Berita

Ilustrasi kursi presiden/RMOL

Publika

Ketika Presiden Menjadi Agen Kejahatan

SENIN, 28 JULI 2025 | 20:57 WIB | OLEH: FIRMAN TENDRY MASENGI*

"Tuan rumah takkan berunding dengan maling." 

UCAPAN legendaris dari salah satu pendiri Indonesia Tan Malaka ini masih terasa gaungnya hingga kini. Praktik kekuasaan di Indonesia yang terus memberi ruang bagi para maling global dan lokal menciptakan kehancuran dan kemiskinan rakyatnya. Penjajahan. 

Ada masa ketika penjajahan datang dari luar. Kini, penjajahan menjelma dalam bentuk kekuasaan internal—dari para pemimpin yang memanipulasi mandat rakyat untuk memperkaya oligarki, merampas sumber daya, dan menyandera demokrasi.


Sejarah memberi banyak contoh. Dari Kiev hingga Jakarta. Indonesia kini berada di tepi jurang yang sama, bersama negara-negara yang terjerembab karena presidennya menjadi agen utama kejahatan ekonomi-politik. Negara tak lagi dijalankan demi rakyat, tetapi demi segelintir elite yang mengisapnya perlahan seperti parasit haus darah.

Di Sri Lanka, Mahinda Rajapaksa memimpin dengan retorika nasionalisme, namun di baliknya ia dan keluarganya menjarah anggaran, memupuk utang luar negeri, dan menjadikan negara itu bangkrut. Di Venezuela, Hugo Chávez mewariskan ekonomi rapuh yang diperdalam oleh Nicolás Maduro melalui korupsi, kontrol harga, dan represi politik.

Di Zimbabwe, Robert Mugabe menghancurkan pertanian lewat kebijakan populis yang justru menjerumuskan jutaan rakyat ke dalam kelaparan. Bahkan Volodymyr Zelensky, yang digadang sebagai simbol perlawanan, justru kini dicurigai menumpang perang untuk mengonsolidasikan kekuasaan, membungkam oposisi, dan mempererat jejaring korupsi militer-sipil.

Indonesia tidak terkecuali. Di bawah dua periode pemerintahan Joko Widodo, rakyat disuguhkan wajah kekuasaan yang mengabdi pada kapitalisme kroni. Bukan hanya soal hilangnya etika dalam nepotisme Gibran, Bobby, dan Kaesang, melainkan soal pembelahan terang antara hukum bagi rakyat dan hukum bagi istana.

Kebijakan strategis seperti food estate, IKN, UU Cipta Kerja, hingga restrukturisasi BUMN hanyalah nama indah untuk proyek perampokan legal terhadap tanah, hutan, dan sumber daya nasional.

Pembangunan dijadikan dalih untuk menyedot dana publik ke kantong swasta yang dekat dengan kekuasaan. Dalam istilah Hannah Arendt, ini bukan lagi administrasi, tetapi “banalitas kejahatan”—di mana kerusakan sistemik disamarkan oleh prosedur birokrasi yang tampak legal.

Naomi Klein menyebut fenomena ini sebagai shock doctrine: saat bencana, ketidakstabilan, atau krisis digunakan sebagai pintu masuk bagi kebijakan neoliberal yang merampas hak rakyat. Pandemi Covid-19, misalnya, dijadikan landasan pengeluaran utang luar negeri tanpa kontrol publik yang memadai.

Sementara rakyat kehilangan pekerjaan, oligarki justru bertambah kaya. Dalam rezim seperti ini, negara bukan pelindung, melainkan agen kapitalisme predator.

Achille Mbembe, tentang Necropolitics mengingatkan bahwa negara dapat berubah menjadi kekuatan yang menentukan siapa yang hidup dan siapa yang boleh mati—secara harfiah maupun struktural.

Lihat saja: kriminalisasi aktivis, kriminalisasi warga adat, pembiaran terhadap kemiskinan struktural, pembungkaman ruang kritik, hingga pasifnya penegakan hukum terhadap dugaan ijazah palsu presiden. Semua itu menunjukkan bahwa kekuasaan kini memproduksi kematian sosial dan politik.

Kita sedang menyaksikan pergeseran fungsi negara. Jika dalam konstitusi negara dibentuk untuk melindungi segenap bangsa, kini negara dikelola untuk melindungi segelintir pemilik modal dan kroni politik. Demokrasi direduksi sekedar pemilu.

Sejatinya negeri ini dicita-citakan menghadirkan demokrasi ekonomi dan demokrasi politik. Dalam pandangan Bung Karno, demokrasi ekonomi berarti bahwa rakyat memiliki kontrol atas alat-alat produksi dan ekonomi negara.

Ini berarti bahwa perusahaan-perusahaan besar harus berada di tangan negara, yang dalam hal ini adalah rakyat, bukan di tangan borjuis atau ningrat.

Tujuan utama dari demokrasi ekonomi adalah untuk menghapuskan penindasan dan penghisapan yang dilakukan oleh kaum kapitalis dan imperialis. Dengan demikian, rakyat dapat menikmati hasil dari perusahaan-perusahaan yang mereka miliki dan kontrol.

Bung Karno menekankan bahwa demokrasi ekonomi tidak dapat dipisahkan dari demokrasi politik. Kedua konsep ini harus berjalan seiring untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Dalam konteks ini, demokrasi politik berarti bahwa rakyat memiliki kekuasaan untuk membuat keputusan dan mengontrol kebijakan negara. 

Dengan demikian, demokrasi ekonomi menurut Bung Karno adalah konsep yang holistik dan bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur, di mana rakyat memiliki kontrol atas ekonomi dan politik negara.

Sementara dalam keseharian, rakyat diabaikan. Lihatlah Indeks Persepsi Korupsi dan Indeks Demokrasi kita yang memburuk tiap tahun. Ini bukan sekadar indikator, tapi cermin bahwa rakyat sedang dikhianati dari dalam.

Peringatan klasik dari Lord Acton —kekuasaan absolut merusak secara absolut. Dan dalam kasus Indonesia hari ini, kekuasaan tidak hanya koruptif, tetapi juga manipulatif dan destruktif. Negara dirampok bukan oleh penjajah asing, tetapi oleh pemimpinnya sendiri, atas nama pembangunan, kemajuan, dan stabilitas.

Rakyat tidak butuh pembangunan yang menindas. Rakyat butuh keadilan yang membebaskan. Negara tidak boleh menjadi pelindung oligarki. Negara harus kembali ke khitahnya: Melayani.

*Penulis adalah Advokat; Aktivis Pro Demokrasi (ProDem)

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya