Berita

Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan. (Foto: TA DPR RI)

Politik

APBN 2026 Harus Perkuat Transformasi Ekonomi di Tengah Ketidakpastian

SABTU, 23 AGUSTUS 2025 | 01:09 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 tidak boleh dipandang sebatas dokumen fiskal. 

Menurut Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan, RAPBN harus berfungsi sebagai motor pertumbuhan ekonomi yang mampu menjaga stabilitas sekaligus mendorong transformasi struktural.

“APBN 2026 bukan sekadar angka dalam tabel. Ia adalah wujud keberanian pemerintah menjaga daya dorong ekonomi di tengah tekanan global yang semakin kompleks. Target pertumbuhan 5,4 persen bukan angka asal, melainkan cerminan tekad agar Indonesia tidak terjebak dalam stagnasi,” kata Marwan lewat keterangan resminya yang diterima redaksi di Jakarta, Sabtu, 23 Agustus 2025.


Sekretaris Fraksi Partai Demokrat ini menilai target pertumbuhan 5,4 persen merupakan sinyal kuat bahwa Indonesia tidak boleh larut dalam pesimisme. Apalagi, proyeksi lembaga internasional hanya menempatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,7 hingga 4,8 persen. 

Hal itu, menurutnya, menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk menunjukkan optimisme sekaligus keberanian dalam menjaga momentum ekonomi.

Meski demikian, Marwan mengingatkan agar optimisme itu tetap berpijak pada realitas. Saat ini, ekonomi dunia hanya tumbuh sekitar 2,3 persen, disertai bayang-bayang resesi di negara maju, ketegangan geopolitik, dan kebijakan suku bunga tinggi yang berkepanjangan. 

“Karena itu, RAPBN 2026 harus menjadi instrumen yang bukan hanya menjaga stabilitas, tetapi juga memperkuat daya tahan ekonomi nasional,” ujarnya.

Marwan menyoroti risiko pelebaran defisit yang tak bisa diabaikan. Penurunan harga komoditas dapat menggerus penerimaan pajak, sementara lonjakan harga pangan dan energi berpotensi membebani subsidi. 

"Yang lebih mengkhawatirkan, pembayaran bunga utang sudah mendekati Rp600 triliun, hampir setara dengan seluruh belanja pendidikan. Ini peringatan keras bahwa pembiayaan harus dikelola dengan disiplin dan inovasi,” tegasnya.

Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang tidak hanya mengandalkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), tetapi juga mendorong pemanfaatan sovereign wealth fund, kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), serta pendalaman pasar keuangan domestik. 

Diversifikasi pembiayaan, menurut Marwan, penting untuk mengurangi ketergantungan pada utang konvensional sekaligus memperluas ruang fiskal. Dari sisi penerimaan, dia menekankan bahwa target kenaikan pajak 13,5 persen harus ditempuh secara adil. 

“Kenaikan ini tidak boleh menambah beban masyarakat. Caranya melalui digitalisasi, peningkatan kepatuhan, dan perluasan basis pajak. Teknologi harus menjadi senjata utama untuk menutup kebocoran dan memperkuat keadilan pajak,” jelasnya. 

Marwan juga menambahkan bahwa sinergi fiskal dan moneter akan sangat menentukan efektivitas APBN, mengingat risiko imported inflation nyata dengan kurs rupiah diperkirakan di kisaran Rp16.500 per dolar AS. Dia juga menekankan bahwa kunci keberhasilan RAPBN 2026 terletak pada eksekusi yang tepat sasaran. 

“Setiap rupiah belanja negara harus ditempatkan pada sektor dengan multiplier effect tinggi. Program makan bergizi gratis memang penting untuk menjaga daya beli, tetapi ke depan kita butuh investasi besar di infrastruktur digital, energi hijau, dan industri manufaktur agar daya saing meningkat. Transformasi digital dan hilirisasi tidak boleh hanya jadi jargon,” katanya.

Marwan memastikan Fraksi Partai Demokrat mendukung penuh RAPBN 2026 yang membawa arah jelas; menjaga pertumbuhan, melindungi rakyat, dan mendorong transformasi ekonomi. Namun, ia menegaskan dukungan tersebut tidak berarti mengurangi fungsi pengawasan. 

“Sebaliknya, DPR akan memastikan setiap kebijakan berjalan efektif, transparan, dan akuntabel. APBN adalah janji kepada rakyat untuk menjaga harga stabil, menciptakan lapangan kerja, dan memastikan Indonesia terus bergerak maju meskipun badai global tak kunjung reda,” pungkas Marwan.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Digelar di Ambon, Muktamar XIV KAMMI Usung Semangat Ale Rasa, Beta Rasa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:29

KPU Perlu Keluarkan Surat Gibran Tidak Memenuhi Syarat Wapres

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:13

Gumarang Soroti Perubahan Sikap Rocky Gerung Setelah Masuk Lingkaran Istana

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:48

10 Saham Paling Tertekan saat IHSG Anjlok 7 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:16

OJK Serahkan Lagi Hasil Penelusuran Aset DSI, Bareskrim Sudah Sita Rp432 Miliar

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:04

Eksekusi Suntik Mati Gagal, Christa Pike Akui Alami Trauma dan Rasa Sakit

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:52

Harga Bitcoin Tertekan Setelah Binance Dibobol Hacker

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:44

Pendiri Ayam Goreng Suharti Tutup Usia, Merintis Bisnis Sejak 1956

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:30

Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:19

Kemlu Dalami Informasi WNI Tewas Saat Dinas Militer di Rusia Lewat KBRI Moskow

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05

Selengkapnya