Berita

Ilustrasi (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Tarif AS Porak-porandakan Perdagangan India hingga 48,2 Miliar Dolar AS

RABU, 27 AGUSTUS 2025 | 14:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah India memperkirakan tarif baru yang diberlakukan Amerika Serikat sebesar 50 persen akan mempengaruhi ekspor negara itu senilai 48,2 miliar Dolar AS. 

Pejabat memperingatkan bahwa bea tambahan ini bisa membuat pengiriman ke AS menjadi tidak layak secara komersial, yang berpotensi menyebabkan hilangnya lapangan kerja serta melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Presiden Donald Trump telah memperingatkan bahwa ia dapat mengenakan tarif baru dan batasan ekspor pada teknologi canggih dan semikonduktor sebagai tanggapan atas pajak layanan digital di negara lain yang menurutnya secara tidak adil menargetkan perusahaan teknologi Amerika. 


Pada  Selasa 26 Agustus 2025 waktu setempat, Trump menetapkan tarif AS  atas impor dari India telah berlipat ganda menjadi 50 persen.  Bea masuk ini termasuk yang tertinggi yang saat ini berlaku untuk semua mitra dagang Amerika.

"Sebagai Presiden Amerika Serikat, saya akan melawan negara-negara yang menyerang perusahaan-perusahaan teknologi Amerika kita yang luar biasa," tulis Trump di media social dikutip dari Yahoo Finance . Trump memang tidak menyebutkan negara mana saja yang dimaksud. Namun, kepada India, hal tersebut diberlakukan sebagai hukuman karena India masih terus membeli minyak Rusia, sebuah langkah yang dapat membuat ekspor banyak industri ke AS menjadi tidak kompetitif.

Tarif tersebut akan semakin merusak ekonomi India, negara Asia Selatan yang sudah melambat dan menyusutkan produk domestik brutonya hingga satu poin persentase.

Untuk meredam dampak tarif AS, pemerintah India tengah menyiapkan strategi multi-lapis, termasuk reformasi Pajak Barang dan Jasa (GST) guna mendorong permintaan domestik. 

Tarif 50 persen yang berlaku mulai Rabu 27 Agustus ini diperkirakan paling berat menghantam ekspor tekstil, udang, kulit, serta perhiasan dan batu mulia.

AS menyumbang hampir 40 persen dari ekspor produk perikanan India, sehingga sektor ini, khususnya udang, menjadi yang paling rentan. 

Sementara itu, produk farmasi, elektronik, dan minyak bumi tetap bebas dari bea baru ini. Menurut The Economic Times, India mengekspor barang senilai 86 miliar Dolar AS ke AS pada tahun fiskal 2025.

Populer

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

UPDATE

Forum IPEM 2026 Momentum Penting Perkuat Diplomasi Energi

Kamis, 19 Maret 2026 | 00:08

Polres Metro Tangerang Kota Ungkap 14 Kasus Curas Sepanjang Ramadan

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:45

Negara Bisa Menjadi Totaliter Lewat Teror dan Teknologi

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:28

Pengungkapan Pelaku Teror Air Keras Bukti Ketegasan Prabowo

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:10

YLBHI: Ada Pola Teror Berulang terhadap Aktivis hingga Jurnalis

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:51

Observatorium Bosscha: Hilal 1 Syawal Tipis di Ufuk Barat

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:32

TNI-Polri Harus Kompak Bongkar Teror Air Keras Aktivis KontraS

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:10

Umat Hindu Semarang Gelar Tawur Agung Kesanga Sambut Nyepi Saka 1948

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:56

YLBHI Minta Kasus Air Keras Andrie KontraS Disidang di Peradilan Umum

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:40

Kinerja Cepat Polri Ungkap Kasus Penyiraman Air Keras Tuai Apresiasi

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:11

Selengkapnya