Berita

Ilustrasi bendera merah putih. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Yamtono_Sardi)

Publika

Elegi 80 Tahun Merdeka:

Republik Dalam Cengkeraman Orang Besar

SABTU, 16 AGUSTUS 2025 | 15:11 WIB | OLEH: FIRMAN TENDRY MASENGI*

DELAPAN puluh tahun setelah proklamasi, Indonesia tidak lagi berdiri sebagai janji kemerdekaan, melainkan sebagai teater besar di mana hukum, keadilan, dan kesejahteraan hanyalah properti panggung. Rakyat dipaksa duduk di kursi penonton, menelan naskah yang sama saban dekade: pejabat bersumpah atas nama rakyat, negara berjanji atas nama keadilan, dan penguasa bicara tentang kemajuan. Namun, ketika layar ditutup, yang tersisa hanyalah timbunan sampah  kepercayaan dan bau busuk  kebohongan.

Hukum yang dulu dibayangkan sebagai fondasi bangsa kini menjelma sekumpulan kalimat busuk yang ditopang  kepalsuan. Undang-undang dibuat bukan untuk melindungi warga, melainkan untuk memastikan kekuasaan tetap langgeng. Pasal demi pasal ditulis seperti pagar kawat berduri, membatasi rakyat agar tunduk, sambil memberi jalan lebar bagi elit untuk melenggang. Di pengadilan, kebenaran tak lagi dicari; ia diperdagangkan. Putusan ditentukan bukan oleh nurani hakim, melainkan oleh seberapa tebal amplop dan seberapa tinggi jabatan terdakwa. Rakyat kecil yang mencuri sekilo beras menerima palu vonis seberat besi, sementara pejabat yang menilap triliunan diselimuti alasan kesehatan atau mendapat pengampunan dengan nama manis: rekonsiliasi.

Kemiskinan, alih-alih diberantas, dipelihara. Ia menjadi bahan bakar politik yang membuat rakyat selalu bergantung. Subsidi setengah hati, bantuan sosial yang sering bocor, dan janji pekerjaan yang tak pernah ditepati menjadi teknik lama yang terus diulang. Negara memastikan rakyat tetap lapar, sebab rakyat lapar mudah dikendalikan. Dengan perut kosong, mereka bersedia menerima apapun: selembar kaus saat pemilu, sekarung beras saat kampanye, segenggam janji yang tak pernah ditepati. Di negeri ini, kemiskinan bukan aib bagi penguasa, melainkan strategi.


Korupsi pun telah menjadi sistem. Ia bukan lagi tindakan menyimpang, tetapi bagian dari denyut nadi birokrasi. Dari pejabat tinggi hingga aparat kecil di desa, suap menjadi bahasa komunikasi yang sah. Anggaran negara dirancang bukan untuk pembangunan, melainkan untuk proyek-proyek siluman yang memberi makan oligarki. Rakyat hanya mendengar angka fantastis: triliunan rupiah untuk infrastruktur, miliaran untuk bantuan. Namun di lapangan, jalan tetap berlubang, sekolah tetap reyot, rumah sakit tetap penuh pasien miskin yang ditolak karena tak mampu membayar. Dana telah hilang sebelum sampai, lenyap di kantong mereka yang bersumpah demi rakyat.

Negara, pada akhirnya, hanya menjadi sosok raksasa yang berwajah dingin seperti Big Brother. Ia mengawasi, mengontrol, dan mengatur, tetapi tidak pernah hadir saat rakyat jatuh. Ia cepat menindak suara-suara kritis, tetapi lamban membasmi koruptor. Ia gagah memamerkan kemajuan di forum internasional, tetapi menutup mata terhadap kemelaratan di gang-gang sempit kota dan desa. Ia bicara lantang tentang demokrasi, tetapi menutup ruang bagi oposisi. Republik ini dipelihara bukan untuk rakyat, melainkan untuk segelintir penguasa yang memperlakukannya seperti warisan keluarga.

Delapan puluh tahun merdeka, dan kita menemukan diri kita di negeri yang serupa distopia: rakyat diajari untuk percaya pada slogan, meski kenyataan bertolak belakang. "Negara hukum" diteriakkan, padahal hukum tunduk pada kekuasaan.

"Kesejahteraan untuk semua" diumumkan, padahal kesenjangan makin menganga. 

"Bersih dari korupsi" dikampanyekan, padahal pejabat terus menumpuk harta haram. Kebenaran tidak lagi diukur dengan fakta, melainkan dengan apa yang diumumkan negara. Dan rakyat, kelelahan oleh janji dan ketakutan oleh represi, perlahan belajar menerima kepalsuan itu sebagai kenyataan.

Inilah wajah republik pada usia delapan puluh: sebuah negara yang secara formal merdeka, tetapi secara substansi masih terjajah. Dijajah oleh rakusnya pejabat, oleh tumpulnya hukum, oleh abainya negara terhadap rakyatnya sendiri. 

Sejarah yang dulu ditulis dengan darah para pejuang kini terasa seperti ironi yang menyesakkan: bangsa yang lahir dari perlawanan terhadap penjajah, kini diperintah oleh anak kandungnya sendiri yang berperilaku lebih kejam daripada kolonial.

Jika Orwell menuliskan Oceania sebagai negeri di mana kebohongan dipaksakan sebagai kebenaran, maka Indonesia hari ini adalah cerminan yang tak kalah muram: negeri yang terus menerus mengulang janji kemerdekaan, tetapi gagal menghadirkan keadilan. Delapan puluh tahun, dan kita masih mencari arti dari kata "merdeka".

*Penulis adalah advokat/aktivis '98.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

IPW Desak Transparansi Penegakan Hukum Kasus 1.048 Ton Udang Impor di Jatim

Minggu, 01 November 2026 | 01:50

Langkah Polisi Tangani Kasus Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo Diapresiasi Warga

Minggu, 01 November 2026 | 01:24

Polda Metro Siap Dikritik Buntut Penyelenggaraan Deklarasi Sumpah Pemuda 29 Oktober

Minggu, 01 November 2026 | 00:43

Ramai Logo Muncul di TIME100 Next Gala, Danantara Bantah Bayar Dana Sponsorship

Minggu, 01 November 2026 | 00:16

Pengurus Baru SAPMA PP DKI Jakarta Siap Berkolaborasi dengan Pemprov

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:47

Polisi Tangkap Pelaku Penembakan di Kampung Ambon, Ini Motifnya

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:17

Winda Marfita Pastikan Tak Terlibat Kasus Investasi PT MBS yang Dilaporkan Nur Istianti

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:57

Asrul Haruna Terpilih Sebagai Koorpresnas BEM PTMA Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:43

Rembuk Pemuda Himpun Aspirasi dari 29 Provinsi, Kukuhkan DPP Pertama

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:32

PPP Maluku Tolak Pemberhentian Agus Suparmanto-Taj Yasin

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:44

Selengkapnya