Berita

BPS/Net

Bisnis

CELIOS Minta PBB Audit Data BPS Soal Pertumbuhan Ekonomi 5,12 Persen

SABTU, 09 AGUSTUS 2025 | 14:29 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Center of Economic and Law Studies (CELIOS) melayangkan surat resmi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengaudit Badan Pusat Statistik (BPS) terkait rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,12 persen pada kuartal II 2025.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai angka yang dipublikasikan BPS tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan. Menurutnya, BPS seharusnya menjaga independensi, transparansi, dan integritas data tanpa intervensi kepentingan politik.

"Surat yang dikirimkan ke PBB memuat permintaan untuk meninjau ulang data pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2025 yang sebesar 5,12 persen yoy," tegas Bhima dalam siaran pers, dikutip Sabtu 9 Agustus 2025.


CELIOS secara spesifik meminta Badan Statistik PBB, yakni United Nations Statistics Division (UNSD) dan UN Statistical Commission, melakukan investigasi teknis terhadap metode penghitungan produk domestik bruto (PDB) Indonesia, terutama pada kuartal II 2025.

Bhima mengaku telah menelaah kembali indikator yang disampaikan BPS, namun menemukan fakta yang bertolak belakang. Ia mencontohkan klaim pertumbuhan industri manufaktur yang tinggi, padahal Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur justru menunjukkan kontraksi.

"Porsi manufaktur terhadap PDB juga rendah, yakni 18,67 persen dibanding kuartal I 2025 yang sebesar 19,25 persen. Artinya, deindustrialisasi prematur terus terjadi. Data PHK massal terus meningkat dan industri padat karya terpukul oleh naiknya berbagai beban biaya. Jadi, apa dasarnya industri manufaktur bisa tumbuh 5,68 persen yoy?" ujar Bhima.

Senada, Direktur Ekonomi CELIOS, Nailul Huda, menganggap aneh pertumbuhan kuartal II 2025 yang justru lebih tinggi dibanding kuartal I 2025, padahal di periode tersebut terdapat Ramadan dan Idulfitri yang secara historis mendorong ekonomi lebih besar, namun pada kuartal I 2025 hanya tumbuh 4,87 persen secara tahunan. 

“Secara historis, pertumbuhan ekonomi biasanya lebih besar pada kuartal yang memiliki momen puasa dan lebaran,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Kebijakan Fiskal CELIOS, Media Wahyu Askar, menilai adanya tekanan institusional atau intervensi dalam penyusunan data BPS yang bertentangan dengan fundamental principles of official statistics.

"Data yang kredibel bukan hanya persoalan teknis, tetapi berdampak langsung terhadap kredibilitas internasional Indonesia dan kesejahteraan rakyat. Data ekonomi yang tidak akurat, khususnya jika pertumbuhan dilebih-lebihkan, dapat menyesatkan pengambilan kebijakan," wanti-wanti Media.

"Bayangkan, dengan data yang tidak akurat, pemerintah bisa keliru menunda stimulus, subsidi, atau perlindungan sosial karena menganggap ekonomi baik-baik saja. Pelaku usaha, baik itu besar dan UMKM, para investor, dan masyarakat pasti akan bingung dan terkena dampak negatif," imbuhnya.

BPS sebelumnya melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen yoy pada kuartal II 2025, dengan PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp5.947 triliun dan harga konstan Rp3.396,3 triliun.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

BKSAP DPR Dukung Menlu Arrmanatha Perkuat Diplomasi Bebas Aktif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:26

Korea Utara Uji Coba Rudal Berteknologi AI, Terbang Sejauh 1.000 Km

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:10

Kuota Internet Kok Masih Hangus? Ini Penjelasan Komdigi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:01

Banggar DPR Tekankan Disiplin Fiskal di Tengah Belanja Negara Rp4.106 Triliun

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:53

RUU Migas Ditargetkan Rampung 22 Oktober, DPR Ingatkan Pembahasan Harus Cermat

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:13

Kemenko PM Dorong Kolaborasi Dunia Usaha untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:09

Rangkap Jabatan Bahlil Harus Dimaksimalkan untuk Selaraskan Kebijakan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:05

KPK Ungkap Ada Setoran dari Kantah ke Tingkat Pusat ATR/BPN

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:36

Sequis Life Digugat Rp1,27 Miliar ke PN Jakarta Selatan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:28

AS Usir Dua Delegasi Iran Setelah Sidang Umum PBB

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:17

Selengkapnya