekanisme APBN berpotensi menciptakan shadow budget atau anggaran gelap yang tak terawasi DPR maupun BPK.

Masalah lainnya, jika proyek yang dibiayai Patriot Bonds gagal, siapa yang bayar kembali? Logikanya balik lagi ke BUMN lalu ke rakyat. Jadi, publik yang membayar kegagalan sementara pengurus Danantara tetap aman dengan gaji dan tunjangan.

Pertanyaan untuk Danantara, kalau SWF dunia 'menyekolahkan uang', kenapa di sini 'direksinya yang disekolahkan'? Kalau SWF dunia mengurangi ketergantungan utang, kenapa di sini malah bikin obligasi baru?

Jangan-jangan SWF kita hanya 'Surat Wasiat Fiskal' yang isinya janji manis tapi akan menjadi beban rakyat di masa depan?

Jangan bikin Presiden Prabowo jadi baby sitter fiskal dong. Yang benar sekolahkan investasi dulu. Tunjukkan minimal dua transaksi investasi produktif sebelum 'menyekolahkan' direksi ke luar negeri.

Lakukan audit Patriot Bonds sejak dini. Pastikan bukan sekadar gali lubang tutup lubang dengan bumbu patriotisme.

Lalu lakukan transparansi bulanan, publikasikan status cash flow, utang, dan investasi. Kalau memang SWF, jangan malu buka data.

Terakhir stop proyek elitis, jangan bikin rakyat jadi sponsor gaya hidup korporat yang masih bayi.

Intinya enam bulan usia Danantara sudah menunjukkan 'gigi susu' yang salah arah. Belajar di Swiss, bukan belajar investasi. Terbitkan obligasi, bukan cetak dividen. Kalau begini jalannya, mimpi Presiden Prabowo untuk punya SWF kelas dunia bisa berubah jadi beban politik abadi.

*Penulis adalah Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW)

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya