Berita

Ilustrasi/RMOL

Otomotif

Tarif Trump Bikin Produsen Mobil Rugi Rp198 Triliun, Toyota Paling Terpukul

JUMAT, 08 AGUSTUS 2025 | 12:47 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kebijakan tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump membuat 14 produsen mobil global merugi total sekitar 12 miliar Dolar AS atau setara Rp198 triliun. 

Tarif Trump mulai berlaku pada April 2025, dengan ketentuan seluruh kendaraan dan suku cadang impor dikenai tarif 10 persen sejak 5 April, lalu ditambah tarif khusus untuk negara tertentu mulai 9 April.

Menurut analisis Wall Street Journal yang terbit Kamis, 7 Agustus 2025, Toyota menjadi pihak yang paling terpukul dengan kerugian sekitar 3 miliar Dolar AS hanya di kuartal kedua, dan diperkirakan total rugi mencapai 9,5 miliar Dolar AS hingga Maret 2026. 


Volkswagen mengalami kerugian 1,5 miliar Dolar AS, sementara Ford dan General Motors sama-sama rugi lebih dari 1 miliar Dolar AS pada periode yang sama. Sementara Tesla menjadi produsen besar yang paling sedikit terdampak, meski tetap kehilangan sekitar 300 juta Dolar AS.

Laporan itu memperkirakan laba bersih sepuluh produsen mobil global terbesar di luar China bisa turun hingga 25 persen tahun ini. Beberapa negara mencoba meredam dampaknya dengan bernegosiasi. 

Uni Eropa saat ini dikenai tarif 27,5 persen untuk mobilnya di AS, dan sedang berusaha menurunkannya menjadi 15 persen dengan imbalan pemotongan tarif 10 persen untuk mobil Amerika. Jepang sudah mencapai kesepakatan serupa pada Juli, menurunkan tarif AS untuk mobilnya menjadi 15 persen sebagai bagian dari perjanjian bilateral.

Kerugian besar ini terjadi di tengah merosotnya penjualan mobil Barat di Eropa dan China. 

Produsen mobil listrik asal China semakin menguasai pasar, bahkan di paruh pertama 2025 pangsa pasar mereka di Eropa naik dua kali lipat menjadi 5,1 persen. Di China sendiri, penjualan Porsche anjlok 28 persen hingga menyebabkan penutupan dealer, sementara GM dan produsen lain juga mengalami penurunan penjualan.

Situasi makin memanas setelah Trump memperluas kebijakan tarifnya dengan memberlakukan tarif baru untuk hampir 70 negara lagi pada Kamis, termasuk Inggris, Swiss, Brasil, India, dan Taiwan.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya