Berita

Ilustrasi ChatGPT (Istimewa)

Publika

Mesin Berotak Bawaan

MINGGU, 10 AGUSTUS 2025 | 07:20 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

SORE-sore saya buka ChatGPT, dan disambut sebuah kalimat manis yang terdengar seperti iklan deterjen pemenang penghargaan Cannes: "Introducing GPT-5. ChatGPT now has our smartest, fastest, most useful model yet, with thinking built in — so you get the best answer, every time."

Alhamdulillah. Akhirnya, AI ini mengaku sudah punya kemampuan berpikir. Tinggal kita, manusia, yang datang maunya ikut berpikir, tapi malah duduk manis membiarkan otak jadi pasif. 

Seperti kita duduk di warung kopi sambil mengangguk-angguk mendengar ceramah ustaz Google. Hanya saja kali ini ustaznya berwajah silikon dan memakan listrik, bukan nasi. 


Klaim GPT 5 keterlaluan: "jawabannya terbaik, setiap saat." Rasanya seperti mendengar tukang baso teriak, “Ini baso paling enak sedunia!” padahal di lidah kita, kadang rasanya cuma “ya lumayanlah, asal lapar.”

Kalau mau diingat-ingat, ChatGPT ini perjalanannya singkat tapi penuh drama. Dilahirkan oleh OpenAI ke dunia pada 30 November 2022, langsung viral seperti bayi artis yang fotonya bocor ke infotainment. 

Dua bulan saja ia sudah tembus seratus juta pengguna. Ini bayi AI tercepat dapat KTP, bahkan sebelum tumbuh gigi. Versi awalnya berbasis GPT-3.5, lalu nyelonong ke GPT-4.

Kemudian tiba-tiba ia jadi GPT-4o yang bisa baca, dengar, dan lihat, lalu melahirkan GPT-4.1 dan o4-mini yang katanya jago “reasoning” (alias jago ngomong pintar-pintar). Dari warung kopi digital sampai rapat direksi perusahaan, semua orang mendadak mau ngobrol sama AI ini. 

OpenAI pun girang, sebab pada 2025 mereka sudah panen: 700 juta pengguna aktif mingguan dan pemasukan $12–13 miliar setahun. Ini setara Rp 192–224 triliun, kira-kira cukup buat membangun lebih dari 100 universitas negeri baru.

Tapi sebelum OpenAI sempat bikin pesta peluncuran resmi GPT-5, reporter Geekflare Keval Vachharajani sudah membongkar rahasianya. Keval memukannya di celah postingan di GitHub.

Mungkin admin GitHub ngantuk atau sedang kepencet enter, sehingga tanpa sengaja mengunggah detail GPT-5. Entah kenapa, postingan itu buru-buru dihapus, tapi jejak digitalnya sudah diselamatkan di archive.ph. 

Dalam dunia digital, jejak selalu ada. Mesin sedot website tiap detik menyimpannya. Ibarat gosip kampung: walau itu disuruh hapus dari grup WA, pasti sudah ada yang forward ke grup sebelah. 

Bocoran itu bilang GPT-5 akan lebih pintar, lebih cepat, dan lebih mampu menyelesaikan kode rumit tanpa banyak disuruh. GPT yang satu ini juga dibilang bisa jelasin sesuatu dengan lebih jelas. 

Dan katanya lagi, ia punya kemampuan “agentic” yang lebih kuat—entah artinya jadi agen properti atau agen rahasia, kita belum tahu. Semuanya kayak promo yang didesain ala perusahaan kongkomerat.

Varian GPT 5 macam-macam, dari yang otaknya berat sampai yang enteng untuk hemat biaya, dari yang super cepat sampai yang jago ngobrol multimodal untuk perusahaan besar. 

Tapi terus terang, saya yakin sebagian besar pengguna nanti tetap memakainya buat minta puisi ulang tahun atau resep sambal terasi. Saya juga yakin, paling-paling mereka minta dibikinkan pantun jawaban atas pantun rekan sebelah, sekedar menunjukkan diri bisa.

Secara ilmiah, klaim peningkatan kemampuan berpikir ini memang ada dasarnya. Riset transformer dan pelatihan multimodal membuktikan bahwa otak buatan bisa diajari menyusun logika dan memecahkan masalah yang dulu cuma bisa dilakukan manusia. 

Secara ilmiah, klaim peningkatan kemampuan “reasoning” ini memang masuk akal. Penelitian di bidang transformer architecture (Vaswani dkk., 2017) menunjukkan bahwa penambahan parameter dan optimalisasi pelatihan multi-modal dapat memperluas kemampuan penalaran simbolik dan pemecahan masalah kompleks. 

Tapi, para peneliti etika AI juga mengingatkan, model AI yang terlalu pintar dalam menggabungkan data bisa menghasilkan “halusinasi meyakinkan” - jawaban yang terdengar benar tapi sebetulnya salah. Jadi, hati-hatilah disuguhi jawaban yang salah, tapi diucapkan dengan gaya dosen yang penuh percaya diri.

Sam Altman, bos OpenAI, malah sudah teasing GPT-5 di X (yang dulunya Twitter, lalu jadi X, entah besok jadi apa). Dia memamerkan tangkapan layar GPT-5 yang sedang merekomendasikan film tentang AI. Mungkin maksudnya biar kita belajar dari film. 

Tapi kalau GPT-5 nanti empat tahun lagi mulai merekomendasikan siapa yang harus kita pilih di pemilu, nah itu beda cerita.

Saya ini bukan anti teknologi. Saya senang kalau ada mesin yang bisa diajak mikir bareng. Tapi saya geli tiap baca klaim OpenAI mengenai GPT 5: “Now with Thinking Built In.” Lha, sebelumnya apa? Now with Guessing Built In? 

Dari sudut pandang sosial, kemunculan GPT-5 ini akan memicu dua kubu: kubu “ini revolusi” dan kubu “ini akhir dunia”. 

Studi psikologi teknologi (Weizenbaum, 1976; Turkle, 2017) sudah mencatat bahwa setiap kali mesin makin pintar, manusia terpecah antara kekaguman dan kecemasan. Bedanya, kali ini pecahnya mungkin akan dibantu oleh GPT-5 yang memberi argumen untuk kedua pihak sekaligus.

Saran saya sederhana: jangan mudah percaya sama janji “jawaban terbaik setiap saat.” Bahkan kiai kampung saya yang hafal 30 juz pun kadang berkata, “Wallahu a’lam” - Tuhan yang lebih tahu. 

GPT-5, sepintar apa pun, tetaplah buatan manusia. Bedanya, kalau dia salah, dia minta maaf dengan sopan. Kalau manusia salah, biasanya malah marah-marah, menunjukkan arogansi atau kelemahannya.

Selamat datang GPT-5. Semoga kamu benar-benar membantu kami berpikir, bukan cuma membuat kami malas berusaha. Kita perlu berpikir keras bagaimana membuat Israel berhenti membunuh manusia.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Ombudsman RI Pelototi Tata Kelola Haji

Kamis, 23 April 2026 | 10:15

Kemlu Protes Spanduk "Rising Lion" Israel di RS Indonesia Gaza

Kamis, 23 April 2026 | 10:06

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp17.274 per Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 09:21

Kisah Epik Sang ‘King of Pop’: Film Biopik Michael Resmi Menggebrak Bioskop Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:18

Ketua KONI Ponorogo Sugiri Heru Sangoko Dicecar KPK Soal Pemberian Fee ke Sudewo

Kamis, 23 April 2026 | 09:15

MUI Minta Jemaah Haji Doakan Pemimpin Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:14

Bursa Asia Menguat: Nikkei Cetak Rekor

Kamis, 23 April 2026 | 09:07

Harga Minyak Kembali Tembus 100 Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 08:58

Wall Street Perkasa Berkat Donald Trump

Kamis, 23 April 2026 | 07:41

Pentagon Pecat Petinggi Angkatan Laut John Phelan di Tengah Gencatan Senjata

Kamis, 23 April 2026 | 07:25

Selengkapnya