Berita

Presiden ke-7 RI, Joko Widodo bersama Immanuel Ebenezer atau Noel yang kerap mengklaim sebagai aktivis 98. (Foto: Instagram Noel)

Politik

Aktivis Sejati Dicatat Sejarah, Tak Perlu Deklarasi

SABTU, 23 AGUSTUS 2025 | 22:14 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Seorang aktivis sejati tidak pernah merasa perlu mendeklarasikan dirinya sebagai aktivis. Sebab pada akhirnya, sejarahlah yang akan mencatat siapa yang benar-benar layak disebut aktivis.

“Menyandang predikat sebagai aktivis itu berat. Aktivis sejati tidak akan mau mendeklarasikan diri, tapi sejarah yang mencatat siapa aktivis sebenarnya,” ujar mantan tahanan politik (Tapol) era Presiden Jokowi, Dr. Yulian Paonganan atau Ongen di Jakarta, Sabtu, 23 Agustus 2025.

Ini cukup relevan di tengah derasnya arus politik praktis dan klaim sepihak dari kelompok yang menyebut sendiri sebagai “aktivis”.


Aktivisme, menurutnya, bukanlah sebuah gelar yang bisa dipajang atau dikapitalisasi demi kepentingan pribadi, melainkan konsekuensi dari perjuangan panjang, konsistensi, serta keberanian menghadapi risiko.

Dalam sejarah Indonesia, aktivis selalu hadir di titik-titik kritis perjalanan bangsa. Mulai dari gerakan mahasiswa era Orde Lama, perjuangan 1966, demonstrasi 1974, gerakan reformasi 1998, hingga berbagai aksi menuntut keadilan sosial di era demokrasi sekarang.

Mereka yang benar-benar terjun ke jalan, berhadapan dengan aparat, bahkan rela kehilangan kebebasan adalah wajah nyata aktivisme, bukan sekadar klaim.

Sebagai mantan tapol, Ongen memiliki pengalaman langsung bagaimana predikat “aktivis” membawa konsekuensi berat. Ia pernah merasakan kurungan karena sikap kritisnya terhadap kebijakan pemerintah di masa Presiden Jokowi.

Pengalaman itu meneguhkan pandangannya bahwa aktivisme sejati selalu dibayar mahal dengan pengorbanan kebebasan, rasa aman, bahkan masa depan.

Ongen menolak narasi aktivisme yang hanya berhenti pada pencitraan. Baginya, perjuangan seorang aktivis selalu tercatat, sekalipun ia sendiri tidak mengklaimnya. Sejarah dan masyarakatlah yang menilai.

Hal ini sekaligus menjadi kritik tajam terhadap fenomena yang kini marak, munculnya “aktivis instan” atau “aktivis deklaratif” yang hanya mengandalkan panggung politik atau media sosial untuk menyebut dirinya aktivis.

Contoh paling mutakhir adalah mantan Wamenaker Immanuel Ebenezer alias Noel, yang selama ini lantang mengklaim dirinya sebagai bagian dari “aktivis 98”.

Noel menempatkan diri seolah pejuang reformasi. Namun ironisnya, kini ia justru terjerat kasus dugaan korupsi. Noel diduga terlibat dalam praktik perampokan uang negara, sebuah ironi yang mencoreng nama besar gerakan mahasiswa 1998.

Fenomena Noel menunjukkan bahwa klaim sebagai aktivis tidak menjamin integritas seseorang. Label “aktivis 98” yang sering ia gunakan ternyata justru runtuh ketika berhadapan dengan kenyataan hukum.

Bagi Ongen, hal ini menegaskan bahwa sejarah dan publiklah yang berhak menilai, bukan klaim sepihak.

Sebaliknya, menilik sejarah, banyak tokoh besar bangsa yang awalnya muncul dari gerakan aktivisme. Soe Hok Gie misalnya, tidak pernah mendeklarasikan dirinya aktivis, namun catatan sejarah mengenangnya sebagai simbol perlawanan mahasiswa terhadap ketidakadilan.

"Aktivis sejati tidak pernah perlu menegaskan dirinya. Jejak langkah, keberanian, dan konsistensi mereka akan abadi dalam catatan sejarah bangsa," pungkasnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Mensos: Tiga Korban Penganiayaan di Sekolah Rakyat Jember Kembali Belajar

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:30

Agrinas Palma Bareng CPP Peringati Sumpah Pemuda Lewat Giat Sosial

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KNMP Disiapkan untuk Dongkrak Pendapatan Nelayan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KoMPAS Minta Polri Bersihkan Oknum Bermasalah dari Jabatan Strategis

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:03

Kapolri Mutasi Lagi, Kapusdokkes dan Kapuskeu Diganti

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:55

Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos, Wanita Asal Sumut Dipolisikan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:44

Investasi Era Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun Serap 5,4 Juta Tenaga Kerja

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:43

BRI Fellowship Journalism 2026 Ajak Jurnalis Terlibat dalam Urban Farming di Bandung

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:33

Kasus ISPA di 7 Provinsi Turun Drastis Usai Diguyur Hujan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:17

Prabowo Gratiskan Biaya Sekolah dan Perluas Kampus SMA Taruna Nusantara

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:58

Selengkapnya