Berita

Gedung DPR/MPR RI diduduki massa mahasiswa aksi 1998 yang menuntut reformasi dan turunnya Soeharto. (Foto: Istimewa)

Publika

Revolusi Sosial dalam Pandangan Islam dan Marxisme: Dari Diponegoro hingga Gen Z

OLEH: AGUNG NUGROHO
SELASA, 26 AGUSTUS 2025 | 06:41 WIB

DI sebuah malam gelap tahun 1825, Pangeran Diponegoro menyalakan api perlawanan. Di desa-desa Jawa, rakyat kecil berkumpul: petani, santri, hingga prajurit. 

Mereka tak hanya melawan Belanda, tapi juga feodalisme lokal yang menindas. Bagi Diponegoro, perang ini bukan sekadar politik, melainkan jihad sosial.

Lompatan waktu hampir dua abad kemudian, 1998. Di Jakarta, ribuan mahasiswa tumpah ruah di jalan. Spanduk bertebaran, megafon berteriak. Ada aktivis dakwah, ada kelompok kiri, ada nasionalis. Perbedaan ideologi mencair ketika satu musuh bersama harus ditumbangkan: rezim Orde Baru.


Dua adegan ini mungkin jauh secara waktu, tapi intinya sama: rakyat kecil melawan ketidakadilan. Dan di balik itu, ada dua arus pemikiran yang sering bertemu -- Islam progresif dan Marxisme.

Ali Syariati, intelektual asal Iran, pernah menegaskan: Islam sejati bukanlah ritual tanpa perlawanan. Islam adalah agama revolusi, yang berdiri di pihak mustadh‘afin (yang tertindas) melawan mustakbirin (yang menindas).

Gagasan ini bergema di banyak tempat. Hasan Hanafi memperkenalkan konsep “kiri Islam”, yakni membaca Al-Qur’an dari perspektif kaum kecil. Fazlur Rahman menekankan pembaruan tafsir agar pesan keadilan Islam terus relevan di dunia modern.

Pesannya jelas: iman sejati bukan sekadar doa dan ibadah, tapi keberanian menegakkan keadilan sosial.

Sementara itu, Karl Marx menulis dengan bahasa yang berbeda. Bagi Marx, sejarah manusia adalah sejarah pertarungan kelas. Kaum buruh dan tani (proletariat) selalu berhadapan dengan pemilik modal (borjuis).

Islam progresif bicara dengan bahasa moral dan iman, sedangkan Marxisme bicara dengan bahasa struktur ekonomi-politik. Namun keduanya sering sampai pada tujuan yang sama: membongkar ketidakadilan dan berpihak pada rakyat kecil.

Sejarah Indonesia kaya dengan titik temu dua tradisi ini.

Perang Diponegoro (1825–1830): jihad melawan kolonialisme sekaligus feodalisme.

Sarekat Islam (1912): lahir dari pedagang batik, lalu jadi gerakan massa yang mempertemukan Islam dengan sosialisme.

1950–1960an: gerakan buruh dan tani menguat, Islam berbicara soal keadilan, Marxisme soal eksploitasi kelas.

Orde Baru: suara kiri dibungkam, Islam dijinakkan. Namun di balik pintu kos mahasiswa, buku-buku Syariati dan Marx tetap dibaca.


Reformasi 1998: mahasiswa dari berbagai ideologi bersatu, melahirkan momen persaudaraan lintas garis perjuangan.

Dari sini terlihat: Islam progresif dan Marxisme sering bertemu ketika rakyat butuh alat melawan.

Dua dekade setelah Reformasi, bentuk perlawanan berubah. Identitas ideologi tak lagi kaku. Gerakan sosial kini lebih cair dan digital.

1. Petani Kendeng menyemen kaki di depan istana.

2. Buruh menolak UU Cipta Kerja.

3. Aktivis lingkungan menggaungkan isu krisis iklim.

4. Gen Z ramai-ramai bersuara soal Palestina, demokrasi, hingga kesetaraan gender.

Platformnya berganti: dari jalanan ke media sosial. Tapi narasi yang dipakai tetap akrab. Islam progresif hadir lewat bahasa moral (amar ma’ruf nahi munkar, jihad sosial), Marxisme tetap relevan untuk mengurai akar struktural ketidakadilan.

Mustadh‘afin = Proletariat

Kalau dirangkum sederhana:

Mustadh‘afin dalam Al-Qur’an = proletariat dalam Marxisme.

Mustakbirin = borjuis.

Bahasanya berbeda, tapi semangatnya sama: berpihak pada yang tertindas.

Dari Diponegoro hingga mahasiswa 1998, kita bisa melihat pola yang berulang: rakyat kecil bangkit, dan Islam progresif serta Marxisme kerap berjalan berdampingan.

Hari ini, di tengah dunia yang lebih digital, semangat itu tetap relevan. Entah lewat aksi jalanan, advokasi hukum, atau kampanye viral di TikTok, ruhnya sama: iman yang melawan dan analisis yang membebaskan.



*Penulis adalah Direktur Jakarta Institut





Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara 2026 Digelar di JCC, Dorong UMKM Naik Kelas

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:25

Jaksa Agung Rotasi 29 Jaksa Termasuk Dirdik Jampidsus

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:05

Bawaslu Mulai Susun Indeks Kerawanan Pemilu 2029

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:00

Refly Harun Kawal Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:45

Max Blumenthal Soroti Ancaman Kebebasan Pers akibat Kemitraan AS-Israel

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:43

OPM Pimpinan Kopitua Heluka Diduga Dalang Pembunuhan Tiga Warga Sipil di Yahukimo

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:39

Pemuda Jabar Peduli Gelar Santunan untuk Korban Pesta Rakyat Garut

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:36

Gus Yahya Siap Bertarung Lagi Pertahankan Kursi Ketum PBNU

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:32

Pakta Integritas Perempuan Bangsa Wujud Totalitas Besarkan PKB

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:30

Wakapolri Ingatkan Perwira Remaja: Satu Tindakan Menyimpang Rusak Kepercayaan Polri

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:21

Selengkapnya