Berita

Diskusi terbuka di Cafe Tatap Moeka, Margonda, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 9 Agustus 2025/Ist

Bisnis

Ekonomi Indonesia Masih Jauh ke Arah Pancasilaisme

MINGGU, 10 AGUSTUS 2025 | 06:28 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Dua ekonom Pancasilais, Prof. Yudhie Haryono dan Dr. Agus Rizal, menyoroti kondisi perekonomian Indonesia yang dianggap masih “terjajah” dalam diskusi terbuka di Cafe Tatap Moeka, Margonda, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 9 Agustus 2025. 

Berbasis perspektif ekonomi dan politik, mereka melukiskan situasi mutakhir ekonomi kita yang bukan hanya stagnan, melainkan masih berada dalam cengkeraman ketergantungan struktural terhadap entitas global.

Direktur Eksekutif Nusantara Centre, Prof. Yudhie Haryono,  menekankan bahwa meski Indonesia telah merdeka sejak 1945, namun secara ekonomi, bangsa ini belum sepenuhnya melepaskan belenggu kolonialisme dan ketergantungan. 


“Khususnya pada ekspor bahan mentah dan dominasi modal asing. Hal ini tercermin dari beberapa hal berikut: dominasi investor serta pasar global yang mengatur harga dan suplai; rendahnya pengolahan komoditas dalam negeri, sehingga nilai tambah lemah; dilema struktural: ekonomi bertumpu pada ekstraksi, bukan inovasi,” ujar Prof. Yudhie dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu, 10 Agustus 2025.

Menurutnya, ketergantungan ini tidak hanya menghambat kedaulatan nasional, tapi juga menjadi akar persoalan dalam upaya membangun identitas ekonomi yang mandiri. 

Prof. Yudhie tidak membicarakan fenomena ini secara mengawang. Ia merujuk sejarah ekonomi Indonesia yang panjang, bahkan sebelum reformasi 1998, ketika pertumbuhan tinggi sering kali ditopang oleh praktik korup, perampasan sumber daya alam, atau monopoli komoditas. 

Kondisi ini menciptakan distorsi struktural yang bahkan sulit dihapus dengan pertumbuhan tinggi pun.

Dr. Agus Rizal, ekonom muda berbakat dari Universitas M.H. Thamrin, mengupas tuntas akar-akar liberalisme dalam forum ini. 

Dengan pendekatan riset akademik dan catatan historis, Dr. Agus membahas root cause dari ideologi liberalisme, di mana ketimpangan dan ketergantungan telah menjadi bagian sistemik dari ideologi ini. 

“Perekonomian kita yang dibentuk oleh skema eksploitasi, baik oleh kapital global maupun elit lokal yang dibekingi birokrasi lemah saat ini adalah ejawantah dari ideologi neoliberalisme,” ujar Agus.

Diskusi ini membangkitkan satu kesadaran penting. Bahwa merdeka secara politik saja tidak cukup jika ekonomi masih dikendalikan oleh sistem lama. 

“Kita harus turun ke akar persoalan, ada kebutuhan serius terhadap rekonstruksi orientasi ekonomi bangsa dari ketergantungan menuju kemandirian; dari ekspor bahan baku menuju produk bernilai tinggi; dari birokrasi lemah menuju tata kelola transparan, dari neoliberalisme ke Pancasilaisme,” jelasnya.

“Di sinilah pentingnya kita memiliki sebuah UU Perekonomian Nasional. Sebuah peta jalan baru yang akan membawa ekonomi Indonesia-bukan ekonomi di Indonesia ke arah yang sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa, karena kemerdekaan bukanlah tujuan, tetap jembatan menuju kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh warga negara Indonesia,” pungkas Agus. 

Diskusi itu berkesimpulan bahwa ekonomi yang merdeka adalah ekonomi yang dirancang dari dalam untuk tumbuh bersama rakyat seluruhnya. Bukan sebagian, apalagi segelintir orang.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya