Berita

Martin Luther King Jr./Net

Dunia

Trump Rilis Dokumen Pembunuhan Martin Luther King Jr., Keluarga Bereaksi Keras

SELASA, 22 JULI 2025 | 11:08 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi merilis lebih dari 230.000 halaman dokumen terkait tokoh hak-hak sipil legendaris, Martin Luther King Jr. 

Dokumen tersebut mencakup catatan pengawasan oleh FBI dan memo internal dari berbagai lembaga intelijen yang sebelumnya telah diblokir publikasinya sejak 1977 oleh perintah pengadilan.

Langkah ini menuai reaksi beragam, terutama dari keluarga Martin Luther King Jr. Dua anak mendiang tokoh tersebut, Martin Luther King III dan Bernice King, mengecam rilis dokumen itu, menyebutnya sebagai potensi penyalahgunaan warisan sang ayah.


"Kami meminta mereka yang terlibat dalam perilisan berkas-berkas ini untuk melakukannya dengan empati, pengendalian diri, dan rasa hormat atas duka yang terus dialami keluarga kami," ujar mereka dalam pernyataan resmi, seperti dimuat BBC pada Selasa, 22 Juli 2025.

Mereka juga menegaskan pentingnya konteks historis dalam membaca dokumen-dokumen tersebut.

"Semasa hidup ayah kami, beliau tanpa henti menjadi sasaran kampanye disinformasi dan pengawasan yang invasif, predatoris, dan sangat meresahkan yang diatur oleh J. Edgar Hoover melalui Biro Investigasi Federal," bunyi pernyataan keluarga.

Pernyataan itu menyebut pengawasan tersebut telah merampas martabat dan kebebasan warga negaradari Martin Luther King Jr., dan mengingatkan publik bahwa pada 1999, sebuah juri dalam gugatan perdata menyatakan bahwa pembunuhan King merupakan hasil dari konspirasi besar, bukan hanya aksi tunggal dari seorang pria bersenjata rasis.

Namun, tidak semua anggota keluarga King mengecam langkah tersebut. Alveda King, keponakan Martin Luther King Jr., justru menyambut positif keputusan pemerintah.

"Saya berterima kasih kepada Presiden Trump dan DNI Gabbard atas pemenuhan janji transparansi mereka," ujarnya.

"Sementara kita terus berduka atas kematiannya, deklasifikasi dan penerbitan dokumen-dokumen ini merupakan langkah bersejarah menuju kebenaran yang layak diterima rakyat Amerika," tambahnya. 

Rilis dokumen ini merupakan bagian dari perintah Presiden Trump pada Januari lalu yang menginstruksikan deklasifikasi catatan terkait pembunuhan Martin Luther King Jr., John F. Kennedy, dan Robert F. Kennedy. 

Kantor Direktur Intelijen Nasional (DNI) menyebut dokumen-dokumen itu telah tersimpan berdebu di berbagai fasilitas pemerintah federal selama beberapa dekade, hingga hari ini.

Dalam siaran pers, DNI menyebut bahwa dokumen mencakup memo internal FBI dan catatan CIA yang belum pernah diketahui sebelumnya mengenai penyelidikan terhadap pembunuhan King. 

Proses deklasifikasi ini dikoordinasikan dengan FBI, Departemen Kehakiman, Arsip Nasional, dan CIA.

Jaksa Agung AS Pamela Bondi mengatakan bahwa tindakan ini adalah bagian dari komitmen terhadap kebenaran historis.

"Rakyat Amerika berhak mendapatkan jawaban beberapa dekade setelah pembunuhan mengerikan salah satu pemimpin besar bangsa kita," tegasnya.

Meski begitu, sejumlah pihak melihat rilis ini sebagai taktik politik. Tokoh hak-hak sipil Rev. Al Sharpton menyebutnya sebagai upaya putus asa untuk mengalihkan perhatian dari isu sensitif lain yang membelit Trump.

"Pengungkapan berkas-berkas King adalah upaya untuk mengalihkan perhatian dari badai api yang melanda Trump atas berkas-berkas Epstein dan terbongkarnya kredibilitasnya oleh publik," kata Sharpton.

Seperti diketahui, Donald Trump tengah mendapat sorotan atas transparansi dokumen yang berkaitan dengan Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual berpengaruh yang tewas di penjara pada 2019 dalam kasus yang hingga kini masih menyisakan pertanyaan publik.

Martin Luther King Jr., pendeta Baptis dan simbol perjuangan kesetaraan ras di Amerika, ditembak mati pada 4 April 1968 di Memphis, Tennessee, saat berusia 39 tahun. 

James Earl Ray, seorang kriminal berulang, mengaku bersalah atas pembunuhan tersebut dan dijatuhi hukuman 99 tahun penjara. Namun kemudian ia menarik pengakuannya dan mengklaim telah dijebak oleh konspirator tak dikenal.

Ray sempat kabur ke luar negeri sebelum akhirnya diekstradisi dan dipenjara hingga akhir hayatnya pada 1998. 

Meski pengadilan berulang kali menguatkan pengakuan bersalahnya, misteri seputar siapa sebenarnya di balik pembunuhan King terus menjadi bahan investigasi dan perdebatan, termasuk dalam dokumen yang baru saja dirilis ini.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Bawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu

Jumat, 04 September 2026 | 04:41

Dihadiri Kapolri, Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional PUI 2026 Bidik Kaderisasi Pemuda

Jumat, 04 September 2026 | 04:14

Jangan Sampai Indonesia jadi Jalur Lalu Lintas Narkoba Internasional!

Jumat, 04 September 2026 | 03:59

PTUN Jakarta Kukuhkan PERKAPI sebagai Organisasi Kurator yang Sah

Jumat, 04 September 2026 | 03:39

PBB Perkuat Regenerasi dan Siapkan Kader Muda Rebut Kursi Parlemen 2029

Jumat, 04 September 2026 | 03:19

TNI Perkuat Pendidikan Siswa SMP di Papua Selatan

Jumat, 04 September 2026 | 02:52

Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Kepala BGN Mengaku Terpukul dan Drop

Jumat, 04 September 2026 | 02:26

Harga Pertamax Tidak Naik, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jumat, 04 September 2026 | 01:48

Kuasa Hukum Bantah Febrie Terima Rp40 Miliar dari Pengusaha Tan Kian

Jumat, 04 September 2026 | 01:20

Penjelasan Kepala BGN soal Kasus Keracunan MBG Berulang Bikin Syok

Jumat, 04 September 2026 | 00:59

Selengkapnya