Berita

Al-Qur’an/Ist

Publika

Pesantren Digital

SENIN, 21 JULI 2025 | 06:15 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

SAYA baru saja pulang dari kongkow maraton ala pesantren. Bertempat di ruang tamu kampus D Pesantren al-Ittifaqiah Indralaya, sebuah pesantren raksasa yang menampung hampir sepuluh ribu santri,  rapat lesehan itu dipimpin langsung oleh pengasuh utama, Kiai Mudrik Qori.

Bayangkan: malam-malam, di pesantren yang orientasinya al-Qur’an minded, para ustaz malah membahas chip, coding, cloud, cluster. Dan juga, yang paling mencengangkan, diskusi rencana merakit laptop santri. Juga, mengganti akses internet pakai satelit.

Kiai Mudrik, dengan gaya khas yang tegas sekaligus santai, menyatakan bahwa kita harus melampaui sekadar “IT”. “Tambahkan satu huruf D,” katanya. “Jadilah ITD. Ittifaqiah Ter-Digitalisasi.” Bukan, tapi IT Digital di al-Ittifaqiah.


Maka sah-lah sudah bahwa Ittifaqiah sedang bersiap menuju era Pesantren Digital, sebuah tempat di mana kitab kuning bertemu chipset, dan matan Alfiyah berdampingan dengan machine learning. Ini betulan. Di sana sudah ada dua server pakai kartu grafis Nvidia.

Dan bukan hanya wacana. Ittifaqiah sudah melangkah lebih jauh. Bayangkan: sebuah aplikasi web pusat sumber belajar digital yang memuat hampir 37.000 kitab, hasil kerja keras tim ITD. Ini bukan koleksi sembarang epub, tapi koleksi yang terstruktur.

Pustaka itu berbahasa Arab semua, meliputi karya hampir 6.000 ulama lintas zaman sejak awal abad Hijriyah. Khazanah ini mencakup lebih 19 juta halaman digital. Ya, 19 juta halaman, bukan huruf. Salah satu kitabnya, tafsir dan ulumul Qur’an, memuat lebih dari sejuta halaman.

Dilengkapi fasilitas browsing antar kitab, dari satu judul ke judul lain, dari satu pengarang ke pengarang lain, dari satu kategori ke kategori lain, dan tak lagi “kuning”, karena kini kitab-kitab itu bisa tampil full color sesuai warna-warni layar monitor.

Bahkan, tersedia dua sistem pencarian: tradisional berbasis kata kunci, dan AI-semantic search yang bisa memahami konteks makna, bukan sekadar mencocokkan huruf. Yang terakhir ini sedang dalam proses pengindeksan ke dalam database vektor.

Ini saja sudah merupakan satu langkah radikal. Puluhan ribu kitab gundul yang biasanya hanya bisa dibaca dengan khusyuk melalui lembaran-lembaran kertas koras, kini bisa ditelusuri layaknya Wikipedia ulama salaf versi pesantren.

Kembali ke kongkow di rapat malam itu. Salah seorang ustadz menyampaikan, “Kita harus sesuaikan pembelajaran IT dengan Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka!” Langsung dibacakan dokumen panjang yang bahkan printer-nya sempat kelelahan.

Saya teringat artikel dari Dr. Wijaya Kusumah, Sekjen IGTIK PGRI. Ia menulis bahwa Capaian Pembelajaran alias CP Informatika terbaru kini mencakup berpikir komputasional, koding dasar, etika digital, hingga representasi data.

Jika diterapkan sepenuhnya di pesantren, saya membayangkan akan ada pertanyaan begini di kelas, “Siapa yang tahu algoritma istinbat hukum dari Imam Syafi’i? Dan tolong visualisasikan dalam flowchart.” Lalu, setiap santri memainkan jari-jari mungil mereka di laptop rakitan.

Santri yang dulunya ditugasi menulis ulang kitab dengan tinta dengan sangat hati-hati, kini siap diarahkan merakit laptop dan menulis program aplikasi. Proyek pembelajaran berbasis masalah (project-based learning) menjadi metode unggulan.

Setiap santri baru kini sudah diasesmen dengan metode Multiple Intelligence dari Howard Gardner. Tiap santri belajar sesuai bakatnya. Maka jangan heran jika nanti santri nulis aplikasi “Tafsir Tadabbur Interaktif Berbasis Python” atau “Fiqh 4 Mazhab dalam Format JSON”.

Namun tetap harus diingat: digitalisasi bukan berarti dehumanisasi. Di pesantren, etika dan akhlak selalu lebih penting dari kecepatan internet. Maka CP Informatika harus melatih santri untuk tidak hanya tahu cara menghapus cache, tetapi juga cara menghapus prasangka.

CP terbaru menuntut guru-guru terus belajar dan beradaptasi. Namun ini bukan perkara mudah. Banyak guru IT di pesantren masih berjuang dengan masalah dasar: dari login ke akun email, hingga menjelaskan cloud tanpa mengira itu awan betulan.

Maka investasi digital harus dimulai dari peningkatan kapasitas guru, bukan hanya pengadaan perangkat. Karena itu, transformasi digital seperti di Ittifaqiah harus disertai pendampingan, bukan cuma pengadaan. Harus ada kurikulum mutu, bukan cuma kurikulum baru.

Walhasil, digitalisasi pesantren adalah jalan panjang dan sunyi. Tapi bukan mustahil. Dengan sumber daya yang ada, dan visi seperti yang dijalankan di Ittifaqiah, kita bisa membayangkan masa depan pendidikan pesantren yang maju dan modern.

Bolehlah kita mengangankan pesantren yang berbasis kitab dan cloud, berakar pada nilai dan berorientasi pada teknologi. Pesantren demikian diharapkan mampu melahirkan generasi santri yang tak hanya melek teks, tapi juga melek data.

Maka biarlah malam itu menjadi saksi bahwa kitab kuning dan motherboard bisa berdampingan, bahwa nash-nash klasik dan AI bisa saling memperkuat. Guru kini tak lagi berjalan sendirian, tapi dapat didampingi model-model LLM lokal pilihan.

Di tangan para santri dan kiai yang visioner, kitab suci al-Qur’an dan Quantum bukan dua kutub yang saling menegasikan, tapi dua sisi dari satu tujuan: mencetak insan kamil yang siap menyalakan dunia dengan cahaya ilmu dan iman.

Di luar, embun mulai turun perlahan. Tapi saya yakin, dari Ittifaqiah yang basah oleh gerimis dan semangat ini, akan lahir gelombang perubahan di dunia pesantren. Kita mungkin masih pakai sandal jepit, tapi langkah kita sudah menginjak masa depan.

Penulis adalah Wartawan Senior



Populer

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

UPDATE

Forum IPEM 2026 Momentum Penting Perkuat Diplomasi Energi

Kamis, 19 Maret 2026 | 00:08

Polres Metro Tangerang Kota Ungkap 14 Kasus Curas Sepanjang Ramadan

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:45

Negara Bisa Menjadi Totaliter Lewat Teror dan Teknologi

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:28

Pengungkapan Pelaku Teror Air Keras Bukti Ketegasan Prabowo

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:10

YLBHI: Ada Pola Teror Berulang terhadap Aktivis hingga Jurnalis

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:51

Observatorium Bosscha: Hilal 1 Syawal Tipis di Ufuk Barat

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:32

TNI-Polri Harus Kompak Bongkar Teror Air Keras Aktivis KontraS

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:10

Umat Hindu Semarang Gelar Tawur Agung Kesanga Sambut Nyepi Saka 1948

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:56

YLBHI Minta Kasus Air Keras Andrie KontraS Disidang di Peradilan Umum

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:40

Kinerja Cepat Polri Ungkap Kasus Penyiraman Air Keras Tuai Apresiasi

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:11

Selengkapnya