Berita

Ilustrasi bendera Merah Putih dan One Piece/RMOL

Publika

Presiden Prabowo, One Piece, dan Harapan Generasi Muda

RABU, 06 AGUSTUS 2025 | 13:40 WIB | OLEH: IMMANUEL EBENEZER

FENOMENA bendera One Piece yang ramai menjelang HUT ke-80 RI memunculkan perdebatan sengit. 

Ada yang menganggapnya sebagai tanda pemberontakan terhadap simbol negara, ada pula yang membacanya sebagai ekspresi budaya populer anak muda. 

Di tengah keramaian ini, menarik untuk melihat satu hal yang jarang dibahas, bahwa nilai-nilai yang dihidupkan dalam cerita One Piece ternyata punya kemiripan dengan sikap dan kebijakan Presiden Prabowo hari ini.


One Piece bukan sekadar kisah bajak laut mencari harta karun. Ceritanya sarat tentang perlawanan terhadap penindasan, keberanian melawan ketidakadilan, dan kesetiaan pada sahabat. 

Luffy dan kru Topi Jerami selalu berdiri di pihak rakyat tertindas, melawan pemerintah dunia yang korup dan para bangsawan arogan yang kebal hukum. Narasi ini dekat dengan perasaan anak muda Indonesia yang muak pada ketidakadilan dan ingin perubahan nyata.

Kalau dicermati, ada paralel menarik antara karakter Luffy dan kebijakan yang dibawa Presiden Prabowo. 

Program makan bergizi gratis, misalnya, lahir dari ketidakmauan Prabowo melihat rakyatnya kelaparan –sama seperti Luffy yang selalu marah melihat rakyat menderita. 

Komitmen Presiden Prabowo untuk memberantas korupsi dan menutup tambang liar yang merusak lingkungan, juga sejalan dengan spirit One Piece, yaitu melawan sistem busuk dan membela mereka yang lemah. 

Upaya pemerintah mengambil kembali lahan sawit dari korporasi gelap pun terasa mirip momen kru Topi Jerami merebut kembali wilayah yang dirampas penguasa zalim dalam cerita anime itu.

Prabowo sendiri dikenal sering mengingatkan publik tentang sejarah, larangan, dan perintah yang lahir dari pengalaman panjang bangsa. 

Cara beliau menjelaskan kisah masa lalu dan makna larangan bukan sekadar retorika politik, tapi juga pengingat bahwa setiap kebijakan punya dasar moral dan nilai kebangsaan. 

Ini tak beda dengan One Piece yang menyembunyikan kebenaran sejarah “Void Century” sebagai inti perjuangan Luffy dan kawan-kawannya, yaitu menemukan masa lalu untuk menyelamatkan masa depan.

Fenomena bendera One Piece tidak bisa dilepaskan dari konteks ini. 

Anak muda yang mengibarkan simbol bajak laut itu bukan sedang menolak Merah Putih, tetapi sedang mencari simbol yang mereka rasa mewakili idealisme mereka: kebebasan, keadilan, dan solidaritas. 

Ironisnya, tanpa mereka sadari, figur pemimpin mereka hari ini justru memiliki karakteristik yang serupa dengan tokoh yang mereka kagumi. 

Presiden Prabowo sedang berjuang membersihkan sisa-sisa kotor di pemerintahan, melawan korupsi, dan memperjuangkan keadilan sosial. Nilai-nilai itu persis yang mereka rayakan di dunia One Piece.

Tentu, Merah Putih tetap sakral dan tak tergantikan. Itu simbol resmi bangsa dan pemersatu kita semua. Namun merespons fenomena ini dengan stigma atau ketakutan berlebihan hanya akan memperlebar jarak antara negara dan generasi mudanya. 

Kita perlu bersikap tenang dan jernih, mendengar dulu, memahami keresahan mereka, lalu mengarahkan semangat itu ke gerakan nasionalisme yang kreatif.

Anak muda hari ini bukan anti-negara. Mereka justru sedang mencari cara mencintai negaranya. Mereka ingin simbol yang mereka hormati juga mendengarkan isi hati mereka. 

Jika pemerintah bersedia mendengar, rasa kecewa itu bisa berubah menjadi energi positif. Dan energi itu bisa jadi kekuatan besar untuk mendukung agenda besar negara, memberantas korupsi, menutup tambang ilegal, merebut kembali aset negara yang dikuasai korporasi nakal, dan memastikan tak ada lagi rakyat yang kelaparan.

Fenomena bendera One Piece ini bukan ancaman, tapi alarm sosial. 

Alarm yang mengingatkan kita bahwa nilai keadilan dan kebebasan tidak boleh absen dalam kebijakan negara. 

Dalam kisah One Piece, perjuangan Luffy berakhir ketika dunia berubah jadi lebih adil. 

Dalam dunia nyata, tugas kita, dan juga Presiden Prabowo sebagai pemimpin, adalah memastikan Merah Putih bukan sekadar berkibar di tiang, tapi juga lahir dari cerita cerita yg terasa di hati mereka yang hari ini memilih bicara lewat simbol bajak laut.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Hubungan Industrial Harmonis Fondasi Penting Tingkatkan Kinerja Pelindo

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:45

Kemhan Renovasi Sekretariat LVRI dan Bedah Rumah Veteran di 19 Provinsi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:22

Seribu Lebih Ponpes Kini Bisa Kelola Dapur MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:45

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Polisi Tangkap Dua Orang Penghasut di Medsos terkait Pernyataan Prabowo soal Nuklir Iran

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:08

Pengusaha Nasional Didorong jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:55

IDCPC sebagai Instrumen Soft Power Diplomacy China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:35

Rencana Purbaya Kuasai Saham Whoosh Sudah Sampai ke Pemerintah China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:15

BGN Bidik Percepatan Pembangunan SPPG di Wilayah 3T

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:54

Perbankan Harus Beri Karpet Merah UMKM agar Naik Kelas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:28

Selengkapnya