Berita

Ilustrasi (Foto: Artificial Intelegence)

Bisnis

Bos Kripto Korea Selatan Mengaku Bersalah dalam Kasus Penipuan di AS

KAMIS, 14 AGUSTUS 2025 | 13:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pengusaha kripto asal Korea Selatan, Do Kwon, mengaku bersalah atas dua tuduhan Amerika Serikat, yaitu konspirasi untuk menipu dan penipuan melalui jalur komunikasi elektronik (wire fraud).

Kwon, 33 tahun, adalah pendiri Terraform Labs yang berbasis di Singapura, pengembang mata uang kripto TerraUSD dan Luna. Ia memberikan pengakuan tersebut dalam sidang di New York, Selasa, 12 Agustus 2025, di hadapan Hakim Distrik AS Paul Engelmayer.

Sebelumnya, pada Januari 2025, Kwon sempat mengaku tidak bersalah atas sembilan dakwaan, termasuk penipuan sekuritas, penipuan komoditas, penipuan melalui jalur elektronik, serta pencucian uang.


Dikutip dari Reuter, Kamis 14 Agustus 2025, jaksa menuduh Kwon menyesatkan investor pada 2021 tentang TerraUSD, sebuah stablecoin yang dirancang untuk mempertahankan nilai setara 1 Dolar AS.

Saat TerraUSD anjlok pada Mei 2021, Kwon mengklaim nilainya pulih berkat algoritma Terra Protocol. Namun, menurut jaksa, pemulihan itu terjadi karena perusahaan perdagangan frekuensi tinggi yang ia atur diam-diam membeli token senilai jutaan dolar untuk mengangkat harganya secara artifisial.

Klaim palsu ini, kata jaksa, mendorong investor ritel maupun institusional membeli produk Terraform, sehingga nilai Luna, token yang terkait erat dengan TerraUSD , melonjak hingga 50 miliar Dolar AS pada awal 2022.

Jaksa AS Manhattan, Jay Clayton, menyebut Kwon telah memanfaatkan janji teknologi dan euforia kripto untuk melakukan “salah satu penipuan terbesar dalam sejarah.”

Kwon kini menghadapi hukuman penjara maksimal 25 tahun. Namun, jaksa setuju untuk merekomendasikan hukuman tidak lebih dari 12 tahun jika Kwon menerima tanggung jawab penuh. Vonis akan dibacakan pada 11 Desember 2025.

Di pengadilan, Kwon meminta maaf dan mengakui telah membuat pernyataan menyesatkan dengan menyembunyikan peran perusahaan perdagangan dalam memulihkan harga TerraUSD.

"Saya membuat pernyataan yang salah dan menyesatkan tentang alasan mata uang tersebut kembali ke patokannya dengan tidak mengungkapkan peran perusahaan perdagangan dalam memulihkan patokannya," kata Kwon.

"Apa yang saya lakukan itu salah," ujarnya.

Pada 2024, ia sepakat membayar denda perdata 80 juta Dolar AS dan dilarang melakukan transaksi kripto, sebagai bagian dari penyelesaian sebesar 4,55 miliar dolar AS dengan Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC).

Kwon telah ditahan sejak diekstradisi dari Montenegro pada akhir 2024. Ia juga menghadapi tuntutan hukum di Korea Selatan. Sebagai bagian dari kesepakatan, jaksa AS tidak akan menentang permohonannya untuk dipindahkan ke luar negeri setelah menjalani separuh masa hukumannya di AS.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya