Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Gagasan Pokok Berdirinya Indonesia

Oleh: Yudhie Haryono*
MINGGU, 10 AGUSTUS 2025 | 03:19 WIB

SAAT limbo, kita cari pijakan. Saat gempa, kita cari pegangan. Saat banjir, kita cari terobosan. Saat lemas, kita cari tenaga tambahan. Inilah motivasi dari hadirnya artikel ini. Artikel untuk merefleksikan hari lahir Republik Indonesia dan usaha memproyeksikan usia 80 tahun pasca-kemerdekaan kita.

Hidup itu, kata Chairil Anwar (1922-1949), "Ada yang berubah, ada yang bertahan. Karena zaman tak bisa dilawan. Tetapi yang pasti kepercayaan, kemerdekaan, kesejahteraan harus diperjuangkan". Dalam rangka ini pula, kita menengok kembali gagasan dan pikiran para pahlawan yang telah merumuskan berdirinya negara ini demi: bersatu, berdaulat untuk adil dan makmur.

Terlebih, arti penting manusia bukan terletak pada apa yang diperoleh, melainkan apa yang sangat ia rindukan untuk diraih. Kita merindukan cita-cita dan cinta atas perealisasian nilai-nilai Pancasila. Makin ke sini makin teryakini argumen keniscayaannya.


Dus, refleksi dan proyeksi dahsyat ini bertujuan untuk mengingat kembali, meneguhkan iman dan kecerdasan atau menyambungkan pemikiran kita ke pikiran para pahlawan Indonesia. Sebab, merekalah kreator hadir dan lahirnya Indonesia di semesta.

Refleksi dan proyeksi ini sangat penting karena kita tidak ingin hidup seperti berenang di atas sungai panjang pemberian semesta, tapi beli galon aqua untuk mandi junub. Kita juga tidak ingin tidur di atas kasur warisan konglomerat semesta, tapi bangun jadi pengemis dan pemulung. Singkatnya, mari ziarahi ide besar para pendiri republik.

Secara etimologi, kata ziarah berasal dari bahasa Arab yaitu ‘ziyadah’ yang bermakna "berkunjung menengok dengan rindu yang menggebu". Lalu, kerinduan itu kita buka kembali dengan pertanyaan serius, "apa sih pikiran mereka, apa motif mereka ingin merdeka, mereka mau apa jika sudah merdeka, bagaimana mereka merealisasikan cita-cita dan mimpi itu?" Pasti enigmatik dan menarik.

Jika kita cermati, setidaknya ada lima ide besar yang beredar di antara pikiran para pendiri republik. (1) Revolusi nasional; (2) Republik Indonesia; (3) Pancasila; (4) Sistem majelis; (5) Kedaulatan ipoleksosbudhankam nasional.

Apa itu revolusi nasional? Ini adalah kesadaran penuh bahwa kemerdekaan kita tidak bisa diminta dengan diplomasi dan pengemisan. Pilihannya hanya perang bersenjata mengusir penjajah, menghancurkan kolonialisme. Caranya adalah konflik dan perlawanan bedil serta gerilya secara terus menerus sampai menang. Hal ini dibuktikan dengan semboyan: merdeka atau mati. Tidak ada kompromi.

Apa arti Republik Indonesia? Ini adalah negara berbentuk republik bernama Indonesia, di mana kekuasaan tertinggi dipegang oleh rakyat dan dilaksanakan oleh majelis yang dipilih secara demokratis via keterwakilan dan keterpilihan. Negara ini bertujuan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan kehidupan bangsa; melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Apa itu Pancasila? Ini merupakan dasar negara, falsafah bangsa dan ideologi resmi Republik Indonesia. Terdiri dari lima sila yang intinya periketuhanan, perikemanusiaan, perikerakyatan, perikebangsaan, perikeadilan. Ia berfungsi sebagai pedoman bagi pemerintah dan rakyat Indonesia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara sekaligus simbol kesatuan dan persatuan; juga landasan moral dan etika; serta pembentuk identitas dan karakter nasional.

Apa itu sistem majelis? Ini adalah sistem bernegara di mana kekuasaan tertinggi dipegang oleh sebuah majelis yang berisi wakil-wakil rakyat via keterwakilan dan keterpilihan. Sistem ini, memiliki kekuasaan untuk menetapkan undang-undang (dasar), memilih dan mengganti mandataris, mengawasi pemerintah, mewakili kepentingan rakyat, menafsirkan Pancasila dan konstitusi serta membuat haluan negara.

Apa itu kedaulatan ipoleksosbudhankam nasional? Ini adalah konsep yang menekankan pentingnya otonomi, jati diri, sistem-metoda-ciri khas Indonesia dalam mengelola negara dan pemerintahannya. Ini berarti bahwa kita memiliki kekuasaan penuh dan tanggung jawab untuk menentukan kebijakan, kurikulum, kwalitas, monev dan standar yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai bangsa. Kedaulatan ipoleksosbudhankam sangat penting untuk memastikan bahwa sistem bernegara dan berpemerintahan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan kebutuhan warga-negaranya.

Singkatnya, jika kita mampu mematerialisasikan lima ide besar tersebut, maka pasti Indonesia punya kedaulatan warga-negara; punya pemerintahan demokratis; punya tradisi pemisahan kekuasaan negara (legislatif, eksekutif, yudikatif); punya kebudayaan keadilan, kesetaraan dan kesentosaan. Kita jadi peradaban unggul di semesta.

Sebaliknya, jika gagal bahkan mengkhianati ide-ide tersebut, kita akan jadi peradaban terkutuk. Republik reyot yang sangat tidak menarik dihuni apalagi diwariskan pada penerus. Semoga kita jadi patriot sejati yang terus merealisasikannya di manapun, kapanpun dan dengan siapapun, plus dalam keadaan bagaimanapun.

*Penulis adalah Rektor Universitas Nusantara

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

PT CNI Serahkan Duit Rp401 Miliar ke Kejagung

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:27

Detik-Detik Bareskrim Gerebek Kasino di Batam: Pemain Panik, Rp7,7 Miliar Disita

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:23

Owner VIMA Buka Suara soal Legalitas dan Perizinan Resmi

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:51

Masyarakat Diminta Berikan Data Jujur untuk Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:46

Enam Perusahaan di Kalimantan Disanksi Terkait Karhutla

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:38

Corpus Juris Civilis Tahun 528 M sebagai Fondasi Hukum Modern

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:34

Destry Pimpin BI Cerminkan Kuatnya Kepemimpinan Perempuan

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:24

Prabowo Tahu Persis Siapa yang Ingin Menjatuhkannya

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:05

PGNMAS Boyong BerandaMAS di Danantara Housing Expo 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:03

Kemenperin Minta Tambahan Anggaran Rp1,72 Triliun

Senin, 31 Agustus 2026 | 18:54

Selengkapnya