Berita

Ilustrasi (Istimewa)

Publika

Minyak Serpih, Lupa Hilir (2)

Tanggapan atas tulisan Denny JA, "Make Pertamina Great Again"
RABU, 06 AGUSTUS 2025 | 07:16 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA


AH, Bung Denny JA. Saya baca lagi dan lagi tulisan-tulisan panjenengan soal energi, sambil ngopi hitam di warung sebelah gardu yang kadang hidup kadang ngedrop. Maknyus juga, membuat pikiran tak lepas-lepas dari antum.

Tapi jujur, tulisan njenengan semacam peta pikir yang "dijaga perimeter"-nya. Ada batas yang jelas antara apa yang dipikirkan dan apa yang tak boleh disentuh. Maklumlah, panjenengan sekarang bukan sekadar pengamat, tapi Komisaris Utama di PT Pertamina Hulu Energi. 

Kata kuncinya: Hulu. Nah. "Hulu"-isasi energi, mungkin begitu. Kalau boleh saya kaitkan dengan tafsir gaya Cak Lontong: “Hulu itu ya... bagian awal. Tapi kalau berpikir hanya dari hulu, ya siap-siap kesandung pas nyebur ke hilir.”

Kata kuncinya: Hulu. Nah. "Hulu"-isasi energi, mungkin begitu. Kalau boleh saya kaitkan dengan tafsir gaya Cak Lontong: “Hulu itu ya... bagian awal. Tapi kalau berpikir hanya dari hulu, ya siap-siap kesandung pas nyebur ke hilir.”

Begini Bung Denny, tulisan Anda tampak terpukau oleh success story George Mitchell di Amerika Serikat, yang konon ngotot selama berpuluh tahun mencari teknologi untuk mengolah minyak serpih alias shale oil —yang sebelumnya dianggap mustahil. Dan sukses.

Di sana, dengan teknik hydraulic fracturing (fracking) dan pengeboran horizontal, Mitchell berhasil mengubah formasi geologi yang keras kepala jadi sumur dolar. Amerika pun, dari tukang ngemis minyak berubah menjadi raja minyak dunia dalam satu dekade.

Saya akui, itu capaian teknologi kelas wahid. Tapi yaa, jangan lupa gaya Amerika, bukan tanpa cacat. Dampaknya nyata: Air tanah tercemar, gas metana bocor di mana-mana, dan gempa bumi skala kecil sudah jadi paket hematnya.

Dan ini bukan kata saya, Bung, tapi hasil riset lembaga-lembaga independen di Texas, Ohio, sampai North Dakota. Bahkan, Rusia menyebut pengeboran ala Amerika itu barbaris.

Untuk yang belum tahu: minyak serpih (shale oil) bukanlah minyak yang mengalir manja di bawah tanah seperti di Saudi Arabia. Ia tersimpan dalam pori-pori batu serpih di dalam bumi -rapat, keras, dan susah move on.

Maka dibutuhkan fracking: memompa air, pasir, dan bahan kimia bertekanan tinggi untuk memecah batu itu dan memaksa minyaknya keluar. Itu mahal ongkosnya. Harga keekonomian shale oil berkisar $50–$70 per barel. Kalau harga dunia jeblok? Ya rugi bandar.

Indonesia tentu punya shale. Badan Geologi bilang kita punya cadangan potensial minyak dan gas serpih, di Sumatera, Kalimantan, Jawa, bahkan Papua. Tapi, pengembangannya? Macet di hulu. Masalahnya bukan cuma teknologi, tapi juga:

Akses air untuk fracking masih sulit, karena di kita air justru rebutan buat sawah. Juga, risiko lingkungan, investasi yang belum jelas hitung-hitungannya. Dan, jangan lupa, urusan perizinan di negeri ini kadang lebih rumit daripada perceraian artis.

Saudi atau Iran tentu juga punya. Tapi kenapa tidak pakai shale Karena mereka nggak perlu. Negara-negara Teluk itu kaya akan minyak konvensional -minyak yang tinggal sedot, tanpa perlu fracking-frackingan. 

Mahal-murahnya harga produksi shale oil tak menggoyahkan ekonomi mereka. Bahkan Arab Saudi sempat dumping harga minyak demi bikin shale oil Amerika megap-megap. Untuk menjaga keseimbangan pasar, Amerika impor minyak dari Teluk.

Jadi kalau Anda berharap Indonesia jadi seperti AS dalam hal shale oil, maaf, kita tak punya kemewahan itu. Kita bukan Saudi yang punya minyak gampang, bukan AS yang punya teknologi dan infrastruktur kelas dunia, bukan pula Venezuela yang punya minyak tapi kelimpungan sendiri.

Sayangnya, mengapa energi terbarukan tak banyak Anda singgung? Mungkin karena itu bukan bagian dari "hulu" yang panjenengan kawal. Atau karena energi terbarukan (ET) masih dianggap utopia oleh sebagian elite migas. 

Tapi ini bahaya, Bung. Karena realitas global hari ini —dari Eropa, China, bahkan Vietnam— bergerak ke arah renewables. Energi matahari, angin, dan bahkan mikrohidro, kini bukan lagi tema seminar. Ia mulai masuk dapur rumah tangga. 

Indonesia pun punya limpahan potensi energi terbarukan hingga 400 GB. Rinciannya: 207 GW dari tenaga surya, 60 GW dari angin, 75 GW dari hidro.


Tapi kenapa belum digarap serius? Ya karena mindset hulu masih dominan. Di hulu sana, energi dianggap proyek besar, tambang raksasa, dan ladang bor yang seksi. Energi terbarukan tak menggiurkan karena tak bisa dikavling jadi "blok".

Selain iu, hulu-hilir tak nyambung. Inilah akar masalah kita: antara hulu dan hilir tak ada komunikasi batin. Listrik rakyat tersendat karena pembangkitnya terpusat di "hulu" jauh sana. Gas bumi kita jual keluar, sementara di dalam negeri antre elpiji bersubsidi. Ini seperti rumah tangga yang punya ladang tapi dapurnya kelaparan.

Maka saat Anda bicara energi, Bung Denny, dengan segala hormat, kami ingin mengajak panjenengan ngobrol juga soal hilir. Tentang rakyat kecil yang kena polusi PLTU, tentang desa-desa yang masih gelap, tentang petani yang harus milih: air untuk sawah atau fracking?

Saya tahu, posisi Anda sekarang tak bisa sembarangan. Tapi seperti kata Buya Syafii: “Kalau orang baik diam, maka orang tak baik yang bicara.”

Jadi, saya mohon, Bung Denny, mari angkat suara lebih bulat, dari hulu hingga hilir. Dari sumur minyak sampai sumur tetangga. Dari George Mitchell sampai petani di Wonosobo.

Bila hulu itu awal, maka semoga tulisan ini menyentuh... ulu hati panjenengan.

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

11 Juta PBI BPJS Dihapus, Strategi Politik?

Jumat, 13 Februari 2026 | 06:04

Warga Jateng Tunda Pembayaran Pajak Kendaraan

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:34

Kepemimpinan Bobby Nasution di Sumut Gagal

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:19

Boikot Kurma Israel

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:09

7 Dugaan Kekerasan Berbasis Gender Ditemukan di Lokasi Pengungsian Aceh

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:33

Pengolahan Sampah RDF Dibangun di Paser

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:03

Begal Perampas Handphone Remaja di Palembang Didor Kakinya

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:00

Jokowi Terus Kena Bullying Tanpa Henti

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:34

4 Faktor Jokowi Ngotot Prabowo-Gibran Dua Periode

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:10

Rano Gandeng Pemkab Cianjur Perkuat Ketahanan Pangan Jakarta

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:09

Selengkapnya