Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Tarif Ditekan, Petani Lokal Terancam Produk AS

SELASA, 22 JULI 2025 | 22:18 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Petani dalam negeri terancam seiring dengan potensi banjirnya produk impor imbas kesepakatan dagang baru Amerika Serikat (AS) dan Indonesia.

Peneliti Third Work Network (TWN) Lutfiyah Hanim mengatakan bahwa produk pertanian di AS jauh lebih murah, karena pemerintah Donald Trump menggelontorkan subsidi sebesar 20 miliar Dolar AS per tahun atau sekitar Rp325 triliun untuk sektor tersebut.

Besarnya anggaran itu menjadikan produk-produk pertanian AS sangat kompetitif di pasar global, termasuk di Indonesia.


"Dengan subsidi ini, itu akan melimpah produksinya, kalau melimpah dia akan diekspor. Nah, kalau melimpah dia akan menurunkan harga internasional. Ini telah berdampak buruk, dan sudah terbukti," kata Hanim dalam Webinar Publik melalui Zoom Meeting pada Selasa 22 Juli 2025.

Menurutnya, subsidi yang masif ditambah dengan penghapusan tarif impor AS dapat membuat produk pertanian lokal kian tersingkir di pasar domestik.

"Industri pertanian di Amerika itu mendapatkan harga yang lebih murah. Dan ketika diekspor, dia juga lebih kompetitif. Ini yang paling (menekan), dengan tarif sudah tersingkir apalagi tanpa tarif," tambahnya.

Ia mencontohkan dominasi kedelai impor asal Amerika yang membuat petani lokal tak punya ruang bertahan. Meski secara harga selisihnya tipis, konsumen akan lebih memilih kedelai impor karena dinilai lebih murah dan pasokan melimpah.

“Padahal kalau dilihat dari struktur biayanya, kedelai impor itu tidak murni lebih murah. Dia dibantu subsidi besar-besaran, ini harusnya menjadi keprihatinan kita,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa sejak lama, isu pemotongan subsidi pertanian di negara-negara maju telah dibahas dalam perundingan WTO, namun selalu jalan di tempat. 

Negara maju, termasuk AS dan Uni Eropa, tetap mempertahankan dukungan besar terhadap sektor pertanian mereka.

Meski demikian Hanim juga mengingatkan terkait subsidi pertanian AS yang kerap berubah, sesuai musim produk yang diinginkan. 

"Misalnya, tahun-tahun tertentu dia akan memfokuskan pada jagung. Dia mau produksi etanol. Maka, kemudian subsidi untuk kedelai itu diturunkan. Akibatnya, karena di kita, di Indonesia, itu sudah tergantung dengan kedelai impor. Maka, harga kedelai menjadi naik," tandasnya.

Adapun dalam kesepakatan terbaru, Trump mengenakan tarif impor sebesar 19 persen untuk produk ekspor dari Indonesia saat masuk ke pasar AS. Tarif ini lebih rendah dibandingkan beban 32 persen yang sebelumnya diberlakukan oleh Washington.

Namun, sebagai imbalannya AS tidak akan membayar tarif apapun atas akses ke sumber daya Indonesia, termasuk tembaga yang disebut Trump sebagai akses penuh ke RI.

"Kami tidak akan membayar tarif apa pun, mereka memberi kami akses yang sebelumnya tidak pernah kami miliki. Itu mungkin bagian terpenting dari kesepakatan ini. Bagian lainnya, mereka akan membayar 19 persen, sementara kami tidak membayar apa pun," kata Trump.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

DPR Tak Setuju Skema War Tiket Haji Meski Masih Wacana

Minggu, 12 April 2026 | 14:01

PM Carney Tegas Akhiri Ketergantungan Militer Kanada pada AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:52

Pemerintah Tak Perlu Reaktif Respons Usulan JK

Minggu, 12 April 2026 | 13:40

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:34

Pengawasan Kasus Hukum oleh DPR Bukan Intervensi

Minggu, 12 April 2026 | 13:11

Negosiasi 21 Jam Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Minggu, 12 April 2026 | 13:08

Perundingan Damai Iran dan AS Berakhir Tanpa Hasil

Minggu, 12 April 2026 | 12:26

Hasan Nasbi Sebut Pernyataan Saiful Mujani Ajakan Jatuhkan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 | 12:23

Prabowo Harus Singkirkan Menteri Titipan Era Jokowi

Minggu, 12 April 2026 | 12:15

Seluruh Elemen Pemerintahan Jangan Menunda Kepindahan ke IKN

Minggu, 12 April 2026 | 12:01

Selengkapnya