Berita

Ilustrasi bansos. (Foto: CAT)

Publika

Data Ngawur Bansos

RABU, 13 AGUSTUS 2025 | 02:25 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KALAU ada olimpiade dunia untuk kategori Data Paling Kacau, Indonesia mungkin tak hanya juara satu, tapi juga jadi maskot lomba. Karena data ngawur, bansos yang seharusnya menolong orang lapar, malah mendarat manis di rekening pegawai BUMN, dokter, bahkan manajer perusahaan.

Laporan PPATK baru-baru ini bukan sekadar kabar burung. Dari sepuluh juta rekening penerima bansos (bantuan sosial), hampir 28 ribu adalah pegawai BUMN. Lebih dari tujuh ribu dokter. Ribuan eksekutif. Ada yang saldo tabungannya setara mobil baru, tapi tetap dapat bansos juga.

Purwakarta bahkan punya cerita spesial. Tiga puluh lima anggota DPRD tercatat menerima BSU (Bantuan Subsidi Upah). Alasannya? Gaji pokok mereka di bawah UMP. Secara teknis benar. Tapi secara moral, yah, sama saja seperti orang kaya nyamar jadi mahasiswa demi diskon student di Spotify.


Padahal kita punya sistem megah: Data Terpadu Kesejahteraan Sosial, lalu ganti nama jadi Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional. Namanya terdengar seperti teknologi mutakhir NASA. Nyatanya? Masih gagal membedakan antara tukang parkir dan tukang parkirkan uang di deposito.

Di desa, warga miskin yang betul-betul hidup dari beras raskin justru sering “tidak terdaftar di sistem”. Sementara mereka yang punya rumah dua lantai bisa lolos seleksi karena rajin mengisi formulir. Dalam dunia bansos kita, data yang paling update kadang justru dompet penerimanya, bukan status ekonominya.

Negara lain mainnya beda kelas. Brasil merasa perlu mengirim petugas langsung ke rumah penerima tiap dua tahun. India punya Aadhaar, kartu identitas biometrik yang menghubungkan bantuan ke rekening resmi.

Negeri kecil Estonia? Mereka tinggal buka laptop dimana data penghasilan, aset, hingga status keluarga, semua real time. Kita? Masih mengandalkan rapat koordinasi yang lebih sering ribut soal siapa yang berhak mengoreksi Excel.

Masalahnya, bicara verifikasi lapangan di negeri ini kadang seperti mengajak orang yang belum bisa berenang untuk langsung lomba renang maraton. Mendata saja masih ketuker antara “miskin” dan “miskin gaya”, apalagi kalau harus kirim tim khusus untuk ngecek ke rumah warga.

Memang sih, secara teori pak Prabowo Subianto bisa mengerahkan polisi, tentara, atau bahkan drone buat patroli bansos. Tapi bayangkan pemandangannya dimana tentara lengkap dengan seragam loreng datang cuma buat memastikan si penerima benar-benar tidak punya kulkas dua pintu. Lucu, tapi tragis.

Pilihan realistisnya ya sebenarnya mulai dari yang dekat yakni RT dan RW. Mereka kan tahu siapa yang setiap hari harus ngutang di warung, dan siapa yang tiap minggu belanja ke mall. Tapi itu tadi, kalau RT-nya kebetulan sepupu penerima “palsu”, siap-siap saja daftar bansos berubah jadi daftar undangan reuni keluarga besar.

Lucunya, setiap kali data ngawur ini terbongkar, solusinya hampir selalu sama: ganti nama program, bikin logo baru, lalu luncurkan dengan seremoni meriah. Habis itu, tunggu saja kejadian serupa tahun depan.

Kalau tidak ada gebrakan besar dalam verifikasi data, bansos akan terus jadi sinetron berseri: setiap episode sama, hanya judulnya yang ganti. Adegan komedinya bikin kita tertawa, adegan tragisnya bikin kita merenung, sambil bertanya, siapa sebenarnya yang sedang dibantu negara?

Dan jangan-jangan, kalau tren ini dibiarkan, kata “bansos” kelak akan punya makna baru: Bantuan Sosial untuk Siapa Saja yang Sempat Mengisi Formulir.

Penulis adalah Wartawan Senior


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya