Berita

MRT Jakarta/Ist

Bisnis

Tak Hanya Andalkan Penjualan Tiket

MRT Jakarta Raup Cuan Besar dari Enam Bisnis Ini

JUMAT, 08 AGUSTUS 2025 | 00:43 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

PT MRT Jakarta (Perseroda) tidak hanya menggantungkan pemasukan perusahaan dari penjualan tiket penumpang. Lebih dari itu, di balik jalannya kereta bawah tanah di jantung kota, perusahaan ini juga memiliki enam pilar bisnis non-tiket yang menopang operasional perusahaan.

Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta, Farchad Mahfud, menjelaskan bahwa sejak awal, MRT tak hanya dibangun sebagai moda transportasi, tetapi juga sebagai aset komersial yang bisa dimonetisasi secara menyeluruh.

"Prinsipnya adalah dari infrastruktur yang dibangun dan dioperasikan itu kita bisa pikirkan sebagai sebuah aset baru yang terdapat ruang komersial yang memiliki nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan operasional MRT Jakarta," kata Farchad kepada awak media, di Jakarta pada Kamis, 7 Agustus 2025.


Ia merinci enam bisnis tersebut antara lain bisnis periklanan yang terdapat di seluruh area MRT, termasuk di dalam stasiun, lorong bawah tanah, hingga pilar-pilar reklame. Bahkan, hak penamaan stasiun atau naming rights pun masuk sebagai bisnis periklanan yang menjanjikan, seperti penamaan Stasiun Bundaran HI Bank DKI, Cipete Raya Tuku, hingga Fatmawati Indomaret.

"Kita monetize semuanya sehingga boleh dibilang MRT ini sangat-sangat efisien dalam pemanfaatan untuk seluruh asetnya," tambah Farchad.

Ia bahkan mengungkapkan kontribusi naming rights tercatat mencapai 40 persen di luar penjualan tiket tau non-farebox MRT Jakarta.

Selain itu, seiring dengan perkembangan waktu dan tuntutan zaman, MRT Jakarta juga mengembangkan lini bisnis digital, dengan aplikasi, hingga pembayaran digital. 

Pandemi disebut Farchad menjadi salah momentum percepatan transformasi MRT Jakarta. Sebelumnya, aplikasi MRT hanya bisa menampilkan jadwal. Kini, aplikasi tersebut telah berkembang menjadi platform pembayaran tiket berbasis server, sekaligus kanal belanja digital. 

"Akhirnya kita go digital semuanya, efisien semua begitu kira-kira dan kita terus mengembangkan jenis-jenis pembayaran yang baru," tuturnya.

Kemudian di sudut-sudut stasiun MRT juga dimanfaatkan sebagai ruang komersial untuk bisnis retail, mulai dari UMKM, vending machine, hingga ATM. 

"Selama masa pandemi, kemampuan beli orang makin berkurang dan sebagainya kemudian kita masuk ke yang namanya intensifikasi pendapatan sehingga muncul ATM, vending machine, yang luas permukaannya kecil namun pendapatan relatif besar," jelas Farchad.

Tak berhenti di situ, MRT Jakarta bahkan membuka jasa konsultansi dan pelatihan untuk daerah lain yang ingin membangun sistem MRT serupa. Pengalaman membangun terowongan bawah tanah dan mengoperasikan fase pertama menjadi salah satu keahlian yang kini diunggulkan MRT.

"Bahkan beberapa dari perusahaan di luar negeri datang untuk belajar sama kita karena kita sudah mengoperasikan dan baru saja mengoperasikan asetnya," katanya.

Dalam skala kawasan, MRT Jakarta juga mendorong pengembangan Transit Oriented Development (TOD) di sekitar stasiun. Tujuannya tidak sekadar membangun gedung, tapi menghidupkan kawasan sebagai pusat aktivitas masyarakat yang terintegrasi dengan transportasi publik. 

Seiring dengan pengembangan TOD, MRT Jakarta juga turut mengembangkan bisnis event management dan merchandise untuk mendorong aktivitas di kawasan tersebut, dengan konsep business to consumer (b2c)

“Infrastrukturnya nggak boleh diem. Harus ada kegiatan, (untuk itu) kita bangun industri event agar bisa berkolaborasi dengan erbagai pihak untuk terus menghidupkan area TOD yang sudah kita kembangkan,” tandasnya.

Di sepanjang tahun 2024, MRT Jakarta sendiri tercatat meraup pendapatan paling besar dari hak penamaan stasiun dengan kontribusi hingga 50 persen. 

Selanjutnya, pendapatan MRT terbesar kedua disumbang oleh advertising sebesar 24 persen, mitra pembayaran 12 persen, retail 8 persen, telco dan digital 4 persen, event activation dan TOD masing-masing 1 persen.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

UPDATE

Demi Keamanan, Kapolri Patut Didukung Usut Dugaan Penyadapan Terhadap Presiden

Kamis, 05 November 2026 | 16:34

Potensi Wisata Besar Belum Dongkrak Ekonomi Sabang

Kamis, 05 November 2026 | 16:27

Pertamina Drilling Gandeng Halliburton Perkuat Operasional Migas di Timteng

Kamis, 05 November 2026 | 16:12

DPR Taruh Harapan di Pundak Suyudi dan Jajaran Usut Tuntas Kasus Listyo Sigit Dkk

Kamis, 05 November 2026 | 16:00

Bobolnya Lapis Pengaman Presiden

Kamis, 05 November 2026 | 15:48

Ekonomi Aceh Tetap Tumbuh Positif Meski Dihantam Bencana

Kamis, 05 November 2026 | 15:46

BPS: Pengangguran RI Berkurang 77 Ribu Orang per Agustus 2026

Kamis, 05 November 2026 | 15:38

Pertamina Hulu Energi Catat Torehan Manis Jelang Akhir Tahun

Kamis, 05 November 2026 | 15:33

ABP: Rakyat Tetap Berdiri Bersama Presiden Prabowo

Kamis, 05 November 2026 | 15:28

Jokowi Keberatan Roy Suryo Minta Ijazah Diperiksa Lagi

Kamis, 05 November 2026 | 15:22

Selengkapnya