Berita

Seruan boikot produk Amerika di India/Facebook Swadeshi Jagran Manch

Dunia

Tarif Trump Picu Gelombang Sentimen Anti Amerika di India

SELASA, 12 AGUSTUS 2025 | 12:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kebijakan tarif 50 persen yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap barang-barang dari India mulai menimbulkan riak besar. 

Para pelaku bisnis dan pendukung Perdana Menteri Narendra Modi semakin lantang menyerukan sentimen anti-Amerika.

India, negara dengan penduduk terbanyak di dunia, selama ini menjadi pasar penting bagi merek-merek raksasa AS. Konsumen kelas menengah atas yang terus berkembang masih mengidolakan produk-produk internasional, melihatnya sebagai simbol gaya hidup modern.


Meta misalnya, memiliki jumlah pengguna WhatsApp terbanyak di India. Domino’s Pizza pun punya gerai lebih banyak di sana dibandingkan negara lain. Minuman Pepsi dan Coca-Cola mendominasi rak-rak toko. Bahkan, warga rela mengantre saat toko Apple baru dibuka atau saat Starbucks memberikan diskon.

Namun, tarif tinggi Trump mengubah suasana. Meskipun belum ada penurunan penjualan signifikan, seruan untuk membeli produk lokal dan meninggalkan merek Amerika semakin nyaring. Tagar, unggahan, hingga ajakan langsung di jalanan menyuarakan “Buatan India” sebagai kebanggaan nasional.

Manish Chowdhary, salah satu pendiri Wow Skin Science India, mengunggah video di LinkedIn yang mendesak dukungan untuk petani dan startup lokal. Ia mengajak India meniru Korea Selatan yang berhasil menjadikan makanan dan produk kecantikan mereka terkenal di seluruh dunia.

“Kita mengantre membeli produk dari ribuan kilometer jauhnya, bangga menghabiskan uang untuk merek asing, sementara produsen kita berjuang di negeri sendiri,” ujar Manish, dikutip dari Al-Jazeera.

Nada serupa datang dari Rahm Shastry, CEO DriveU India, penyedia layanan pengemudi panggilan. 

“India harus punya Twitter, Google, YouTube, WhatsApp, dan Facebook versi sendiri -- seperti China,” tulisnya di LinkedIn.

Perdana Menteri Modi pun menegaskan pesan itu. Dalam pertemuan di Bengaluru, Minggu lalu, ia menyerukan perusahaan teknologi India untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri.

Gerakan nasionalisme ekonomi ini juga diusung oleh Swadeshi Jagran Manch, kelompok yang dekat dengan Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Modi. Mereka menggelar aksi kecil di berbagai kota, menyerukan boikot terhadap merek-merek Amerika.

“Orang-orang mulai melirik produk India. Memang perlu waktu, tapi ini panggilan untuk nasionalisme dan patriotisme,” kata koordinator kelompok, Ashwani Mahajan.

Di media sosial, kampanye mereka semakin gencar. Salah satunya menampilkan poster bertuliskan “Boikot jaringan makanan asing” lengkap dengan logo McDonald’s dan merek restoran global lainnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bursa Asia Ambruk, Saham Teknologi Berguguran

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:30

Nasdaq Tertekan, Investor Wall Street Waspadai Inflasi AS

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17

Bidik Pasar Modal, Dua BUMD DKI Konsultasikan Rencana IPO ke OJK

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:06

Delta Tunda Penerbangan ke Arab Saudi Usai Serangan Riyadh hingga 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:46

Logam Mulia Tertekan Dolar Jelang Rilis Inflasi Amerika Serikat

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:29

Pasar Eropa Hijau Didorong Saham Perbankan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:13

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:56

Republik Konoha dan Krisis Ketiga

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:23

Olahan Sagu Inovasi TEP IPB University Ramaikan Festival Kali Maro IV Merauke

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:57

Ijazah bagi Kekuasaan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:27

Selengkapnya